GRESIK, RadarBangsa.co.id – Anggota DPD RI, Lia Istifhama, menyoroti peran strategis Politeknik Semen Indonesia atau Polteksi dalam mencetak sumber daya manusia unggul yang siap menghadapi tantangan industri 5.0. Kampus vokasi berbasis industri itu dinilai berhasil menghubungkan dunia pendidikan dengan kebutuhan nyata pasar kerja global.
Penilaian tersebut disampaikan Lia saat berkunjung ke kampus Polteksi di Gresik dalam agenda penguatan program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah sekaligus dialog bersama mahasiswa. Dalam kunjungan itu, Lia menekankan pentingnya pendidikan vokasi sebagai solusi untuk menekan kesenjangan antara lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan industri modern.
Menurut senator asal Jawa Timur yang akrab disapa Ning Lia itu, keberhasilan alumni Polteksi menembus pasar kerja internasional seperti Jepang dan Korea Selatan menjadi indikator nyata bahwa kurikulum yang diterapkan tidak hanya berbasis teori, tetapi benar-benar sesuai kebutuhan industri global.
“Keberhasilan para lulusan menembus pasar kerja luar negeri ini menjadi indikator kuat bahwa kurikulum yang diterapkan mampu mencetak tenaga kerja yang kompetitif dan siap pakai di berbagai sektor industri modern,” ujar Lia.
Sorotan terhadap kualitas lulusan Polteksi menjadi penting di tengah meningkatnya kebutuhan tenaga kerja terampil berbasis teknologi dan otomasi. Dunia industri saat ini tidak lagi hanya membutuhkan pekerja teknis, tetapi juga SDM yang mampu beradaptasi dengan transformasi digital, kecerdasan buatan, hingga sistem mesin otomatis.
Lia menilai Polteksi telah bergerak ke arah tersebut melalui penguatan kolaborasi industri dan inovasi berbasis kebutuhan masyarakat. Salah satu inovasi mahasiswa yang mendapat perhatian adalah aplikasi VEGO, platform digital yang membantu pedagang sayur mengurangi limbah pangan atau food waste.
Aplikasi tersebut memungkinkan klasifikasi penggunaan sayuran berdasarkan durasi waktu tertentu sehingga pedagang dapat mengelola stok lebih efisien. Inovasi itu dinilai tidak hanya berbasis teknologi, tetapi juga menyentuh persoalan ekonomi rakyat kecil.
“Ini menunjukkan bahwa kampus vokasi tidak hanya bicara mesin dan industri besar, tetapi juga mampu menghadirkan solusi konkret untuk masyarakat bawah,” kata Lia.
Selain menyoroti kualitas pendidikan, Lia juga menekankan pentingnya akses pendidikan tinggi melalui program KIP Kuliah. Ia menyebut bantuan pendidikan harus benar-benar menjadi jembatan lahirnya generasi produktif yang mampu bersaing secara global.
Direktur Politeknik Semen Indonesia, Erlina Diamastuti, mengungkapkan bahwa dukungan dari DPD RI turut membantu memperluas akses mahasiswa terhadap pendidikan vokasi berkualitas.
“Mungkin anak-anakku semua belum tahu, sebetulnya salah satu inisiator dan penyumbang KIP kita adalah dari DPD RI, yaitu Ibu Dr. Lia. Kunjungan ini menjadikan kita semakin dekat dengan Dewan dan pemerintahan,” ujar Erlina.
Ia berharap mahasiswa penerima KIP dapat memanfaatkan bantuan tersebut secara maksimal untuk meningkatkan kompetensi dan kesiapan menghadapi dunia kerja. Menurutnya, tantangan industri ke depan membutuhkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kreatif dan inovatif.
Dalam dialog bersama mahasiswa, Lia turut mengingatkan generasi muda agar tidak apatis terhadap politik dan kebijakan publik. Ia menilai anak muda memiliki peran penting dalam mengisi ruang-ruang strategis bangsa, termasuk sektor industri dan teknologi.
“Jangan sampai kalian menjadi pribadi yang apatis kepada politik, kalian harus memiliki semangat mengisi ruang-ruang itu,” tegasnya.
Ia juga mendorong mahasiswa Polteksi untuk aktif menunjukkan karya dan inovasi melalui platform digital. Menurutnya, promosi karya teknologi anak muda menjadi bagian penting untuk membangun daya saing Indonesia di tingkat global.
“Tampilkan karya kalian, seperti inovasi mesin yang sudah diciptakan di sini, agar dunia tahu bahwa dari Polteksi, Indonesia tidak akan kekurangan solusi energi atau teknologi,” ujar Lia.
Pernyataan tersebut menjadi relevan di tengah dorongan pemerintah memperkuat pendidikan vokasi sebagai tulang punggung pengembangan industri nasional. Kampus berbasis industri seperti Polteksi dinilai memiliki posisi strategis karena mampu menghasilkan lulusan siap kerja sekaligus inovator teknologi.
Di akhir kegiatan, Lia kembali menegaskan bahwa dirinya hanya menjadi penghubung antara program pemerintah dan kebutuhan masyarakat. Ia berharap mahasiswa Polteksi tidak sekadar menjadi pekerja industri, tetapi mampu menjadi pemimpin yang melahirkan karya berdampak luas.
“Kita harus menjadi sebuah terminal atau bridging. Program dan anggaran ini dari pemerintah, saya hanya perantara. Saya ingin mahasiswa Polteksi ke depan tidak hanya terserap di dunia kerja, tapi menjadi leader yang memiliki karya nyata dan kemanfaatan besar bagi masyarakat,” pungkas Lia Istifhama.
Lainnya:
- Sekolah Rakyat di Bangkalan Diserbu 600 Pendaftar, Bupati Lukman Hakim Desak Pembangunan Dipercepat
- Siswa SDN Sumberbendo Lamongan Juara Atletik Kids 2026, Mantup Siap Kirim Talenta ke Provinsi
- Buket Mawar dari Mahasiswa Polteksi untuk Ning Lia, Kisah Haru di Balik Perjuangan KIP Kuliah
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin








