BANYUWANGI, RadarBangsa.co.id – Tradisi Endog-Endogan di Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, kembali digelar untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Selasa (25/8/2026). Tradisi yang telah berlangsung selama 28 tahun itu tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga ruang memperkuat gotong royong dan kebersamaan masyarakat.
Konsistensi warga dalam menjaga Endog-Endogan mendapat apresiasi Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani. Dalam tiga tahun terakhir, tradisi tersebut juga masuk dalam kalender agenda wisata tahunan Banyuwangi Attractions.
Saat menghadiri perayaan, Ipuk menilai keberlangsungan Endog-Endogan menunjukkan kuatnya partisipasi masyarakat dalam merawat tradisi sekaligus nilai sosial di tengah perubahan zaman.
“Pemkab Banyuwangi mengapresiasi Pemdes dan seluruh masyarakat Kembiritan yang gotong royong terus menjaga tradisi ini hingga 28 tahun. Kita berharap Endog-Endogan terus lestari dan tidak luntur oleh perkembangan zaman, sekaligus menjadi sarana edukasi bagi generasi muda tentang pentingnya kebersamaan dan gotong royong,” ujar Ipuk.
Menurut dia, Endog-Endogan tidak sebatas menghadirkan kemeriahan dan kreativitas warga. Tradisi tersebut juga memuat nilai kebersamaan yang sejalan dengan semangat memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
“Di tengah perkembangan teknologi dan kecenderungan masyarakat yang semakin individualistis, tradisi seperti Endog-Endogan dan kegiatan sosial seperti santunan anak yatim menunjukkan bahwa semangat guyub rukun dan gotong royong warga masih kuat. Ini yang harus terus kita rawat,” kata Ipuk.
Ipuk menegaskan, pembangunan daerah tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Keterlibatan masyarakat dibutuhkan untuk menjaga lingkungan sosial dan mendukung berbagai program pembangunan.
“Tangan pemerintah tentu terbatas. Karena itu, partisipasi aktif masyarakat seperti ini sangat penting. Ketika masyarakat guyub, saling membantu dan peduli, tentu banyak persoalan yang bisa diselesaikan bersama,” imbuhnya.
Kepala Desa Kembiritan Sukamto mengatakan, Endog-Endogan telah menjadi bagian dari kehidupan sosial warga selama hampir tiga dekade. Tradisi itu diwariskan oleh para leluhur dan terus berkembang mengikuti kondisi masyarakat.
“Tradisi ini diwariskan oleh para leluhur kami sejak 28 tahun lalu. Awalnya, perarakan kembang telur atau endog-endogan hanya dilakukan dengan berjalan kaki dan menggunakan becak roda tiga yang diusung warga RT/RW,” jelas Sukamto.
Pada pelaksanaan tahun ini, sedikitnya 1.500 peserta dari 19 kelompok kreasi budaya ikut ambil bagian. Peserta berasal dari berbagai unsur masyarakat, termasuk lembaga pendidikan, yayasan, dan kelompok masyarakat.
“Sekarang perkembangannya luar biasa. Hampir seluruh lembaga pendidikan, yayasan, dan kelompok masyarakat ikut terlibat di tradisi besar ini. Hal ini menunjukkan bahwa Endog-Endogan sudah menjadi milik bersama masyarakat Kembiritan,” ujarnya.
Pawai Endog-Endogan dimulai pukul 06.30 WIB dan dijadwalkan berlangsung sekitar tiga jam hingga pukul 09.30 WIB.
Tradisi Endog-Endogan menjadi salah satu kekayaan budaya masyarakat Banyuwangi yang terus diwariskan lintas generasi. Selain mempertahankan tradisi, kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan warga untuk memperkuat solidaritas sosial, kebersamaan, dan semangat gotong royong.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar