LUMAJANG, RadarBangsa.co.id — Upaya pemerintah dalam merespons dampak Awan Panas Guguran (APG) Gunung Semeru tidak sekadar memastikan evakuasi berjalan aman. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa layanan kesehatan dan dukungan psikososial bagi pengungsi menjadi prioritas utama sejak hari pertama penanganan.
Ketika tiba di Lumajang, Kamis (20/11), Khofifah langsung memasuki area pengungsian di SDN 4 Supiturang, Pronojiwo. Di lokasi ini masih bertahan 64 jiwa dari total 346 pengungsi yang sempat tersebar di dua kecamatan. Sebagian warga kembali ke rumah mereka, namun banyak yang memilih bertahan karena kondisi lingkungan belum sepenuhnya aman.
“Kami ingin memastikan setiap pengungsi dipantau kesehatannya. Ada yang tensinya naik karena tekanan psikologis, ada risiko ISPA akibat abu. Semuanya harus diawasi tenaga kesehatan,” ujar Khofifah.
Tim kesehatan dari Puskesmas setempat telah diterjunkan sejak dini. Pemantauan dilakukan secara berjenjang, mulai dari pemeriksaan harian, pemberian obat, hingga asesmen kondisi mental dan stres ringan yang dialami penyintas.
Kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, dan penyandang disabilitas mendapatkan prioritas. Tidak sedikit lansia mengaku sulit tidur sejak APG terjadi. Sementara anak-anak menunjukkan tanda-tanda kejutan pascabencana, termasuk ketakutan pada suara gemuruh.
“Pengungsi bukan hanya butuh tempat aman, tetapi juga kenyamanan batin. Situasi bencana sering memicu kecemasan. Kami ingin penanganan psikososial dilakukan intensif,” jelas Khofifah.
Pemerintah menyiagakan tenaga kesehatan yang bekerja bergiliran untuk memastikan tidak ada gejala penyakit yang terlewat. Ruang anak, ruang lansia, dan ruang keluarga dipisahkan agar proses pelayanan lebih terarah.
Salah satu isu kesehatan yang mendapat perhatian adalah potensi Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Paparan abu vulkanik menjadi faktor risiko utama bagi anak dan lansia.
Tim medis menyediakan masker, vitamin, obat ISPA, serta alat kontrol tekanan darah. Pemeriksaan dilakukan minimal dua kali sehari untuk kelompok rentan. Petugas juga mengimbau agar pengungsi mengurangi aktivitas di luar tenda selama angin membawa debu vulkanik.
“Beberapa pengungsi menunjukkan gejala awal ISPA. Karena itu pemeriksaan dan pemberian obat dilakukan langsung di pos kesehatan,” kata salah satu petugas Puskesmas.
Selain layanan medis, dukungan psikososial menjadi elemen penting dalam pemulihan awal. Relawan Tagana, psikolog, dan pendamping sosial membuka layanan konseling untuk membantu warga pulih dari trauma.
Bagi anak-anak, ruang bermain sementara disiapkan. Khofifah sendiri membagikan paket mainan agar mereka memperoleh ruang pemulihan emosional. Aktivitas menggambar, membaca, dan permainan edukatif digelar agar mereka tidak terus berada dalam tekanan.
“Anak-anak harus segera merasa aman lagi. Kami ingin mereka punya ruang untuk kembali tersenyum,” ujar Khofifah.
Untuk orang dewasa, konseling kelompok dilakukan dengan pendekatan informal. Warga diajak bercerita mengenai pengalaman mereka saat APG, kekhawatiran tentang rumah, dan kebutuhan mendesak yang belum terpenuhi.
Pendamping sosial membantu mengidentifikasi stres berat atau gejala trauma yang perlu penanganan lebih intensif. Bila ditemukan kasus yang berisiko tinggi, petugas dapat merujuk langsung ke layanan kesehatan kabupaten.
Dalam tinjauannya, Gubernur menilai penataan ruang di SDN 4 Supiturang cukup memadai, namun tetap ia minta dilakukan penyempurnaan. Mobilitas warga perlu diatur agar tim medis mudah menjangkau semua pasien dan proses observasi berjalan lancar.
“Pembagiannya sudah cukup bagus, tapi perlu diatur lebih longgar sesuai kondisi lapangan. Ini penting untuk memudahkan tim kesehatan bekerja,” kata Khofifah.
Kebutuhan nutrisi bagi pengungsi juga menjadi perhatian. Dinas Sosial Jatim mengirimkan ratusan paket makanan siap saji, lauk pauk, minuman, serta paket tambahan gizi seperti kacang hijau dan koktail buah. Dapur umum di Balai Desa Sumberurip menyiapkan 200 porsi makanan setiap pagi.
Makanan yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan gizi, terutama bagi balita dan lansia. Hal ini dinilai penting untuk mencegah penurunan daya tahan tubuh selama masa pengungsian.
Meski getaran banjir dan aktivitas erupsi telah berhenti, Pemerintah Daerah Lumajang masih memberlakukan status tanggap darurat selama tujuh hari. Masyarakat diminta tetap berada di luar zona bahaya agar layanan kesehatan dapat menjangkau mereka tanpa hambatan.
“Kami ingin semua warga tetap waspada dan mengikuti arahan petugas,” tutup Khofifah.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin









