SEMARANG, RadarBangsa.co.id – Syukuran ke-22 Kopi Semawis di kawasan Gang Baru, Pecinan Semarang, Sabtu (25/7/2026), menjadi penanda dimulainya transformasi besar pengembangan wisata kuliner dan budaya di kawasan bersejarah tersebut. Setelah lebih dari dua dekade menjadi ikon wisata malam Kota Semarang, Waroeng Semawis akan dihentikan sementara untuk mempersiapkan konsep baru yang lebih inovatif dan adaptif terhadap perkembangan pariwisata.
Transformasi tersebut diharapkan mampu memperkuat daya saing kawasan Pecinan di tengah tumbuhnya berbagai destinasi kuliner baru di Kota Semarang. Pembaruan juga diarahkan untuk menghadirkan pengalaman wisata yang tidak hanya berfokus pada kuliner, tetapi juga budaya, sejarah, dan karakter khas Pecinan.
Ketua Kopi Semawis, Harjanto Halim, mengatakan penghentian sementara Waroeng Semawis merupakan bagian dari strategi pembaruan agar ikon wisata tersebut tetap relevan dengan kebutuhan wisatawan saat ini.
“Waroeng Semawis Juli ini sudah terakhir dulu. Kita akan kasih program baru. Karena kalau enggak ada pembaruan, makin lama makin surut karena persaingannya makin tinggi sekali,” ujar Harjanto.
Menurutnya, hampir seluruh pusat perbelanjaan di Semarang kini menjadikan sektor kuliner sebagai daya tarik utama. Karena itu, Waroeng Semawis perlu menawarkan pengalaman berbeda yang memadukan wisata kuliner dengan kekayaan budaya dan sejarah kawasan Pecinan.
Harjanto menjelaskan konsep baru yang tengah disiapkan bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan Kerabat Pecinan akan mencakup pengembangan kawasan melalui festival budaya serta pemanfaatan sejumlah titik potensial di Pecinan, termasuk Gang Baru.
Ia juga mendorong Pemerintah Kota Semarang mempercepat revitalisasi kawasan Pecinan. Penataan jalan, penerangan, ruang publik, hingga kawasan tepi sungai dinilai penting untuk memperkuat daya tarik wisata kawasan tersebut.
“Kalau itu dirapikan pasti akan menarik sekali. Pecinan Semarang punya klenteng-klenteng tua, kuliner yang beragam, dan suasana yang masih sangat natural. Potensinya bisa meledak kalau digarap dengan benar,” katanya.
Harjanto menilai terbentuknya Pokdarwis dan Kerabat Pecinan menjadi modal penting dalam pengembangan kawasan. Keterlibatan aktif masyarakat dianggap sebagai kunci keberhasilan transformasi wisata Pecinan ke depan.
“Motornya harus dari orang-orang Pecinan karena ini wilayah Pecinan. Kami dari Kopi Semawis siap mendukung dari belakang,” ungkapnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari, menyatakan dukungan terhadap langkah pembaruan yang dilakukan Kopi Semawis. Menurutnya, usia 22 tahun menunjukkan Kopi Semawis telah menjadi destinasi wisata yang matang dan membutuhkan inovasi agar tetap berkembang.
Ia berharap kolaborasi antara Kopi Semawis, Pokdarwis, Kerabat Pecinan, pedagang, dan Pemerintah Kota Semarang mampu menjadi titik awal kebangkitan baru kawasan Pecinan sebagai destinasi unggulan.
Dalam kesempatan tersebut, Indriyasari juga mengenang kedekatannya dengan Pasar Gang Baru sejak kecil. Pengalaman itu menjadi bukti kuatnya nilai sejarah dan budaya yang masih hidup di kawasan Pecinan Semarang.
Menurutnya, penghentian sementara Waroeng Semawis bukan akhir perjalanan ikon wisata kuliner tersebut. Sebaliknya, langkah itu menjadi awal transformasi menuju konsep yang lebih kuat dan berkelanjutan.
“Ini bukan sebuah akhir, tetapi awal perjalanan baru. Tingkatkan daya juang karena pasti tidak mudah, tetapi saya optimistis Kopi Semawis akan terus bertahan hingga 25 tahun bahkan 50 tahun ke depan,” tuturnya.
Syukuran ke-22 Kopi Semawis sekaligus menegaskan komitmen bersama antara pengelola, Pokdarwis, Kerabat Pecinan, pedagang, dan Pemerintah Kota Semarang untuk menghidupkan kembali denyut wisata kuliner dan budaya di kawasan Pecinan. Transformasi yang disiapkan diharapkan mampu memperkuat posisi Pecinan Semarang sebagai destinasi wisata berbasis sejarah, budaya, dan kuliner yang semakin kompetitif pada masa mendatang.
Penulis : Oki/Bandi
Editor : Zainul Arifin


















Komentar