JAKARTA, RadarBangsa.co.id — Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji menegaskan bahwa bonus demografi Indonesia tidak otomatis menjadi keuntungan. Tanpa keluarga yang berfungsi optimal, lonjakan penduduk usia produktif justru berpotensi memunculkan masalah sosial dan ekonomi di masa depan.
Pernyataan tersebut disampaikan Wihaji saat menerima Senator DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, di kantor BKKBN, Kamis (15/1). Pertemuan membahas kesiapan keluarga Indonesia dalam menghadapi puncak bonus demografi sekaligus tantangan pengasuhan di era digital.
Menurut Wihaji, tingginya jumlah penduduk usia produktif harus diimbangi dengan kualitas sumber daya manusia yang baik. Ia menekankan, banyak persoalan sosial, mulai dari kekerasan remaja hingga krisis kesehatan mental, berakar dari lemahnya fungsi keluarga.
> “Bonus demografi bisa menjadi beban jika keluarga rapuh. Ketahanan bangsa tidak hanya ditentukan oleh jumlah penduduk usia produktif, tetapi oleh kualitas keluarga yang membesarkannya,” ujar Wihaji.
Ia menekankan pentingnya menghidupkan delapan fungsi keluarga, yakni agama, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi, serta pembinaan lingkungan. Delapan fungsi ini menjadi fondasi utama dalam membentuk generasi berkarakter, sehat, dan produktif.
Wihaji juga menyoroti fenomena fatherless dan tingginya ketergantungan anak pada gawai dan media sosial. Minimnya kehadiran emosional orang tua, terutama ayah, dapat melemahkan kesiapan mental dan sosial anak.
“Anak tidak pernah sepenuhnya salah. Yang perlu diperbaiki adalah lingkungan keluarganya. Negara harus hadir memperkuat keluarga, bukan hanya menangani dampaknya,” tegasnya.
Senator Lia Istifhama mendukung pesan tersebut. Ia menekankan penguatan keluarga sebagai agenda strategis nasional agar bonus demografi benar-benar menjadi modal menuju Indonesia Emas 2045.
“Kalau keluarga kuat, bonus demografi akan menjadi kekuatan. Tapi jika keluarga rapuh, negara akan menanggung masalah jangka panjang,” kata Lia.
Pertemuan ini menegaskan komitmen BKKBN dan DPD RI untuk mendorong kebijakan pembangunan keluarga yang menempatkan orang tua sebagai aktor utama membentuk generasi unggul dan menjaga ketahanan bangsa.
Keluarga yang tangguh menjadi kunci agar bonus demografi memberikan manfaat optimal. Upaya penguatan pola asuh dan fungsi keluarga menjadi langkah strategis menghadapi tantangan sosial dan ekonomi masa depan.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin








