PASURUAN, RadarBangsa.co.id — Budidaya melon yang dikelola BUMDes Suko Jaya Abadi di Desa Sumbersuko, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, mulai menunjukkan hasil ekonomi bagi desa. Memasuki panen ketiga pada Rabu (21/10/2026), usaha tersebut telah memperluas pemasaran hingga sejumlah daerah dan menyisihkan 20 persen hasil usaha untuk Pendapatan Asli Desa (PADes).
Keberhasilan itu mendapat perhatian Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan, Samsul Hidayat, yang mengunjungi lokasi budidaya di Dusun Kemuning. Ia bahkan membeli langsung 30 kilogram melon setelah mencicipi hasil panen dari greenhouse setempat.
Samsul mengapresiasi pengembangan hortikultura melalui BUMDes yang dinilainya produktif dan memiliki peluang untuk terus dikembangkan.
“Kami sangat mengapresiasi inovasi Desa Sumbersuko melalui BUMDes-nya. Program ketahanan pangan di sini benar-benar produktif. Saya sudah mencoba sendiri, rasanya sangat manis, makanya langsung saya borong 30 kilogram,” ujar Samsul.
Menurut dia, kemampuan pengelola dalam menyesuaikan karakteristik buah dengan permintaan konsumen menjadi salah satu keunggulan budidaya tersebut. Pengaturan tekstur dan tingkat kemanisan melon dinilai dapat meningkatkan daya tarik produk di pasar.
Dalam panen kali ini, BUMDes Suko Jaya Abadi membudidayakan dua varietas, yakni Golden dan Orlando. Varietas Golden telah dipasarkan secara lebih luas, sedangkan Orlando masih menjalani uji coba kualitas.
Ketua BUMDes Suko Jaya Abadi, Khumaidi, mengatakan pasar produk mereka terus berkembang sejak panen pertama. Melon dari panen perdana dibeli konsumen dari Jakarta, hasil panen kedua dikirim ke Malang, sedangkan sebagian hasil panen ketiga telah dikirim ke Nganjuk.
“Alhamdulillah, ini adalah panen ketiga kami. Pasar kami terus meluas; panen pertama diborong oleh pembeli dari Jakarta, panen kedua kami kirim ke Malang, dan untuk panen kali ini sebagian sudah dikirim ke Nganjuk. Pangsa pasar produk kami sangat menjanjikan,” kata Khumaidi.
Dari sisi produksi, masa tanam melon tersebut relatif singkat, sekitar 65 hari. Berdasarkan skema bagi hasil yang diterapkan, BUMDes mendapatkan alokasi 80 persen dari hasil usaha, sedangkan 20 persen disetorkan untuk PADes.
Khumaidi menyebut bagian BUMDes dari pendapatan bersih mencapai sekitar Rp12,6 juta per siklus, dengan modal awal produksi di kisaran Rp8 juta. Namun, bahan yang tersedia tidak merinci komponen biaya maupun perhitungan pendapatan tersebut.
Selain dipasarkan ke luar daerah, greenhouse di Sumbersuko juga dibuka untuk wisata edukasi. Pengunjung dapat memetik melon secara langsung, menimbang hasil petikan, lalu membayarnya di lokasi dengan harga Rp25 ribu per kilogram. Tingkat kemanisan melon yang dilaporkan pengelola mencapai 14 brix.
Samsul berharap keberhasilan tersebut dapat mendorong desa lain di Kabupaten Pasuruan mengembangkan budidaya hortikultura modern untuk meningkatkan pendapatan desa. Ia juga mendorong pengembangan usaha BUMDes melalui perencanaan pembangunan desa dan Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD).
Samsul menambahkan, DPRD Kabupaten Pasuruan tengah membahas rancangan peraturan daerah mengenai penataan toko modern. Dalam draf yang disebutkannya, toko ritel modern nantinya diwajibkan menyediakan gerai khusus untuk memasarkan produk UMKM dan komoditas unggulan desa.
Penulis : Ahmad
Editor : Zainul Arifin


















Komentar