JEMBER, RadarBangsa.co.id – Pemerintah Kabupaten Jember menyiapkan pola intervensi kemiskinan berdasarkan karakteristik kelompok sasaran. Strategi tersebut disampaikan Bupati Jember Muhammad Fawait dalam Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Jember, Senin (7/9/2026), saat menyampaikan jawaban atas pandangan umum fraksi-fraksi terhadap Raperda Perubahan APBD Tahun Anggaran 2026.
Dalam pemaparan tersebut, Gus Fawait menegaskan bahwa belanja daerah harus mampu menciptakan efek berantai bagi perekonomian masyarakat. Penggunaan anggaran tidak diarahkan hanya untuk satu sektor, tetapi harus memberikan dampak yang lebih luas sekaligus tetap sejalan dengan agenda prioritas pemerintah pusat.
Menurut Gus Fawait, ketepatan sasaran program pengentasan kemiskinan sangat ditentukan oleh kualitas data yang menjadi dasar intervensi. Karena itu, Pemkab Jember melakukan verifikasi terhadap kelompok desil 1 dengan melibatkan aparatur sipil negara (ASN) dan mahasiswa KKN Kolaboratif.
Verifikasi tersebut menghasilkan pemutakhiran data kemiskinan. Puluhan ribu data warga miskin yang tercatat telah meninggal dunia dihapus dari basis data sehingga pemerintah memiliki data yang lebih sesuai dengan kondisi lapangan.
Setelah proses pemutakhiran, Pemkab Jember membagi sasaran penanganan kemiskinan ke dalam dua kelompok utama, yakni warga usia produktif dan kelompok usia nonproduktif.
Untuk warga usia produktif, intervensi diarahkan pada peningkatan kemampuan ekonomi melalui pelatihan kerja serta stimulasi bantuan wirausaha. Skema tersebut ditujukan agar kelompok usia produktif memiliki kemampuan untuk memperoleh penghasilan dan membangun kemandirian ekonomi.
Adapun warga usia nonproduktif, khususnya lansia berusia 60 tahun ke atas, mendapatkan pendekatan berbeda. Kelompok ini diarahkan memperoleh bantuan sosial murni serta pemenuhan kebutuhan fisik pokok secara langsung.
Strategi penanganan kemiskinan juga ditempatkan dalam agenda pembangunan jangka menengah dan panjang. Pada jangka menengah, Pemkab Jember memprioritaskan pembangunan infrastruktur publik yang dinilai mendesak, antara lain penerangan jalan umum, revitalisasi pasar rakyat, serta pembenahan fasilitas rumah sakit.
Sementara untuk jangka panjang, pemerintah daerah mengarahkan investasi pada pembangunan sumber daya manusia. Program tersebut mencakup pemberian beasiswa pendidikan dan pembangunan sarana sekolah yang ditargetkan memberikan dampak dalam rentang lima hingga 10 tahun mendatang.
“Berkat kolaborasi yang kuat, angka kemiskinan absolut di Kabupaten Jember tercatat terus menurun dan ditargetkan mengalami penurunan signifikan dalam lima tahun ke depan. Pemerintah daerah optimis sinergi bersama DPRD serta program pendukung seperti homecare dapat mempercepat pengentasan kemiskinan secara berkelanjutan,” ujar Gus Fawait.
Pemaparan tersebut disampaikan dalam agenda jawaban bupati atas pandangan umum fraksi-fraksi DPRD terhadap Raperda Perubahan APBD 2026. Respons Gus Fawait terhadap masukan legislatif dilakukan secara interaktif dengan tujuan menyelaraskan program dan kebijakan antara pemerintah daerah dan DPRD.
Dengan skema intervensi yang dibedakan berdasarkan kelompok sasaran, Pemkab Jember menempatkan validasi data, pemberdayaan usia produktif, perlindungan lansia, pembangunan infrastruktur, serta investasi pendidikan sebagai bagian dari strategi penanganan kemiskinan.
Penulis : Herry
Editor : Zainul Arifin


















Komentar