PASURUAN, RadarBangsa.co.id – Pondok Pesantren (Ponpes) Ngalah melakukan kunjungan studi pengelolaan sampah ke Desa Randupitu, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Rabu (13/5/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran lapangan untuk memperkuat kesadaran pengelolaan limbah berbasis lingkungan dan masyarakat.
Sebanyak 10 delegasi ponpes terlibat langsung dalam agenda yang difokuskan pada praktik pengolahan sampah terpadu di tingkat desa.
Rombongan Ponpes Ngalah menggandeng Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Pempes Desa Randupitu untuk melihat langsung sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas. Di lokasi, peserta mempelajari alur pengelolaan mulai dari pemilahan, pengolahan, hingga pemanfaatan sampah organik dan anorganik.
Mereka juga menyaksikan penerapan teknologi sederhana yang digunakan warga dalam mengubah sampah menjadi produk yang lebih bernilai guna. Pendekatan ini dinilai efektif karena melibatkan masyarakat secara langsung dalam proses pengelolaan lingkungan.
Sejumlah tokoh Ponpes Ngalah turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Mohammad Tholib, S.Pd.I., M.Pd., Dr. Sueb, S.Pd.I., M.M., Ning Umi Hajar, S.Si., M.Si., Ning Umi Qonita, M.Pd., serta Ali Bisri, S.Pd.I., M.Pd.I. Kehadiran mereka menegaskan keseriusan pesantren dalam penguatan edukasi lingkungan.
Putri Pengasuh Ponpes Ngalah, Ning Umi Hajar, menyebut kegiatan ini sebagai pembelajaran langsung yang penting bagi santri dalam memahami isu lingkungan secara nyata di lapangan.
“Kami ingin membangun kesadaran bersama bahwa tata kelola sampah bukan sekadar urusan kebersihan, tetapi bagian dari komitmen menjaga keberlanjutan lingkungan,” ujar Ning Umi Hajar.
Sementara itu, Kepala Desa Randupitu, Mochamad Fuad, menyambut baik kunjungan tersebut. Ia menilai kolaborasi antara pesantren dan desa dapat memperkuat edukasi masyarakat dalam pengelolaan sampah berbasis lingkungan.
“Pesantren memiliki pengaruh besar dalam mengedukasi umat. Kami berharap kunjungan ini menjadi awal kerja sama jangka panjang dalam pengelolaan sampah berbasis komunitas,” kata Fuad.
Ia menambahkan, sistem pengelolaan sampah yang baik tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga berpotensi menciptakan nilai ekonomi sirkular bagi masyarakat.
Model pengelolaan sampah berbasis komunitas seperti di Randupitu dinilai relevan untuk diterapkan di berbagai wilayah, termasuk lingkungan pendidikan seperti pesantren. Pendekatan ini tidak hanya menekan volume sampah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru dari hasil pengolahan limbah.
Melalui studi tiru ini, Ponpes Ngalah berharap dapat mengadopsi sistem pengelolaan sampah yang lebih mandiri dan berkelanjutan. “Harapannya, praktik baik dari Randupitu bisa diterapkan dan dikembangkan di lingkungan pesantren maupun masyarakat luas,”tutupnya.
Penulis : Ahmad
Editor : Zainul Arifin


















Komentar