JOMBANG, RadarBangsa.co.id – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Wakil Rais Aam Syuriah PBNU Dr. KH. Afifuddin Muhajir dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi meresmikan Pameran dan Klinik Turots di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Kamis (27/8).
Pameran tersebut menjadi bagian dari rangkaian Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35. Kegiatan ini menghadirkan berbagai naskah kuno dan karya ulama Nusantara sebagai bagian dari upaya menjaga kesinambungan mata rantai keilmuan Islam di Indonesia.
Turut hadir Rais Syuriah PBNU KH. Syadid Jauhari, tim Nahdlatut Turots, serta sejumlah kepala OPD Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Khofifah menegaskan, turots bukan sekadar peninggalan masa lalu. Menurutnya, karya ulama terdahulu merupakan bagian penting dari mata rantai intelektual yang perlu dirawat, dikaji, dikembangkan, dan diperkenalkan kepada masyarakat luas.
“Turots bukan sekadar peninggalan, tetapi warisan mata rantai keilmuan ulama Nusantara yang harus dihidupkan, dikaji dan dikembangkan supaya menjadi referensi bagi dunia,” tegas Khofifah.
Pameran Turots menampilkan sejumlah koleksi, antara lain katalog naskah pesantren, sejarah NU dari masa ke masa, galeri ke-NU-an, jejak aksara di Nusantara, ragam naskah pesantren Nusantara, ma’radl kitab karya ulama Nusantara, serta ma’radl kitab karya masayikh PBNU.
Pengunjung juga dapat mengikuti Klinik Turots. Di lokasi tersebut, mereka bisa berkonsultasi mengenai naskah sekaligus melihat secara langsung proses digitalisasi dan restorasi manuskrip.
Khofifah mengatakan, kekayaan intelektual ulama Nusantara memiliki kedalaman keilmuan yang tetap relevan untuk membaca berbagai persoalan kontemporer. Karena itu, menurut dia, penggalian manuskrip perlu dilakukan secara serius melalui preservasi, digitalisasi, kajian, hingga pengembangan jejaring kemitraan internasional.
Ia mencontohkan pengembangan teknologi preservasi manuskrip yang pernah ditemuinya dalam sebuah expo inovasi pada 2019. Teknologi tersebut memungkinkan naskah yang telah lapuk diperkuat sehingga tulisan yang sebelumnya tidak terlihat dapat kembali terbaca.
“Saya menemukan bahwa ternyata kertas yang lapuk itu kalau dikasih dengan tisu kemudian dikasi jeli dengan kualifikasi khusus maka bisa kembali baik lagi kondisinya dan jadi lebih kuat. Dan tulisan yang tidak tampak itu jadi tampak,” kata Khofifah.
Upaya preservasi tersebut kemudian dikembangkan melalui kerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Riyadh. Menurut Khofifah, ketika karya-karya ulama Nusantara dipamerkan di sana, respons dari diplomat, pemerintah, hingga kalangan akademisi setempat sangat positif.
“Mereka kemudian mengenali pikiran dan kedalaman keilmuan ulama-ulama kita. Oleh karenanya, kita harus menguatkan format kemitraan kita tidak hanya dengan ulama yang punya karya-karya di Jawa Timur tapi ulama Nusantara,” ungkapnya.
Khofifah menilai Jawa Timur memiliki kekayaan tradisi keislaman yang dapat menjadi salah satu rujukan dunia, terutama dalam praktik Islam yang mengedepankan moderasi dan mampu hidup berdampingan di tengah keberagaman.
Ia juga melihat penguatan khazanah turots sejalan dengan momentum Muktamar ke-35 NU. Penerbitan, digitalisasi, preservasi, dan kajian karya ulama Nusantara dinilai dapat memperkaya referensi keilmuan Islam sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia dalam percaturan intelektual dunia.
“Saya optimis referensi kita akan makin kaya, bagaimana keilmuan ulama Nusantara dari ratusan tahun sampai dengan hari ini lalu, keilmuannya tetap update untuk bisa membaca berbagai fenomena hari ini dan yang akan datang,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Khofifah menyerahkan dua kompilasi karya ulama Jawa Timur, yakni Majmū`ah al-Muṣannafāt as-Sāmiyah li Ba`ḍ Ulamā’ Jawa asy-Syarqiyyah dan Majma al-Anwār min Rasā’il al-Akhyār. Kedua karya tersebut merupakan hasil kolaborasi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur dengan Nahdlatut Turots.
Penguatan kajian turots juga diarahkan ke lingkungan akademik. Khofifah menyampaikan bahwa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya telah memiliki program studi yang berkaitan dengan turots untuk jenjang master degree.
Sementara itu, Wakil Rais Aam PBNU KH. Afifuddin Muhajir mengatakan kebangkitan tradisi keilmuan ulama tidak dapat dilepaskan dari upaya menghidupkan kembali turots.
“Tidak akan ada kebangkitan ulama kalau tidak ada kebangkitan turots,” ujar Afifuddin.
Menurutnya, kitab-kitab turots merupakan warisan yang diteruskan dari generasi terdahulu kepada generasi berikutnya. Selain memuat ilmu agama, kitab tersebut juga menjadi perangkat penting untuk memahami sumber-sumber agama secara mendalam.
Afifuddin menyebut pesantren memiliki posisi strategis dalam memadukan tradisi kesalafan dengan perkembangan zaman. Menurutnya, proses tersebut membutuhkan perhatian terhadap kitab turots sebagai salah satu fondasi tradisi keilmuan pesantren.
“Pesantren ini menjadi memadukan kesalafan dan kemodernan. Unsur itu tidak mungkin terwujud tanpa memperhatikan kitab turots ini,” ujarnya.
Ia berharap perhatian terhadap turots terus berlanjut sehingga khazanah keilmuan ulama terdahulu dapat dilestarikan dan terus dikembangkan oleh generasi berikutnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar