LAMONGAN, RadarBangsa.co.id – Malam-malam bulan Suro di Lamongan kembali menjadi perhatian aparat keamanan. Sejumlah ruas jalan tampak lebih ramai dari biasanya, sementara pos pengamanan berdiri di titik-titik strategis. Semua ini bukan tanpa alasan. Pengesahan Warga Baru Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Lamongan menjadi agenda penting yang menjadi perhatian publik sekaligus menuntut kewaspadaan ekstra dari aparat.
Untuk memastikan kelancaran dan ketertiban kegiatan tersebut, Polres Lamongan menerjunkan sebanyak 3.100 personel gabungan. Ribuan aparat itu tidak hanya berasal dari internal kepolisian, tetapi juga diperkuat oleh personel BKO dari Sat Brimob Polda Jatim, Dalmas Polda Jatim, Tim Raimas dan Tim Anarkis Polda Jatim. Sinergi juga dijalin dengan unsur TNI, khususnya dari Kodim 0812 Lamongan dan Yon Zipur 5 Babat.
Kapolres Lamongan AKBP Agus Dwi Suryanto, S.I.K., M.H., menegaskan bahwa pola pengamanan dilakukan secara sistematis, berlapis, dan menyeluruh. Penyekatan diberlakukan di seluruh pintu masuk Lamongan guna mengantisipasi pergerakan massa dari luar daerah. Di sisi lain, titik-titik yang dipetakan sebagai rawan gangguan keamanan turut dijaga ketat oleh pasukan gabungan.
“Kami tidak hanya mengedepankan kekuatan terbuka, tapi juga intelijen tertutup. Semua potensi gangguan sudah kami petakan, dan patroli skala besar akan berjalan selama proses pengesahan berlangsung,” terang Kapolres saat diwawancarai usai apel siaga.
Ia menekankan bahwa pengamanan ini bukan semata untuk PSHT, melainkan untuk memastikan bahwa masyarakat Lamongan secara umum tetap merasa aman dan nyaman. Maka dari itu, setiap elemen diimbau menaati Maklumat Suro Aman dan Damai yang telah disepakati antarperguruan, pemerintah daerah, dan pihak kepolisian.
Dalam maklumat tersebut, seluruh peserta dan simpatisan perguruan diimbau untuk tidak melakukan konvoi kendaraan, arak-arakan, atau tindakan yang berpotensi memancing keresahan. Bahkan warga luar yang hendak mengikuti kegiatan juga diminta patuh terhadap aturan lokal yang berlaku.
“Jangan jadikan momen pengesahan ini justru menjadi celah gangguan kamtibmas. Jadikan ini sebagai ruang pembuktian bahwa pencak silat adalah warisan budaya luhur yang menjunjung etika dan ketertiban,” tegas Kapolres.
Kondusifitas wilayah bukan hanya tanggung jawab aparat, tapi juga masyarakat. Karena itu, Polres Lamongan mengajak semua pihak termasuk tokoh perguruan, pemuda desa, dan relawan keamanan lingkungan untuk aktif memantau situasi sekitar.
Jika ditemukan indikasi gangguan atau potensi kerusuhan, warga diminta segera menghubungi aparat terdekat. “Kami siap merespons cepat. Jangan ragu melapor jika ada pergerakan mencurigakan,” ujar Kapolres.
Lamongan, sebagai salah satu basis besar perguruan pencak silat di Jawa Timur, kini menjadi contoh penegakan kedewasaan dalam berorganisasi. Dengan komitmen bersama, semangat Suro Aman bukan sekadar slogan, tapi langkah nyata menuju kedamaian bersama.
Lainnya:
- Bedah Rumah Insan Pendidikan Jatim Tembus 135 Unit, Khofifah Turun Langsung
- Bupati Kendal Tekankan Disiplin Jadi Kunci Profesionalisme ASN
- Khofifah Tinjau Bedah Rumah Petugas Sekolah, 135 Warga Pendidikan Terbantu
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin








