SIDOARJO, RadarBangsa.co.id — Kondisi Jembatan Tarik yang menghubungkan Kabupaten Sidoarjo dan Mojokerto kian memprihatinkan. Struktur menua, minim pengaman, dan lebar yang sempit menjadikan jalur vital ini berisiko tinggi bagi keselamatan pengguna.
Temuan tersebut mencuat setelah Bupati Sidoarjo H. Subandi melakukan inspeksi mendadak (sidak) pada Sabtu (2/5). Dari hasil tinjauan, jembatan dinilai sudah tidak layak fungsi dan berpotensi memicu kecelakaan serius.
Secara fisik, posisi jembatan lebih rendah dari badan jalan. Lebarnya terbatas sehingga kendaraan sulit berpapasan. Di sisi lain, pagar pembatas hanya tersisa sebagian, sementara bagian lainnya rusak parah.
Kondisi ini berdampak langsung pada keselamatan warga. Minimnya penanda di titik rawan membuat pengendara rentan terperosok, terutama pada malam hari atau saat lalu lintas padat.
“Sempat dipasang tali rafia, tapi sekarang sudah lepas. Kalau tidak ada tanda, pengendara bisa jatuh ke sungai,” ujar Efendi (36), warga Desa Tarik.
Subandi mengungkapkan, proyek pembangunan jembatan sebenarnya telah direncanakan sejak tahun lalu. Namun, realisasi tertunda akibat kebijakan efisiensi anggaran pemerintah daerah.
“Harusnya tahun kemarin sudah dibangun, tapi karena efisiensi akhirnya ditunda,” jelasnya.
Meski tertunda, Pemkab Sidoarjo memastikan pembangunan tetap menjadi prioritas. Jembatan Tarik dinilai memiliki peran strategis sebagai penghubung antarwilayah dan penunjang aktivitas ekonomi warga.
“Ini akses penting. Insyaallah akan kita bangun tahun 2027. Awal tahun, sekitar Maret atau April sudah mulai pengerjaan,” tegas Subandi.
Selain pembangunan, pemerintah juga menyiapkan normalisasi area sekitar untuk mendukung kelancaran fungsi jembatan, termasuk pengaturan aliran air.
Dengan langkah ini, diharapkan keamanan pengguna meningkat dan mobilitas antarwilayah kembali lancar. “Tidak hanya dibangun, tapi juga harus dinormalisasi agar benar-benar bermanfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.
Lainnya:
- Menteri PKP Turun ke Bangkalan, 573 Rumah Warga Siap Dibedah Tahun Ini
- Di Tengah Konflik Dunia, Khofifah Serukan Perdamaian dari Surabaya Saat Nyepi 1948
- Saat Dunia Memanas, Khofifah Pilih Panggung Nyepi untuk Serukan Stop Perang Global
Penulis : Tom
Editor : Zainul Arifin








