Momentum Nuzulul Qur’an : Pentingnya Literasi Melalui Metode Rabbani

Dr. Lia Istifhama, M.E.I.

Oleh : Dr. Lia Istifhama, M.E.I.

Selang beberapa hari setelah momentum Hari Buku Sedunia yang jatuh pada 23 April lalu, tepat pada 29 April 2021 ini adalah momentum peringatan Nuzulul Qur’an. Diperingati setiap 17 Ramadhan, maka pada tahun ke 1442 Hijriyah kali ini, makna dan hikmah dari Nuzulul Qur’an seharusnya lebih menyita perhatian kaum muslim. Hal ini bukan hanya berkenaan waktunya yang berdekatan dengan Hari Buku, namun juga pengingat pentingnya literasi, terutama literasi Islam, di era pembelajaran yang masih daring.

Adalah tugas kita bersama agar generasi anak bangsa ‘terselamatkan’ dalam hal pendidikan, yang mana pondasi pendidikan adalah aspek literasi. Dan Islam-lah, yang saat wahyu pertama diterima oleh Rasulullah SAW, penekanan literasi menjadi hal pokok dan pertama, melalui perintah Allah SWT melalui Malaikat Jibril melalui satu kata seruan: ‘Iqra’ !’, ‘Bacalah’. Sedangkan ‘membaca’ merupakan bagian utama dalam aktivitas literasi. Membaca tidak mungkin dilakukan tanpa sebuah tulisan yang harus dibaca, dan tulisan tidak akan diketahui pemaknaannya tanpa aktivitas ‘membaca’ dalam tulisan tersebut. Itu mengapa membaca adalah hal paling pokok dalam sebuah literasi.

Terjadi pada 17 Ramadlan 2 H, dikisahkan oleh Sayyidah ‘Aisyah binti Abu Bakar tentang peristiwa turunnya wahyu pertama yang diterima Rasulullah SAW:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: فَرَجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِلَى خَدِيْجَةَ يَرْجُفُ فُؤَدُهُ فَانْطَلَقَتْ بِهِ اِلَى وَرَقَةَ بِنْ نَرْفَلٍ وَكَانَ رَجُلاً تَنَصَّرَ يَقْرَأُ الْإِنْجِيْلَ بِالْعَرَبِيَّةِ فَقَالَ وَرَقَةُ مَاذَا تَرَى فَاَخْبَرَهُ فَقَالَ وَرَقَةُ هَذَا النَّامُوْسُ الَّذِيْ اَنْزَلَ اللهُ عَلَى مُوْسَى وَاِنْ اَدْرَكَنِيْ يَوْمُكَ اَنْصُرْكَ نَصْرًا مُؤَزَّرًا . اَلنَّامُوْسُ صَاحِبِ السِّرِّ الَّذِيْ يُطْلِعُهُ بِمَا يَسْتُرُهُ عَنْ غَيْرِهِ.

Dari ‘Aisyah ra., dia berkata: Lalu Nabi kembali (dari goa hira’) kepada Khadijah dengan gemetar hatinya. Lalu Khadijah membawa beliau kepada Waraqah bin Naufal, Laki-laki yang (di masa jahiliah) masuk Nasrani dan membacakan Injil dengan bahasa Arab. Lalu Waraqah betanya: “Apakah yang kamu lihat?”, Beliau memberitakan (apa yang dialaminya di goa hira’) kepada Waraqah, lalu Waraqah berkata: “Itu Namus (sang pemegang rahasia, malaikat Jibril), yang dahulu diturunkan Allah kepada Musa. Dan bila aku mengalami hari (peristiwa)mu niscaya aku membelamu dengan pembelaan yang kuat.” (Shahih Bukhari, hadis nomor 3235).

Saat itu, Malaikat Jibril menurunkan wahyu berupa surat al-Alaq ayat 1-5 pada Nabi Muhammad SAW yang tengah berkhalwat di Gua Hira, Jabal Nur. Berikut isi dari wahyu pertama tersebut:

(1) اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

(2) خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ

(3) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأكْرَمُ

(4) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ

(5) عَلَّمَ الإنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Yang artinya adalah: (1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, (2) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (3) Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, (4) Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. (5) Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Jika kita cermati dengan detail, isi dalam surat Al-Alaq ayat 1-5 tersebut sangat teratur dan sistematis, sehingga rangkaian ayat suci tersebut dapat dimaknai sebagai inti dari metode Rabbani.

َقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: كُوْنُوْا رَبَّانِيِّيْنَ حُلَمَاءَ فُقَهَاءَ وَيُقَالُ الرَّبَّانِيُّ الَّذِيْ يُرَبِّيْ النَّاسَ بِصِغَارِ الْعِلْمِ قَبْلَ كِبَارِهِ

Ibnu Abbas berkata: “Jadilah kamu semua itu golongan Rabbani, penuh kesabaran serta pandai dalam ilmu fiqih (yakni ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan hukum-hukum agama). Yang dimaksudkan “Rabbani” ialah orang yang mendidik para manusia dengan mengerjakan ilmu pengetahuan yang kecil-kecil sebelum memberikan ilmu pengetahuan yang besar-besar (yang sukar). (Shahih Bukhari, Hadis nomor 68).

Dari segi bahasa, kata rabbani diambil dari kata dasar Rabb, yang artinya Sang Pencipta, Pengatur, dan Pelindung makhluk, yaitu Allah. Kemudian diberi imbuhan huruf alif dan nun (rabb + alif + nun = Rabbaniy). Dengan imbuhan ini, makna rabbani adalah orang yang memiliki sifat sesuai dengan apa yang Allah harapkan. Sedangkan Ali bin Abi Thalib ra, mendefinisikan rabbani sebagai generasi yang memberikan santapan rohani bagi manusia dengan ilmu (hikmah) dan mendidik mereka atas dasar ilmu. Sementara Ibnu Abbas ra dan Ibnu Zubair mengatakan, “rabbaniyun adalah orang yang berilmu dan mengajarkan ilmunya.” (Kitab Zaadul Masir fi Ilmi at-Tafsir, karya Ibnul Jauzi; 1/298).

Jika ditarik pemaknaan , maka Rabbani berkaitan dengan:

1. Ilmu yang tak lepas dari ajaran agama (perintah Allah SWT) yang tentunya bermuara pada kebajikan;

2. bahwa ilmu sangatlah penting untuk disampaikan pada orang lain;

3. metode ilmu dalam rabbani adalah secara sistematis, yaitu bertahap sesuai kemampuan penerima ilmu.

Dari makna Rabbani tersebut, itulah yang kemudian kita pahami jika kita berusaha membaca dengan teliti makna dari setiap ayat yang turun dalam wahyu pertama kali tersebut. Bahwa membaca atau mencari ilmu, seyogyanya diawali dengan menyebut nama Allah SWT sebagai Pencipta dari kita, manusia yang ‘hanyalah’ terbuat dari segumpal darah. Bahwa Allah SWT Maha Pemurah atas segala kekurangan dan keterbatasan yang dimiliki kita sebagai manusia. Bahwa Firman Allah SWT adalah rangkaian ilmu yang diajarkan pada kita sebagai manusia ciptaan-Nya. Dan bahwa apa yang diajarkan Allah SWT adalah segala hal yang kita tidak ketahui akibat keterbatasan kita sebagai manusia.

Dengan begitu, wahyu pertama Surat Al-Alaq yang merupakan momentum Nuzulul Qur’an, juga merupakan momentum bagaimana sejatinya sebuah ‘ilmu’ dan bagaimana metode Rabbani adalah metode utama agar ilmu dapat kita capai. Ilmu dalam hal ini, tentu diartikan meliputi aktivitas literasi seperti yang dijelaskan di atas, yaitu membaca dan menulis.

