Muktamar NU ke-35 dan Tantangan Gen Z Menjaga Marwah, Memperluas Khidmah

Kamis, 27 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota DPD RI asal Jawa Timur Dr. Lia Istifhama atau Ning Lia dalam pembahasan Muktamar NU ke-35 di Jombang (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

Anggota DPD RI asal Jawa Timur Dr. Lia Istifhama atau Ning Lia dalam pembahasan Muktamar NU ke-35 di Jombang (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

JOMBANG, RadarBangsa.co.id — Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang menjadi momentum untuk memperkuat kembali nilai, tradisi, sekaligus memperluas ruang pengabdian NU di tengah perubahan zaman. Tema “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa” dinilai memiliki relevansi kuat dengan peran Generasi Z sebagai penerus organisasi dan bangsa.

Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama atau Ning Lia, menilai keterlibatan generasi muda tidak cukup hanya ditempatkan sebagai bagian dari kaderisasi. Generasi Z perlu diberi ruang untuk mengembangkan nilai-nilai NU melalui pendekatan yang sesuai dengan karakter dan tantangan zamannya.

“Menjaga marwah berarti menjaga nilai, adab dan jati diri. Sedangkan memperkaya khidmah berarti berani mencari cara-cara baru agar pengabdian tetap relevan. Di sinilah Gen Z memiliki peran yang sangat penting,” ujar Ning Lia.

Menurutnya, menjaga marwah NU tidak berarti mempertahankan seluruh aktivitas dengan cara lama. Nilai-nilai utama organisasi justru harus tetap hidup ketika masyarakat memasuki ruang sosial yang semakin dipengaruhi teknologi digital.

“Tradisi harus menjadi akar, bukan belenggu. Kita boleh menggunakan teknologi, masuk ke ruang digital, mengembangkan ekonomi kreatif dan membangun inovasi, tetapi nilai adab, toleransi, gotong royong dan cinta Tanah Air tidak boleh hilang,” katanya.

Generasi Z dinilai memiliki kedekatan kuat dengan teknologi dan ruang digital. Kondisi tersebut membuat mereka memiliki peluang besar untuk mengambil bagian dalam penyebaran informasi, pendidikan publik hingga penguatan nilai kebangsaan.

Bagi Ning Lia, konsep khidmah juga perlu diperluas mengikuti perubahan ruang kehidupan masyarakat. Pengabdian tidak hanya berlangsung melalui pesantren, masjid atau kegiatan sosial, tetapi juga dapat dilakukan melalui berbagai aktivitas produktif di dunia digital.

“Kalau dahulu khidmah banyak dilakukan melalui pesantren, masjid dan kegiatan sosial, hari ini khidmah juga bisa dilakukan melalui media digital. Membuat konten edukatif, melawan hoaks, menjaga persatuan, membangun usaha, menciptakan lapangan kerja dan mengedukasi masyarakat juga merupakan bentuk khidmah,” ujarnya.

Ia melihat Gen Z memiliki modal berupa kreativitas, kecepatan dan keberanian dalam menghadapi perubahan. Sementara NU memiliki tradisi keilmuan, pengalaman organisasi dan nilai yang telah berkembang dalam perjalanan panjangnya.

Pertemuan dua kekuatan tersebut, menurut Ning Lia, dapat menjadi modal penting untuk memperkuat keberlanjutan NU sekaligus menyiapkan generasi penerus bangsa.

“Gen Z memiliki kecepatan, kreativitas dan keberanian. NU memiliki pengalaman, tradisi keilmuan dan nilai yang telah teruji. Kalau kekuatan ini dipertemukan, kita tidak hanya sedang menyiapkan generasi penerus NU, tetapi sedang menyiapkan generasi penerus bangsa,” ungkapnya.

Jombang memiliki posisi penting dalam pembahasan tersebut karena dikenal sebagai salah satu kawasan yang memiliki sejarah panjang pesantren dan NU. Momentum Muktamar NU ke-35 dinilai dapat menjadi ruang untuk mempertemukan kekuatan tradisi dengan kebutuhan generasi masa kini.

Karena itu, generasi muda perlu ditempatkan sebagai subjek perubahan, bukan sekadar penerima nilai yang diwariskan generasi sebelumnya.

“Jangan hanya mewariskan NU kepada Gen Z. Wariskan nilai-nilainya, berikan mereka ruang untuk berkreasi, lalu biarkan mereka membawa NU dengan cara yang sesuai zamannya. Dengan begitu, marwah tetap terjaga dan khidmah justru semakin kaya,” tegas Ning Lia.

Pandangan tersebut menempatkan tema Muktamar NU ke-35 bukan hanya sebagai pesan internal organisasi, tetapi juga sebagai refleksi mengenai keberlanjutan peran NU di tengah perubahan sosial.

Marwah menjadi fondasi nilai dan identitas, sedangkan khidmah menjadi ruang untuk menerjemahkan nilai tersebut dalam kehidupan masyarakat. Generasi Z dapat menjadi penghubung antara keduanya melalui kreativitas dan pendekatan baru.

Dari Jombang, gagasan tersebut menegaskan bahwa menjaga tradisi tidak harus berlawanan dengan perubahan. Justru dengan fondasi nilai yang kuat dan ruang yang lebih luas bagi generasi muda, khidmah NU dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat serta bangsa.

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Dua Tahun Prabowo: Antara Negara Kuat dan Pemerintahan Efektif
Kaum Progreaif bisa Rubah Ideologi AS ke Komunis
Gus Kikin Pimpin NU, Ning Lia Menangkap Pesan Besar dari Tambakberas
Polres Kendal Persilakan Ojol Mangkal di Polsek Saat Bekerja
Senator Cantik Anggota DPD RI Lia Istifhama Apresiasi Dzikir dan Sholawat 81 Tahun RI di Grahadi
Grand Opening PT Konsultan Manunggal Sejati, Hadirkan Layanan Perizinan Konstruksi dan Industri di Kendal
Di Kampung Sepi, Wanita Lanjut Usia Bertahan, Tetangga Satu per Satu Pergi
Polres Lamongan Kencangkan Pengawasan Casis Polri lewat QR Yanduan

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 18:34

Dua Tahun Prabowo: Antara Negara Kuat dan Pemerintahan Efektif

Kamis, 3 September 2026 - 19:34

Kaum Progreaif bisa Rubah Ideologi AS ke Komunis

Selasa, 1 September 2026 - 23:33

Gus Kikin Pimpin NU, Ning Lia Menangkap Pesan Besar dari Tambakberas

Kamis, 27 Agustus 2026 - 12:10

Muktamar NU ke-35 dan Tantangan Gen Z Menjaga Marwah, Memperluas Khidmah

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 20:27

Polres Kendal Persilakan Ojol Mangkal di Polsek Saat Bekerja

Berita Terbaru