KENDAL,RadarBangsa.co.id – Tidak ada lagi suara anak-anak bermain, obrolan tetangga di teras rumah, ataupun aktivitas warga yang dahulu menghidupkan suasana kampung di RT 05 RW 01 Kelurahan Balok, Kecamatan Kendal, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.
Yang tersisa kini hanya deru angin pesisir, genangan air rob, dan Siti Rokhanah (65), perempuan lanjut usia yang menjadi penghuni terakhir di kawasan tersebut.
Di saat warga lain memilih meninggalkan kampung karena banjir rob yang semakin parah, Siti memutuskan tetap tinggal di rumah yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya selama bertahun-tahun.
“Kalau dulu di sini masih ramai, ada beberapa rumah di sekitar. Sekarang tinggal saya sendiri karena yang lain sudah pindah atau meninggal,” ujarnya, Selasa (16/6/2026).
Perubahan itu berlangsung perlahan. Air laut yang terus naik dari tahun ke tahun menggenangi jalan, pekarangan, hingga rumah-rumah warga. Satu per satu keluarga memilih pindah ke tempat yang lebih aman. Sebagian lainnya kehilangan rumah akibat bangunan yang ambruk diterjang rob.
Kini, rumah Siti berdiri sendirian di tengah kawasan yang nyaris kosong. Untuk mencapai lokasi tersebut, pengunjung harus berjalan melewati genangan rob setinggi lutut orang dewasa. Jalan kampung yang dahulu menjadi akses utama warga hampir tak lagi terlihat karena tertutup air.
Di sepanjang perjalanan menuju rumahnya, tampak bangunan-bangunan yang telah menjadi reruntuhan. Dinding yang roboh dan pondasi yang rusak menjadi jejak bisu kampung yang perlahan tenggelam.
Meski hidup dalam keterasingan, Siti tetap menjalani rutinitas sehari-hari. Rumahnya sudah tidak lagi dialiri listrik. Saat malam tiba, cahaya lampu templok menjadi teman setia yang menerangi rumah sederhana itu.
Keterbatasan juga dirasakan saat memenuhi kebutuhan air bersih. Siti harus berjalan hampir tiga kilometer menuju permukiman terdekat untuk mendapatkan air yang layak digunakan.
“Saya sudah terbiasa, yang penting hati-hati kalau berjalan karena sekarang batas jalan dan tambak sudah sulit terlihat,” ujarnya.
Perempuan berusia 65 tahun itu mengaku tidak memiliki banyak pilihan. Bersama anaknya, Sesdri Atmoko, ia bertahan dengan penghasilan yang diperoleh dari bekerja sebagai buruh harian lepas di tambak sekitar rumah.
Kondisi ekonomi yang terbatas membuat keinginan untuk pindah masih sulit diwujudkan. Sementara itu, rob terus datang tanpa mengenal musim.
“Saya juga tidak tahu sampai kapan tinggal di sini. Kalau pindah belum punya biaya, mau ikut saudara juga tidak memungkinkan,” ungkapnya.
Bagi sebagian orang, kampung itu mungkin telah lama ditinggalkan. Namun bagi Siti, tempat tersebut masih menjadi rumah yang menyimpan kenangan tentang tetangga, keluarga, dan kehidupan yang pernah tumbuh di sana.
Di tengah genangan rob yang tak kunjung surut, ia tetap bertahan. Menjalani hari demi hari dalam kesunyian, sembari menyaksikan kampungnya perlahan hilang ditelan air laut.
Penulis : Rob
Editor : Arifin Zaenul


















Komentar