Kemudian, Al-Qur’an sendiri, yang merupakan pangkal perantara bagaimana ‘ilmu’ bisa dipelajari oleh manusia, juga memiliki begitu banyak keagungan hikmah, diantaranya sebagai berikut:

1. Al-Qur’an berisi tentang bacaan dalam Shalat

Dalam hadis nomor 931, 732, 733, dan 734 kitab Shahih Bukhari, dijelaskan bahwa Rasulullah SAW membacakan bacaan Al-Qur’an dalam shalat. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak lepas dari ibadah wajib umat Islam, yaitu menunaikan shalat. Dengan begitu shalat dan Al-Qur’an adalah hal yang tidak bisa dipisahkan sebagai ibadah kita pada Allah SWT (‘ubudiyyah).

2. Sifatnya, penuh keistimewaan

Al-Qur’an bukan hanya memiliki keutamaan atas hikmah dari diturunkannya secara berangsur-angsur, yaitu selama 22 tahun, 2 bulan, 22 hari; melainkan juga menjadi pengikat dua kota suci, Makkah dan Madinah. Diantara keistimewaan lainnya adalah, bahwa setiap surat memiliki keutamaan dan makna kandungan yang khusus.

3. Mengajarkan metodologi pengumpulan data untuk pertama kalinya.

Al-Quran yang semula diturunkan dalam bentuk ayat-ayatnya dalam kurun waktu hampir 23 tahun, atas kuasa Allah SWT, ternyata dapat terkumpul secara rapi dalam 114 surat. Hal ini menjadi bukti bagaimana kemudian sebuah pengumpulan data, dokumen, dan kesaksian serta ingatan para sahabat Rasulullah Saw, terkumpul menjadi satu. Tentu ini bukan hal yang bisa diterima logika, terlebih masa-masa pengumpulan mushaf Al-Qur’an pun, justru dimulai sejak Rasulullah Saw wafat. Hal tersebut jikalau tanpa kehendak Allah SWT, tentu tidak mungkin dilakukan. Dalam kitab Shahih Bukhari, yaitu hadis nomor 4742 sampai dengan 4759, dicontohkan cara pengumpulan mushaf Alquran. Sebagai contoh, sahabat Ibnu Abbas bertanya pada Umar bin Khattab sehingga didapatkannya sebuah ayat. Contoh lainnya, sahabat Abu Ishaq berusaha mengingat-ingat sahabat nabi lainnya yang dimungkinkan mendengar ayat suci Al-Quran yang disampaikan Rasulullah Saw, maka kemudian Abu Ishaq menemukan sahabat-sahabat yang dimaksud, diantaranya Al-Barra’ dan ditulisnya satu demi satu ayat.

4. Membaca Al-Qur’an menurunkan ketenangan yang menghadirkan kedatangan Malaikat

عَنْ اُسَيْدِ بِنْ حُضَيْرِ بَيْنَمَا هُوَ يَقْرَأُ مِنَ اللَّيْلِ سُوْرَةَ البَقَرَةِ، وفَرَسُهُ مَرْبُوطَةٌ عِنْدَهُ، إذْ جَالَتِ الفَرَسُ فَسَكَتَ فَسَكَتَتْ، فَقَرَأَ فَجَالَتِ الفَرَسُ، فَسَكَتَ وسَكَتَتِ الْفَرَسُ، ثُمَّ قَرَأَ فَجَالَتِ الفَرَسُ فانْصَرَفَ، وكَانَ ابْنُهُ يَحْيَى قَرِيْبًا مِنْها، فأَشْفَقَ أنْ تُصِيْبَهُ فَلَمَّا اجْتَرَّهُ رَفَعَ رَأْسَهُ إلَى السَّمَاءِ، حتَّى مَا يَرَاهَا، فَلَمَّا أَصْبَحَ حَدَّثَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: اِقْرَأْ يَا ابْنَ حُضَيْرٍ، اقْرَأْ يَا ابْنَ حُضَيْرٍ، قَالَ: فأشْفَقْتُ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ أنْ تَطَأَ يَحْيَى، وكَانَ مِنْهَا قَرِيْبًا، فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَانْصَرَفْتُ إلَيْهِ، فَرَفَعْتُ رَأْسِي إِلَى السَّمَاءِ، فَإِذَا مِثْلُ الظُّلَّةِ فِيْهَا أَمْثَالُ المَصَابِيْحِ، فَخَرَجَتْ حَتَّى لاَ أَرَاهَا، قَالَ: وَتَدْرِيْ مَا ذَاكَ؟، قَالَ: لَا، قَالَ: تِلْكَ المَلَائِكَةُ دَنَتْ لِصَوْتِكَ، وَلَوْ قَرَأْتَ لَأَصْبَحَتْ يَنْظُرُ النَّاسُ إلَيْهَا، لَا تَتَوارَى مِنْهُمْ،

Suatu ketika Rasulullah SAW meminta sahabat Ibnu Khudair membacakan ayat suci Al-Qur’an, Ibnu Khudair terkejut karena tatkala ia membaca Al-Qur’an, ia seakan melihat ada bayangan di langit seperti lampu, ia pun bertanya pada Rasulullah SAW dan Rasulullah pun bersabda: “Itu adalah Malaikat yang mendekat karena suaramu (membaca Al-Qur’an)”. ( Shahih Bukhari, hadis nomor 4770).

5. Wasiat Rasulullah SAW untuk menjadi solusi permasalahan sesama umat.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ لَمَّا حُضِرَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي الْبَيْتِ رِجَالٌ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَلُمُّوا أكْتُبْ لَكُمْ كِتَابًا لَا تَضِلُّوا بَعْدَهُ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: إنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قدْ غَلَبَهُ الْوَجَعُ، وعِنْدَكُمُ القُرْآنُ حَسْبُنا، كِتَابُ اللَّهِ فَاخْتَلَفَ أهْلُ الْبَيْتِ واخْتَصَمُوْا، فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُوْلُ قَرِّبُوْا يَكْتُبُ لَكُمْ كِتَابًا لَا تَضِلُّوْا بَعْدَهُ، ومِنْهُمْ مَنْ يَقُوْلُ غَيْرَ ذَلِكَ، فَلَمَّا أَكْثَرُوْا اللَّغْوَ وَالِاخْتِلَافَ، قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قُوْمُوْا قَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ، فَكَانَ يَقُوْلُ ابْنُ عَبَّاسٍ: إنَّ الرَّزِيَّةَ كُلَّ الرَّزِيَّةِ، مَا حَالَ بيْنَ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَيْنَ أنْ يَكْتُبَ لَهُمْ ذَلِكَ الْكِتابَ، لِاخْتِلاَفِهِمْ وَلَغَطِهِمْ

“Kemarilah, tulislah untuk kalian sebuah kitab (catatan) di mana kalian tidak bakal tersesat sesudahnya.” Begitu sabda Rasulullah SAW jelang ajalnya di usia 63 tahun. Salah satu ahlul bait (keluarga Rasulullah SAW) mempertajam maksud Rasulullah, yaitu bahwa pentingnya menulis kitab (sesuai apa yang telah disampaikan Rasulullah SAW) merupakan sumber penyelesai atas perbedaan pendapat dan keributan. (Shahih Bukhari, hadis nomor 4215).

Tentunya, begitu banyak hikmah lainnya atas peristiwa Nuzulul Qur’an maupun keutamaan dalam Al-Qur’an, selama kita sebagai manusia, menyempatkan diri untuk berpikir dan mencari hikmah di dalamnya. Namun, hikmah paling utama tetap pada makna “Bacalah” yang menunjukkan pentingnya aktivitas literasi untuk mendapatkan ilmu dan wawasan. Terlebih, dalam surat Al Mujaadilah ayat 11, dijelaskan bahwa ilmu merupakan bentuk tingginya derajat seseorang. Dan diperkuat oleh hadis nomor 80 Shahih Bukhari, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya sebagian dari tanda-tanda kiamat adalah dihilangkannya ilmu, ditetapkannya kebodohan, diminumnya khamer dan nampaknya perzinaan.”

Naudzubillah min daalik, semoga niat mulia kita untuk tetap mencari ilmu, menjadi penolong kita agar dijauhkan dari Hari Kiamat.

Penulis adalah Sekretaris Majelis Ulama Indonesia Provinsi Jawa Timur (MUI Jatim)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *