Di Tengah Konflik Dunia, Khofifah Serukan Perdamaian dari Surabaya Saat Nyepi 1948

Minggu, 3 Mei 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menghadiri Dharma Shanti Nyepi 1948 di Pura Segara Kenjeran Surabaya, Minggu (3/5/2026). (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menghadiri Dharma Shanti Nyepi 1948 di Pura Segara Kenjeran Surabaya, Minggu (3/5/2026). (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Di tengah meningkatnya ketegangan global dan konflik antarnegara, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyerukan penguatan nilai perdamaian dan toleransi dari level daerah. Seruan ini disampaikan saat menghadiri Dharma Shanti Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948 di Pura Segara Kenjeran, Surabaya, Minggu (3/5/2026), yang diikuti sekitar 5.000 umat Hindu dari berbagai wilayah di Jawa Timur.

Momentum keagamaan ini tidak hanya menjadi perayaan spiritual, tetapi juga ruang refleksi publik tentang pentingnya menjaga harmoni sosial di tengah tantangan global yang berdampak hingga ke tingkat lokal, termasuk stabilitas sosial, ekonomi, dan kehidupan antarumat beragama.

Khofifah menilai tema “Vasudhaiva Kutumbakam: Satu Bumi, Satu Keluarga” relevan dengan kondisi dunia saat ini yang masih diwarnai konflik dan polarisasi. Ia menegaskan bahwa nilai persaudaraan universal harus menjadi fondasi kebijakan sosial dan kehidupan masyarakat.

“Dunia hari ini sedang tidak baik-baik saja. Maka kita perlu terus menumbuhkan kesadaran bahwa manusia adalah satu keluarga besar yang harus saling menjaga dan menebar kasih,” ujar Khofifah.

Menurutnya, menjaga perdamaian bukan hanya tugas negara atau lembaga internasional, tetapi juga tanggung jawab masyarakat di daerah. Ia menekankan bahwa stabilitas daerah yang terjaga akan berkontribusi pada ketahanan nasional.

“Kalau kita ingin dunia damai, maka dimulai dari lingkungan terdekat. Dari Jawa Timur, kita bisa menyemai nilai harmoni dan toleransi,” tegasnya.

Dalam konteks pelayanan publik dan pembangunan daerah, suasana damai dinilai menjadi prasyarat utama. Stabilitas sosial berdampak langsung pada investasi, pertumbuhan ekonomi, hingga kualitas hidup masyarakat.

Karena itu, Khofifah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk aktif menjaga kerukunan, termasuk melalui kegiatan keagamaan yang inklusif dan terbuka seperti Dharma Shanti Nyepi.

Ia juga mengapresiasi peran umat Hindu di Jawa Timur yang dinilai konsisten menjaga harmoni sosial dan memperkaya keberagaman budaya di tengah masyarakat.

“Terima kasih kepada umat Hindu yang terus berkontribusi menjaga kebersamaan dan memperkuat nilai toleransi di Jawa Timur,” ujarnya.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Jawa Timur, I Gusti Putu Raka Arthama, menegaskan bahwa Dharma Shanti bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga sarana memperkuat hubungan lintas umat beragama.

Ia menyoroti momentum tahun ini yang berdekatan dengan perayaan Idul Fitri dan Paskah, sehingga menjadi simbol kuat kerukunan antarumat beragama di Indonesia.

“Ini momentum luar biasa. Dalam satu periode, kita merayakan berbagai hari besar keagamaan. Ini memberi energi positif bagi masyarakat dan memperkuat persatuan,” katanya.

Menurutnya, nilai “Satu Bumi, Satu Keluarga” harus diwujudkan dalam tindakan nyata, terutama dalam kehidupan sosial sehari-hari dan pembangunan daerah.

“Kita semua satu keluarga. Semangat ini harus menjadi dasar dalam membangun Jawa Timur yang harmonis dan maju,” ujarnya.

Rangkaian Dharma Shanti Nyepi 1948 diisi dengan Dharma Wacana, doa Puja Tri Sandhya, pembacaan sloka Weda, serta pertunjukan seni budaya seperti Sendratari Asmara Jenggala dan Tari Sekar Jagat.

Kegiatan ini tidak hanya memperkuat spiritualitas, tetapi juga menjadi bagian dari diplomasi budaya daerah yang berdampak pada sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Pemprov Jawa Timur menilai, penguatan nilai toleransi dan harmoni sosial menjadi strategi penting dalam menjaga stabilitas daerah di tengah dinamika global yang tidak menentu.

“Dari Jawa Timur, kita ingin mengirim pesan bahwa perdamaian itu mungkin. Dan itu dimulai dari kita semua,” pungkas Khofifah.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Menaker Yassierli Ungkap 3 Karakter SDM yang Dibutuhkan di Era AI
496 Tahun Pamekasan, Komitmen Baru untuk Daerah yang Lebih Maju
SMSI Siap Kawal Prabowo, Ini Sikap Organisasi Pers terhadap Pemerintah
Yassierli Targetkan Pendampingan Produktivitas Menjangkau Ratusan Ribu Perusahaan
Kemnaker-IWIP Perkuat SDM Lokal, 80 Persen Peserta Magang Masuk Kawasan Industri
Lia Istifhama Turun Langsung, Donor Darah HUT DPD RI di Jatim Tembus 100 Orang
Pemprov Jatim Raih Satya JKN Awards 2026, Khofifah Perkuat Perlindungan Pekerja
24 Tim dari 18 Kecamatan Ramaikan Bupati Cup Free Fire Pasuruan

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 10:47

Menaker Yassierli Ungkap 3 Karakter SDM yang Dibutuhkan di Era AI

Kamis, 5 November 2026 - 08:46

496 Tahun Pamekasan, Komitmen Baru untuk Daerah yang Lebih Maju

Rabu, 4 November 2026 - 18:30

SMSI Siap Kawal Prabowo, Ini Sikap Organisasi Pers terhadap Pemerintah

Selasa, 3 November 2026 - 19:42

Yassierli Targetkan Pendampingan Produktivitas Menjangkau Ratusan Ribu Perusahaan

Selasa, 3 November 2026 - 07:46

Kemnaker-IWIP Perkuat SDM Lokal, 80 Persen Peserta Magang Masuk Kawasan Industri

Berita Terbaru