SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Kerusuhan yang terjadi akhir Agustus lalu dan berujung pada pembakaran Gedung Negara Grahadi Surabaya masih menyisakan duka. Cagar budaya dengan nilai sejarah tinggi itu terbakar akibat aksi massa yang dipicu provokasi oknum tak bertanggung jawab.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bahkan mengaku renovasi tidak akan mampu mengembalikan bentuk asli Grahadi secara sempurna.
“Bisa dibangun, tapi hal-hal seperti relief-reliefnya, ceiling-nya, tidak bisa dijamin sama dengan aslinya,” ujarnya.
Kerusuhan ini juga menyeret isu lain: keterlibatan anak di bawah umur dalam aksi massa. Kondisi itu menuai sorotan dari Anggota DPD RI, Lia Istifhama. Ditemui di sela kegiatan sosial di Surabaya, Ning Lia sapaan akrabnya menegaskan perlunya langkah tegas aparat terhadap pihak-pihak yang memprovokasi generasi muda.
“Kita bicara nama besar bangsa. Mental dan moral anak-anak adalah tanggung jawab kita semua. Maka siapapun yang ingin meracuni pikiran anak-anak, apalagi yang masih di bawah umur, harus ditindak tegas,” ujarnya.
Selain menyinggung soal kerusuhan, Lia menyoroti peran guru yang ia sebut sebagai “orang tua kedua” bagi siswa. Menurutnya, guru semestinya diberi ruang lebih untuk mendidik dan membimbing, bukan dibebani tumpukan laporan administrasi.
“Situasi sosial ini harus jadi evaluasi bersama. Kenapa anak-anak mudah diprovokasi? Karena guru kehilangan fokus mendidik akibat beban administrasi yang berlebihan,” tegasnya.
Ia mengingat kembali masa pandemi Covid-19 ketika pembelajaran daring justru menambah berat beban guru. Banyak di antara mereka harus lembur hanya untuk menyelesaikan laporan harian.
“Saya banyak menerima curhatan dari guru yang sampai malam mengerjakan administrasi. Ini sangat disayangkan,” ungkapnya.
Menurut Lia, pola pendidikan yang tidak efektif di masa lalu bisa menjadi salah satu faktor mengapa remaja mudah terpengaruh ujaran kebencian maupun provokasi. Karena itu, ia mendorong pemerintah lebih serius mengevaluasi kebijakan pendidikan.
“Setiap peristiwa pasti membawa hikmah. Saya berharap Presiden Prabowo melalui Kemendikdasmen memberi ruang luas bagi guru untuk fokus pada pengajaran yang berkualitas, membangun hubungan interpersonal dengan siswa, sekaligus memperkuat moral dan karakter,” ucapnya.
Ia menyambut baik langkah pemerintah yang kini merelaksasi beban administrasi guru, dengan pelaporan kinerja hanya sekali setahun. Meski begitu, Lia mengingatkan masih ada pekerjaan rumah lain, terutama soal kesejahteraan.
“Guru, khususnya yang berada di sekolah swasta atau bertugas jauh dari domisili asal, perlu mendapat perhatian khusus. Mereka adalah garda depan pendidikan, maka sudah sewajarnya diberi penghargaan dan dukungan yang layak,” pungkasnya.
Lainnya:
- Bupati Lamongan Tancap Gas Reformasi Birokrasi, 34 Pejabat Resmi Dilantik
- Bupati Lamongan Lantik 34 Pejabat, Dorong Percepatan Layanan Publik dan Birokrasi Efektif
- 1.239 Jemaah Haji Sidoarjo Berangkat, Wabup Tekankan Kesehatan
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin








