LAMONGAN, RadarBangsa.co.id — Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di Kabupaten Lamongan berlangsung berbeda. Tak ada aksi turun ke jalan atau demonstrasi, ratusan buruh justru memilih refleksi dengan menonton film Marsinah: Cry Justice sebagai pengingat bahwa perjuangan hak pekerja pernah dibayar mahal dengan nyawa.
Kegiatan yang digelar Dewan Pimpinan Cabang Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (DPC-Sarbumusi) Lamongan itu berlangsung di halaman Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Lamongan, Kamis (30/4/2026) malam. Hadir dalam kegiatan itu jajaran Forkopimda, tokoh agama, mahasiswa, aktivis, hingga ratusan anggota serikat buruh.
Momentum ini dinilai penting karena isu ketenagakerjaan masih menjadi perhatian publik, terutama soal upah layak, jaminan kerja, dan perlindungan hak buruh di tengah tantangan ekonomi dan keberlangsungan industri.
Ketua DPC-Sarbumusi Lamongan, Nihrul Bahi Alhaidar, mengatakan perjuangan buruh saat ini memasuki fase baru yang lebih strategis. Menurutnya, advokasi tidak selalu harus dilakukan lewat demonstrasi, tetapi juga melalui penguatan kesadaran kolektif dan pendidikan sejarah perjuangan buruh.
“Malam ini kita menayangkan kembali kisah Marsinah agar kader muda tidak lupa akar perjuangan. Marsinah bukan sekadar simbol perlawanan, tetapi kini pahlawan nasional yang menegaskan bahwa memperjuangkan hak pekerja adalah bagian dari tugas negara,” kata Nihrul.
Ia menilai penetapan Marsinah sebagai Pahlawan Nasional pada akhir 2025 menjadi titik penting dalam pengakuan negara terhadap sejarah perjuangan buruh Indonesia.
Bagi pekerja, penguatan memori kolektif ini dinilai berdampak langsung pada kesadaran hak-hak normatif, mulai dari upah minimum, keselamatan kerja, hingga perlindungan sosial. Kesadaran itu menjadi fondasi untuk mendorong hubungan industrial yang sehat antara pekerja dan perusahaan.
Ketua PCNU Lamongan, KH Syahrul Munir, menegaskan bahwa memperjuangkan hak buruh adalah bagian dari menjaga martabat bangsa. Ia mengingatkan bahwa keadilan sosial harus menjadi fondasi utama pembangunan ekonomi.
“Sejahtera tanpa keadilan hanya kepalsuan. Membela buruh berarti menjaga kehormatan bangsa, karena buruh adalah tulang punggung ekonomi,” tegasnya.
Film Marsinah sendiri mengangkat tragedi tahun 1993, saat buruh perempuan asal Nganjuk itu terbunuh setelah memperjuangkan kenaikan upah Rp1.700. Peristiwa itu menjadi salah satu catatan kelam sejarah ketenagakerjaan Indonesia.
May Day di Lamongan tahun ini menjadi pesan bahwa perjuangan buruh tidak boleh berhenti pada seremoni tahunan. Pemerintah, dunia usaha, dan pekerja dituntut membangun sistem kerja yang adil agar kesejahteraan buruh tidak lagi dibayar dengan pengorbanan besar.
“May Day bukan sekadar libur. Ini momentum mengingat bahwa setiap hak pekerja hari ini lahir dari perjuangan panjang,” pungkas Nihrul.
Lainnya:
- Hari Kebebasan Pers Sedunia, SMSI Tegaskan Hak Dirikan Media Dijamin Konstitusi
- Menteri PKP Turun ke Bangkalan, 573 Rumah Warga Siap Dibedah Tahun Ini
- Di Tengah Konflik Dunia, Khofifah Serukan Perdamaian dari Surabaya Saat Nyepi 1948
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin








