BANYUWANGI, RadarBangsa.co.id – Sebanyak 50 santri dari 15 pondok pesantren di Banyuwangi menyampaikan aspirasi tentang pelatihan keterampilan digital, fenomena sound horeg, hingga pencegahan perundungan dan kekerasan di pesantren. Aspirasi itu disampaikan dalam forum Rembug Santri yang digelar Pemerintah Kabupaten Banyuwangi di aula Pelinggihan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Selasa (20/10/2026).
Forum tersebut menjadi ruang bagi santri untuk menyampaikan kebutuhan dan persoalan yang mereka hadapi secara langsung kepada pemerintah daerah. Masukan yang terkumpul diharapkan menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan dan program pembangunan.
Salah satu usulan datang dari Elsya Putri Natalia Saputro. Ia mendorong adanya pendampingan soft skill berbasis digital agar santri dapat mengembangkan kompetensi yang dibutuhkan di tengah perkembangan teknologi.
“Santri kerap dinilai ketinggalan zaman dan gagap teknologi. Maka, kami berharap agar pemkab memberikan pendampingan dan pelatihan softskill berbasis digital bagi para santri. Karena di zaman yang serba digital ini, skill tersebut sangat kita butuhkan,” ujar santri Pondok Pesantren Adz-dzikra yang tengah menempuh kuliah di Universitas Cordoba Banyuwangi itu.
Selain keterampilan digital, forum juga membahas fenomena sound horeg yang menjadi perhatian masyarakat. M. Ibrahim Al Hafidi mengusulkan aturan yang jelas agar kegiatan tersebut tidak mengganggu lingkungan, tetapi tetap dapat menjadi hiburan dan memberikan manfaat ekonomi bagi warga.
“Harus ada ketentuan hukun dan aturan yang jelas. Sehingga adanya fenomena ini tidak mengganggu, melainkan bisa menjadi ajang hiburan yang mendidik, serta memberikan dampak ekonomi bagi warga,” ujarnya.
Persoalan perundungan dan kekerasan di lingkungan pesantren turut menjadi perhatian peserta. Salah satu aspirasi menekankan pentingnya peran pengasuh dan pendamping santri untuk menciptakan lingkungan yang aman, terutama bagi mereka yang tinggal jauh dari keluarga.
“Peran kyai harus bisa menggantikan sosok ayah di rumah. Pendamping kamar juga harus bisa merangkul dan mengayomi sehingga santri merasa aman dan mendapatkan kasih sayang penuh meski jauh dari orang tua,” ujarnya.
Para santri menilai perhatian dan pendampingan dari orang dewasa di lingkungan pesantren penting untuk mencegah perundungan. Mereka berharap pengasuh dan pendamping dapat menjadi sosok teladan sekaligus memberikan dukungan emosional kepada santri.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan forum tersebut dibuka untuk menjembatani aspirasi santri dengan pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan. Ia berharap masukan yang disampaikan dapat membantu mengidentifikasi kendala yang dihadapi santri, sekaligus mendorong langkah konkret untuk memperluas kesempatan mengembangkan diri dan berkarier bagi lulusan pesantren.
“Kami melihat bahwa selama ini belum banyak santri yang mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan potensi secara luas. Jumlah santri yang mampu meniti karier di bidang strategis juga masih terbatas. Lewat forum ini, kami berikan ruang kepada para santri untuk speak-up, mengungkapkan uneg-uneg, serta harapan mereka. Sehingga, pemerintah daerah tahu apa yang sebenarnya menjadi kendala untuk kemudian kita carikan solusinya,” kata Ipuk.
Ipuk menegaskan, pemerintah daerah berupaya melibatkan berbagai kelompok masyarakat dalam penyusunan kebijakan. Selain Rembug Santri, Pemkab Banyuwangi juga rutin menggelar Rembug Lansia, Rembug Anak, Rembug Disabilitas, dan Rembug Perempuan.
“Semua rekomendasi yang muncul dalam forum tersebut, akan menjadi atensi dan bahan pertimbangan kami dalam pengambilan kebijakan daerah,” tegasnya.
Forum Rembug Santri tersebut juga menghadirkan Dr. Endi Fadlullah dari Pondok Pesantren Bustanul Makmur, Ning Atina Balqis Iskandar dari Pondok Pesantren Darussalam Blokagung, serta Ustadz Ghifari Miqdad Al-ghifari dari Pondok Pesantren Daar Al Ihsan Mabadiul Ihsan Karangdoro.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar