LAMONGAN, RadarBangsa.co.id – Tujuh pesan luhur Sunan Drajat atau Sapta Paweling menjadi sumber inspirasi Muhammad Reovany dalam menciptakan motif batik yang membawanya meraih Juara 1 Lomba Desain Batik Lamongan 2026 kategori umum.
Reovany menerjemahkan pesan-pesan tersebut ke dalam bahasa visual dengan memadukan nilai sejarah, religi, seni, dan budaya Lamongan. Karyanya dinilai mampu mengangkat identitas lokal sekaligus memberikan pendekatan baru terhadap warisan budaya Sunan Drajat.
Lomba yang digelar Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Lamongan itu berlangsung di Pendopo Lokatantra Kabupaten Lamongan. Setelah melalui tahapan seleksi, presentasi, dan penilaian akhir dewan juri, Reovany ditetapkan sebagai juara pertama pada 4 Oktober 2026.
Reovany mengaku memilih tema Sapta Paweling karena memiliki ketertarikan terhadap seni rupa klasik dan sejarah, terutama perjalanan awal penyebaran Islam di kawasan pesisir.
“Sapta Paweling sebelumnya hadir dalam bentuk sastra lisan. Saya mencoba menggubah pesan-pesan tersebut menjadi sebuah wujud visual melalui motif batik,” ujar Reovany, Senin (5/10/2026).
Tujuh pesan tersebut kemudian ia terjemahkan melalui sejumlah simbol visual yang memiliki keterkaitan dengan ragam seni peninggalan Sunan Drajat di kompleks makam beliau.
Salah satu simbol yang digunakan terdapat pada pesan keempat, meper hardaning pancadriya, yang bermakna menahan gejolak pancaindra atau hawa nafsu. Reovany menggambarkannya melalui bentuk singomengkok sebagai representasi sifat liar dan buas dalam diri manusia.
“Singomengkok saya gunakan sebagai simbol sifat liar dan buas dalam diri manusia yang harus ditundukkan dengan akal budi, iman, dan takwa,” jelasnya.
Proses hingga menjadi juara berlangsung melalui beberapa tahapan. Setelah pendaftaran daring, peserta mengikuti technical meeting dan workshop desain batik di Pendopo Lokatantra pada 24 September 2026. Peserta kemudian mengembangkan desain di rumah dan mengumpulkannya secara daring.
Dari sekitar 50 peserta, panitia menyaring 15 karya terbaik untuk dipresentasikan langsung di hadapan dewan juri. Reovany akhirnya memperoleh nilai terbaik dalam tahapan presentasi dan penilaian final.
Alumnus Jurusan Seni Rupa Murni Universitas Negeri Surabaya (Unesa) tahun 2023 itu mengaku bersyukur atas pencapaiannya sekaligus mengapresiasi Dekranasda Lamongan yang memberikan ruang bagi seniman untuk mengembangkan gagasan.
“Saya sangat berterima kasih karena diberikan kesempatan untuk berproses secara kreatif dan menyalurkan ide serta gagasan. Saya juga bersyukur karena karya saya dapat diterima dan dinilai sebagai motif batik yang baik,” katanya.
Reovany berharap karya tersebut tidak berhenti sebagai desain batik, tetapi juga menjadi media untuk mengingat kembali nilai-nilai kehidupan yang diwariskan Sunan Drajat.
“Semoga nilai-nilai dalam Sapta Paweling tetap diingat dan diamalkan oleh generasi sekarang maupun generasi yang akan datang,” pungkasnya.
Aktif di Lesbumi PCNU Lamongan, Reovany menilai lomba desain batik dapat menjadi ruang untuk menggali potensi kreatif masyarakat. Menurutnya, semakin banyak inovasi berbasis budaya lokal, semakin besar peluang batik Lamongan memiliki ciri khas dan berkembang ke pasar yang lebih luas.
Karya Sapta Paweling menunjukkan bahwa warisan sejarah dan budaya lokal masih dapat diterjemahkan melalui pendekatan visual baru tanpa kehilangan akar tradisinya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar