SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyerahkan secara simbolis truk yang telah dinormalisasi dimensinya kepada perwakilan sopir di halaman Kantor Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jawa Timur, Jumat (6/3). Langkah ini menjadi bagian dari percepatan penanganan kendaraan Over Dimension Over Load (ODOL) sekaligus mendukung target nasional Zero ODOL pada 2027.
Penyerahan tersebut merupakan tindak lanjut program pemerintah pusat yang dikoordinasikan Kementerian Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan untuk menertibkan kendaraan angkutan barang yang melebihi batas dimensi dan muatan. Program ini juga diharapkan meningkatkan keselamatan lalu lintas serta menjaga kualitas infrastruktur jalan.
Gubernur Khofifah menegaskan bahwa normalisasi dimensi kendaraan merupakan langkah strategis dalam membangun sistem transportasi yang lebih tertib dan berkelanjutan. Menurutnya, kendaraan ODOL tidak hanya melanggar regulasi, tetapi juga berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan serta mempercepat kerusakan jalan.
“Apa yang kita lakukan hari ini merupakan bagian dari ikhtiar bersama dalam normalisasi kendaraan ODOL. Insyaallah jika kita bergerak bersama, Jawa Timur bisa mencapai Zero ODOL pada 2027,” ujar Khofifah.
Dalam kesempatan itu, Khofifah menjelaskan bahwa Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Jawa Timur telah melakukan pengukuran terhadap ratusan kendaraan milik anggota Gerakan Sopir Jawa Timur (GSJT). Dari total kendaraan yang diperiksa, sebagian besar memerlukan penyesuaian dimensi sesuai standar teknis.
Berdasarkan data pengukuran BPTD Jawa Timur, terdapat 209 unit kendaraan yang telah diperiksa. Dari jumlah tersebut, 160 unit kendaraan wajib menjalani proses normalisasi dimensi agar sesuai dengan spesifikasi teknis kendaraan angkutan barang yang berlaku.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur, lanjut Khofifah, turut memfasilitasi proses normalisasi tersebut secara bertahap. Dukungan diberikan dalam bentuk pembiayaan pemotongan dimensi kendaraan, terutama bagi pemilik kendaraan perorangan yang juga berprofesi sebagai sopir dan memiliki keterbatasan biaya untuk melakukan normalisasi secara mandiri.
“Proses normalisasi difasilitasi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur, termasuk dukungan pembiayaan pemotongan dimensi kendaraan bagi pemilik kendaraan perorangan yang membutuhkan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa kebijakan ini diharapkan mampu mendorong partisipasi lebih luas dari pelaku usaha transportasi dan komunitas pengemudi agar menyesuaikan dimensi kendaraan sesuai ketentuan yang berlaku.
Selain berdampak pada keselamatan, kendaraan ODOL juga memiliki konsekuensi besar terhadap kondisi infrastruktur jalan. Beban berlebih pada kendaraan angkutan barang diketahui menjadi salah satu faktor utama kerusakan jalan yang memerlukan biaya perbaikan tinggi dari anggaran negara.
Menurut Khofifah, kerusakan jalan akibat kendaraan ODOL dapat mengganggu kelancaran distribusi logistik nasional dan menurunkan efektivitas berbagai program pemerintah, termasuk Rencana Aksi Keselamatan (RAK) di sektor transportasi.
“Di tengah penguatan logistik nasional, kendaraan ODOL justru bisa menjadi penghambat. Kerusakan jalan akibat beban berlebih akan mempengaruhi efektivitas distribusi dan keselamatan,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Khofifah juga menyampaikan apresiasi kepada Gerakan Sopir Jawa Timur (GSJT) yang dinilai menunjukkan komitmen kuat dalam mendukung normalisasi kendaraan. Ia juga memberikan penghargaan kepada perusahaan karoseri CV Sumber Karya Abadi yang turut berperan dalam proses penyesuaian dimensi kendaraan.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha transportasi, komunitas sopir, serta pemangku kepentingan lainnya menjadi kunci penting dalam membangun tata kelola transportasi jalan yang lebih aman dan berkelanjutan di Jawa Timur.
“Sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, komunitas pengemudi, serta berbagai pemangku kepentingan merupakan modal penting untuk mewujudkan transportasi jalan yang tertib, aman, dan berkelanjutan,” ujar Khofifah.
Di akhir kegiatan, ia mengajak seluruh pihak untuk terus melanjutkan proses normalisasi terhadap kendaraan yang masih masuk kategori ODOL sehingga target Zero ODOL 2027 di Jawa Timur dapat tercapai.
“Sekali lagi terima kasih. Mari kita teruskan normalisasi kendaraan yang masih kategori ODOL. Dengan kekuatan bersama, Insyaallah kita bisa mencapai Zero ODOL 2027 di Jawa Timur,” pungkasnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar