Bulog Subdivre III Bojonegoro Belum Serap Gabah Petani, Karena Terbentur aturan Menteri Perdagangan

Stok gabah hasil panen awal petani di salah satu gudang tengkulak yang terlihat melimpah, Selasa (02/03/2021) [IST]

LAMONGAN, RadarBangsa.co.id – Wakil Pimpinan Bulog Subdivre III Bojonegoro Hendra Kurniawan menyatakan, pihak Bulog Bojonegoro belum bisa menyerap gabah petani di Lamongan sepenuhnya dikarenakan ada beberapa faktor.

Dia mengungkapkan, faktor tersebut diantaranya persoalan gabah kering panen (GKP) kadar airnya sangat tinggi, masih diatas 25 persen. Sedangkan aturan dari Peraturan Menteri Perdagangan kadar air harus dibawah 25 persen.

Bacaan Lainnya

” Kadar hampanya juga masih tinggi, hampir 20 persen, seharusnya kadar hampa dibawah 10 persen. Temuan itu sewaktu kita ambil sampel gabah petani di Bojonegoro,” ujar Hendra Kurniawan, Selasa (02/03/2021).

Secara otomatis, menurut dia, untuk kualitasnya pun sebenarnya tidak bisa memenuhi syarat, setelah itu baru kita cek gabahnya ternyata benar kualitasnya itu dibawah dari persyaratan Permendag itu sendiri.

” Kenapa kok kualitasnya bisa sampai seperti itu, karena memang petani pada saat panen itu masih kecampur dengan butir hijaunya, butir gabah yang istilahnya belum saatnya untuk di panen,” ungkapnya.

Lebih lanjut Hendra mengatakan, mengenai masalah harga gabah panen petani yang mengalami anjlok atau turun tersebut, mungkin harus dilihat dulu kualitas gabahnya itu seperti apa, dan lokasinya juga di mana.

” Memang hampir merata sih, kayak kemarin di Bojonegoro juga ada informasi seperti itu, bahwa harga gabah anjlok gitu. Setelah kita kroscek ke lapangan harganya juga nggak anjlok-anjlok banget koq,” ucapnya.

Dia menuturkan, harga gabah hanya turun sekitar Rp 4000 per kg, besaran HPP yang ditetapkan Permendag gabah kering panen (GKP) di tingkat petani sebesar Rp 4.200 per kg, sementara di tingkat penggilingan sebesar Rp 4.250 per kg.

” Bulog Subdivre III Bojonegoro saat ini memang sudah melakukan penyerapan di wilayah kerja Lamongan, Tuban dan Bojonegoro untuk beras, dan juga gabah kering giling,” tuturnya.

Sementara itu, tengkulak yang sudah membeli gabah dari petani pada musim panen tanam pertama ini mengaku kebingungan. Pasalnya hingga saat ini, Bulog belum juga melakukan penyerapan.

” Kondisi seperti ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, harus dicari jalan keluar bersama-sama, stok gabah yang sudah saya beli dari petani di gudang sudah sangat menumpuk,” terang tengkulak.

Dia menjelaskan, melimpahnya gabah dari petani ini masih tahap awal belum seluruhnya panen. Puncaknya dimungkinkan pada bulan Maret dan April, disitu petani akan melakukan panen raya.

” Saya dan juga petani sangat berharap perum Bulog bisa segera mengambil kebijakan untuk menindaklanjuti permasalahan ini. Agar antara petani dan tengkulak tidak sampai merugi,” ungkapnya.

(Ari)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *