Cukai Rokok 2026 Tidak Naik, Anggota DPD RI asal Jawa Timur Lia Istifhama Optimisme Industri Tumbuh Kembali

Senin, 29 September 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, memberikan keterangan usai menghadiri agenda resmi di Jakarta, Sabtu (27/9/2025). (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, memberikan keterangan usai menghadiri agenda resmi di Jakarta, Sabtu (27/9/2025). (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

JAKARTA, RadarBangsa.co.id – Pemerintah memastikan tarif cukai hasil tembakau (CHT) pada tahun 2026 tidak mengalami kenaikan. Kepastian ini disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa usai berdialog dengan sejumlah pengusaha rokok yang dalam beberapa tahun terakhir tertekan akibat perlambatan ekonomi, menurunnya daya beli masyarakat, serta tingginya beban regulasi.

Kebijakan tersebut disambut positif oleh Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama. Menurutnya, keputusan ini bisa menjadi momentum untuk menghidupkan kembali sektor industri rokok dan tembakau, terutama di daerah-daerah penghasil tembakau dan cengkeh. Ia menilai, industri rokok bukan hanya menyangkut pabrikan besar, tetapi juga menghidupi petani dan pekerja kecil yang selama ini rentan terdampak oleh kenaikan tarif cukai.

“Tidak naiknya cukai rokok bisa memberi ruang napas bagi industri, petani, dan pekerja yang terlibat di sektor ini. Karena kenaikan ini memang mematikan mata pencaharian masyarakat kecil. Saya berharap industri rokok kembali berjaya,” ujar Ning Lia di Jakarta, Sabtu (27/9/2025).

Dalam pertemuan bersama Badko HMI beberapa waktu lalu, Ning Lia juga menyinggung fenomena rokok ilegal yang marak beredar di sejumlah daerah. Menurutnya, masyarakat kerap menyebut rokok ilegal sebagai “rokok kerakyatan” karena harganya jauh lebih terjangkau dibandingkan rokok legal. Fenomena ini muncul karena banyak perokok tidak mampu membeli produk legal yang harganya melonjak akibat tarif cukai tinggi.

“Nah, di sinilah tantangan kebijakan negara. Jika masyarakat tidak mampu membeli rokok legal, maka mereka beralih ke rokok ilegal. Padahal, jika diakomodir dengan regulasi yang tepat, rokok-rokok ini sebenarnya bisa menjadi tambahan pemasukan bagi negara,” jelas Lia.

Ia mendorong pemerintah untuk mempertimbangkan skema legalisasi atau penyesuaian tarif bagi produk skala kecil agar bisa masuk dalam sistem perpajakan resmi. Dengan langkah itu, peredaran rokok ilegal dapat ditekan, sekaligus memperluas basis penerimaan negara tanpa mematikan usaha kecil.

Data Kementerian Keuangan mencatat penerimaan CHT hingga Juli 2025 mencapai Rp121,98 triliun, tumbuh 9,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Secara keseluruhan, penerimaan cukai Januari–Juli 2025 sudah menembus Rp126,85 triliun atau 51,95 persen dari target APBN sebesar Rp244,2 triliun. Dari total penerimaan tersebut, sekitar 96 persen bersumber dari CHT, sementara sisanya berasal dari cukai minuman beralkohol dan ethil alkohol.

Meski penerimaan meningkat, tren produksi rokok justru menurun. Pada kuartal I/2025, produksi tercatat turun 4,2 persen secara tahunan. Penurunan terbesar dialami rokok golongan I yang memiliki tarif cukai tertinggi (-10,9 persen). Sebaliknya, rokok golongan II tumbuh tipis 1,3 persen dan golongan III meningkat 7,4 persen.

Situasi ini, menurut Lia, menunjukkan perlunya keseimbangan antara kepentingan fiskal negara dengan keberlangsungan industri. Ia juga menekankan pentingnya optimalisasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) agar lebih tepat sasaran, khususnya untuk pemberdayaan petani dan perlindungan pekerja.

“Kalau pemerintah bisa lebih adaptif, industri rokok tidak hanya selamat, tetapi juga bisa kembali memberi kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional, mulai dari lapangan kerja, petani tembakau, hingga tambahan penerimaan negara yang stabil,” pungkas Lia.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

SMK Muhammadiyah 3 Weleri Bentuk Siswa Disiplin dan Peduli Lingkungan
Bupati Bangkalan Dorong Kader Kesehatan Perkuat Pendampingan Ibu dan Anak
PAPDESI Kendal Berharap Siltap Kades dan Perangkat Desa Tetap Dipertahankan
PIWK Sidoarjo Dikebut, Subandi Minta Jalan Rusak Segera Ditangani
DPRD Kabupaten Pasuruan Bahas Perubahan Perda Pajak dan Retribusi
Gus Iqdam di Pasuruan: Serukan Ilmu, Akhlak, dan Sedekah
Paripurna, Fraksi Golkar DPRD Ngawi Soroti Defisit RAPBD 2027, Usulkan Stadion Baru Berkapasitas 40.000 Penonton
HKG PKK ke-54, Luthfiana Lukman Hakim Perkuat Peran Keluarga di Bangkalan

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 23:43

SMK Muhammadiyah 3 Weleri Bentuk Siswa Disiplin dan Peduli Lingkungan

Jumat, 30 Oktober 2026 - 08:38

Bupati Bangkalan Dorong Kader Kesehatan Perkuat Pendampingan Ibu dan Anak

Kamis, 29 Oktober 2026 - 23:36

PAPDESI Kendal Berharap Siltap Kades dan Perangkat Desa Tetap Dipertahankan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 10:47

PIWK Sidoarjo Dikebut, Subandi Minta Jalan Rusak Segera Ditangani

Kamis, 29 Oktober 2026 - 08:31

DPRD Kabupaten Pasuruan Bahas Perubahan Perda Pajak dan Retribusi

Berita Terbaru