LUMAJANG, RadarBangsa.co.id — Pemerintah Provinsi Jawa Timur memperkuat koordinasi lintas instansi untuk memastikan penanganan darurat erupsi Gunung Semeru berjalan terpadu, cepat, dan berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi. Gubernur Khofifah Indar Parawansa meninjau langsung distribusi logistik, kesiapan dapur umum, serta penataan pos pengungsian di Kecamatan Pronojiwo dan Candipuro, Kamis (20/11).
Kedatangan Khofifah ke Lumajang dilakukan hanya beberapa jam setelah ia tiba dari agenda Misi Dagang di Sulawesi Tenggara. Langkah cepat tersebut dilakukan untuk memantau langsung kondisi lapangan serta memastikan semua unsur penanganan bencana bekerja dalam satu alur koordinasi.
“Semua unsur harus bergerak cepat dan terintegrasi. Logistik, dapur umum, kesehatan, dan keselamatan warga harus menjadi satu kesatuan respons,” ujar Khofifah.
Pemprov Jatim mengirimkan sejumlah logistik penting untuk mendukung kebutuhan harian warga terdampak, terutama di titik pengungsian yang aksesnya terbatas. Bantuan itu mencakup 480 kaleng makanan siap saji, 480 kaleng lauk pauk, makanan berbahan ayam seperti nasi opor, nasi goreng, dan nasi kare masing-masing 240 kaleng, serta paket tambahan gizi berupa koktail buah dan kacang hijau sebanyak 360 kaleng.
Selain itu, ratusan selimut, terpal, family kit, dan puluhan dus air mineral turut dikirimkan. Pemprov memastikan logistik datang secara bertahap agar pengungsi tidak kekurangan kebutuhan dasar selama masa tanggap darurat.
“Distribusi bantuan harus tepat sasaran. Kami terus meng-update jumlah pengungsi agar penyaluran logistik sesuai kebutuhan,” kata Khofifah.
Dari total 346 pengungsi, sebagian besar sudah kembali ke rumah masing-masing karena situasi dianggap mulai aman. Namun mereka tetap berada dalam pemantauan petugas, sedangkan pengungsi yang masih bertahan diprioritaskan dalam penyaluran makanan, air bersih, dan kebutuhan gizi.
Salah satu titik penting yang ditinjau Gubernur adalah Dapur Umum Tagana di Balai Desa Sumberurip, Pronojiwo. Dapur ini telah menyiapkan 200 porsi makanan untuk pengungsi setiap pagi dan beroperasi sepanjang hari sesuai kebutuhan warga.
Petugas Tagana dibantu relawan lokal melakukan proses memasak, pengemasan, dan pendistribusian makanan ke pos pengungsian terdekat. Menu disesuaikan dengan kondisi cuaca dingin dan kebutuhan nutrisi kelompok rentan agar daya tahan tubuh tetap terjaga.
“Dapur umum ini merupakan jantung logistik di lapangan. Setiap keluarga harus mendapatkan makanan yang layak dan cukup,” ucap Khofifah.
Dalam kesempatan tersebut, Khofifah ikut mencoba memasak makanan siap saji yang dibawa Pemprov Jatim. Makanan itu kemudian dibagikan ke sejumlah pengungsi yang berada di SDN 4 Supiturang. Ia menilai dapur umum berjalan efektif dan terorganisasi dengan baik, meski harus beroperasi di tengah kondisi lingkungan yang masih labil akibat aktivitas vulkanik.
Penanganan darurat APG Semeru melibatkan berbagai unsur, mulai dari BPBD, Dinas Sosial, Tagana, Puskesmas, hingga pemerintah kabupaten. Seluruhnya bekerja melalui sistem komando terpadu agar pengambilan keputusan lebih cepat dan penyaluran bantuan tidak tumpang tindih.
BPBD memantau kondisi vulkanik dan akses evakuasi, Dinas Sosial mengendalikan dapur umum dan logistik, sementara tenaga kesehatan memastikan area pengungsian aman dari ancaman penyakit. Pemerintah kabupaten berperan sebagai pusat koordinasi zona terdampak.
“Kami tidak ingin ada jeda koordinasi. Semua bergerak berdasarkan data resmi dan kebutuhan real-time di lapangan,” kata Khofifah.
Keberadaan alat berat di wilayah terdampak, khususnya di Gumuk Emas Supiturang, juga merupakan bagian dari operasi terpadu. Alat berat dikerahkan untuk menggali material vulkanik dan membuka akses jalan agar bantuan dapat mencapai wilayah-wilayah yang sebelumnya terisolasi.
Khofifah menilai penataan ruang pengungsian harus menyesuaikan dinamika kebutuhan lapangan. Ruang tambahan dibuka agar proses distribusi logistik, layanan kesehatan, dan pelindungan keluarga bisa dilakukan dengan lebih mudah.
Di SDN 4 Supiturang, pengaturan antara ruang anak, ruang lansia, dan area keluarga dinilai cukup efektif. Namun Gubernur meminta ruang logistik diperluas agar proses sortir dan pembagian barang dapat dilakukan tanpa mengganggu aktivitas pengungsi.
“Logistik tidak boleh menumpuk di satu titik. Harus ada alur keluar-masuk yang teratur,” tegasnya.
Meski aktivitas erupsi menurun, Bupati Lumajang telah menetapkan status tanggap darurat selama tujuh hari melalui Keputusan Bupati Nomor 100.3.3.2/595/KEP/427.12/2025. Status ini memungkinkan percepatan pengadaan logistik, mobilisasi petugas, dan pembukaan akses darurat.
Menurut catatan pengamatan, APG Semeru berlangsung sejak pukul 14.13 hingga 18.11 WIB dengan luncuran lebih dari 13 kilometer. Meski getaran banjir sudah tidak terekam sejak Rabu malam pukul 19.56 WIB, status Awas tetap diberlakukan.
“Kami meminta warga tetap mengikuti arahan petugas, tidak memasuki zona bahaya, dan tetap memantau informasi resmi,” ujar Khofifah.
Lainnya:
- DPRD Musi Rawas Gaspol 4 Raperda Krusial Dibahas, Dari Tata Ruang hingga Ketertiban Daerah
- Banjir Sidoarjo Tak Kunjung Usai, Pemkab Gandeng BNPB Gaspol Rp209 M
- Sidoarjo Hapus Denda Pajak 2026, Warga Dikejar Deadline Oktober
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin








