MANGGARAI, RadarBangsa.co.id – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendorong optimalisasi pendampingan psikososial dan layanan kesehatan bagi warga terdampak gempa bumi di Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), terutama kelompok rentan seperti lansia yang masih berada di lokasi pengungsian.
Hal itu disampaikan Khofifah saat menyerahkan bantuan kemanusiaan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan CSR di SD Inpres Robo, Desa Ranaka, Kecamatan Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai, Minggu (23/8).
Menurut Khofifah, kebutuhan warga terdampak bencana tidak hanya sebatas bantuan logistik. Pendampingan psikososial dan layanan kesehatan juga diperlukan untuk membantu kelompok rentan menghadapi situasi pascabencana.
“Bukan hanya kebutuhan logistik yang harus kita pikirkan. Layanan kesehatan dan pendampingan psikososial juga penting, terutama untuk kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia,” kata Khofifah.
Pemprov Jatim telah mengirimkan tim Layanan Dukungan Psikososial (LDP) sebanyak lima orang. Tim tersebut telah berada di lokasi selama tiga hari untuk memberikan pendampingan kepada warga terdampak, khususnya anak-anak dan lansia.
“Kami mengirim tim LDP, Layanan Dukungan Psikososial. Tim LDP ini ada 5 orang yang sudah 3 hari berada di sini. Ini tim trauma healing. Yang bisa kita lakukan adalah memberikan penguatan kepada anak-anak, bapak-ibu dan lansia. Mereka membutuhkan waktu untuk mendapatkan pendampingan, konseling dan trauma healing,” ujarnya.
Khusus bagi lansia, pendampingan dilakukan untuk membantu menenangkan perasaan, mengurangi kepanikan dan meredakan dampak stres setelah mengalami bencana. Tim juga menerapkan teknik defusing dan debriefing sebagai bagian dari pendampingan guna mencegah munculnya secondary trauma atau trauma lanjutan.
Pendekatan tersebut dilakukan dengan memberikan ruang kepada lansia untuk menceritakan pengalaman yang mereka alami sekaligus membantu mengelola rasa takut dan kepanikan setelah gempa.
Khofifah menegaskan pendampingan psikososial tidak cukup dilakukan hanya dalam satu kali pertemuan. Selama warga masih berada dalam situasi bencana dan pengungsian, dukungan tersebut perlu terus diberikan.
“Prosesnya tidak cukup hanya sekali. Penguatan, konseling dan trauma healing ini membutuhkan waktu. Karena itu, selama masih dalam situasi bencana dan pengungsian, pendampingan perlu terus dilakukan agar anak-anak, bapak-ibu dan lansia bisa kembali kuat,” katanya.
Selain dukungan psikososial, Khofifah juga memastikan lansia di pengungsian tetap mendapatkan layanan kesehatan. Pemprov Jatim sebelumnya telah mengirimkan tujuh dokter ortopedi serta 10 dokter dan perawat untuk membantu pelayanan kesehatan di RSUD Ruteng.
Sebanyak 14 jenis obat-obatan yang dibutuhkan warga di pengungsian juga dikirim untuk mendukung penanganan kesehatan di lapangan.
“Untuk para lansia, mereka membutuhkan perhatian dan pendampingan. Kita berharap layanan kesehatan bisa berjalan dengan baik sehingga mereka merasa lebih aman dan tidak sendiri dalam menghadapi situasi ini,” katanya.
Khofifah menyebut penanganan warga terdampak membutuhkan gotong royong berbagai pihak. Pemerintah, tenaga kesehatan, relawan, dunia usaha dan masyarakat dapat mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing untuk membantu proses pemulihan.
“Kita semua bersaudara. Mudah-mudahan yang sakit segera sembuh dan seluruh warga diberikan kekuatan. Yang penting sekarang bagaimana kita bersama-sama memberikan penguatan agar mereka tidak merasa sendiri dalam menghadapi ujian ini,” kata Khofifah.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar