SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Lia Istifhama, menegaskan pentingnya penguatan layanan kesehatan paru saat mengunjungi RSUD Husada Prima Surabaya, Selasa (24/1/2026). Kunjungan ini menyoroti peran strategis rumah sakit paru sebagai garda terdepan dalam pengendalian tuberkulosis (TBC), penyakit menular yang masih menjadi tantangan serius di Indonesia.
Senator yang akrab disapa Ning Lia disambut langsung oleh Direktur RSUD Husada Prima, dr. Eka Basuki Rachmad. Dalam dialog terbuka, keduanya membahas strategi penguatan layanan paru mulai dari deteksi dini, edukasi pasien, hingga keberlanjutan pengobatan TBC.
Menurut dr. Eka Basuki Rachmad, rumah sakit paru memiliki tanggung jawab besar tidak hanya pada pelayanan medis, tetapi juga edukasi dan pendampingan pasien. Ia menekankan bahwa keberhasilan pengendalian TBC sangat tergantung pada kepatuhan pasien menjalani pengobatan dan kesadaran masyarakat akan risiko penularan.
“RSUD Husada Prima berupaya membangun layanan berbasis empati. Pasien harus merasa aman, diterima, dan tidak distigmatisasi. Dengan pendekatan humanis, pasien berani memeriksakan diri lebih awal dan menyelesaikan pengobatan hingga tuntas,” ujar dr. Eka Basuki.
Lia Istifhama menyampaikan apresiasi atas dedikasi RSUD Husada Prima dalam menangani penyakit paru menular. Ia menekankan bahwa keberhasilan layanan kesehatan tercermin dari kesungguhan seluruh pemangku kepentingan dalam melindungi masyarakat dari ancaman penyakit yang berdampak luas secara sosial dan ekonomi.
Data nasional menunjukkan Indonesia masih menghadapi beban TBC yang tinggi, dengan lebih dari satu juta kasus baru pada 2023, menjadikan Indonesia salah satu negara dengan beban TBC tertinggi di dunia. Kondisi ini menuntut penguatan pengendalian penyakit menular secara berkelanjutan.
“Tuberkulosis bukan sekadar persoalan medis. Penularannya sering tidak disadari, dan jika tidak ditangani serius, dampaknya bisa melemahkan kualitas hidup pasien, keluarga, bahkan lingkungan sekitarnya,” ujar Lia. Ia menambahkan bahwa rumah sakit paru seperti RSUD Husada Prima memiliki peran vital sebagai pusat edukasi masyarakat.
Senator dari Jawa Timur itu menekankan pentingnya membangun kesadaran publik untuk menghapus stigma terhadap penderita TBC. Dengan lingkungan yang lebih suportif, pasien diharapkan tidak ragu menjalani pengobatan hingga sembuh, sehingga target eliminasi TBC nasional dapat tercapai.
Kunjungan ini merupakan bagian dari fungsi pengawasan Komite III DPD RI terhadap implementasi Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Peninjauan lapangan memberikan gambaran faktual tentang kesiapan layanan kesehatan dan efektivitas program pengendalian penyakit menular.
“Pengendalian TBC membutuhkan sinergi solid antara pemerintah pusat, daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat. Penyakit ini terlalu berbahaya jika ditangani secara parsial. Semua pihak harus bergerak bersama,” tegas Lia. Masukan dari tenaga medis, manajemen rumah sakit, dan pemerintah daerah menjadi fondasi penting dalam merumuskan kebijakan kesehatan yang relevan dan berdampak nyata.
Selain isu TBC, Komite III juga meninjau pengendalian konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan dan transformasi pendidikan kesehatan, yang saling berkaitan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Kunjungan ini menegaskan komitmen DPD RI untuk hadir di tengah masyarakat, memastikan kebijakan kesehatan tidak berhenti pada regulasi, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya. “Rumah sakit paru seperti RSUD Husada Prima menjadi benteng strategis dalam melindungi generasi bangsa dari ancaman penyakit menular berbahaya,” pungkas Lia.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin








