SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Momentum Syawalan dimanfaatkan sebagai ruang konsolidasi gerakan pemuda Jawa Timur, sekaligus menguatkan partisipasi demokrasi menjelang Pemilu 2029. Forum yang digelar di Surabaya ini mempertemukan berbagai elemen kepemudaan lintas organisasi dan latar belakang.
Selain membahas pengembangan potensi generasi muda, forum tersebut juga menyoroti ancaman sikap apatis terhadap proses demokrasi yang dinilai masih menjadi tantangan serius di kalangan pemuda.
Ketua Panitia, As’ad Habibillah, menegaskan bahwa pemuda Jawa Timur memiliki potensi besar yang harus terus diasah. Ia menyebut, keberagaman latar belakang, mulai dari mahasiswa hingga organisasi seperti KNPI dan kelompok Cipayung, menjadi kekuatan strategis dalam pembangunan daerah.
Menurutnya, idealisme yang dimiliki pemuda, baik dalam kreativitas maupun minat dan bakat, merupakan modal penting yang tidak boleh diabaikan. “Pemuda memiliki potensi besar yang harus diarahkan secara tepat untuk kemajuan Jawa Timur,” ujarnya.
Dalam forum tersebut, dukungan juga datang dari sejumlah tokoh, di antaranya Lia Istifhama, Asruri Faizal, dan Aang Kunaifi yang dinilai konsisten mendorong keterlibatan pemuda.
Sementara itu, Asruri Faizal selaku Ketua Ruang Kolaborasi Pemuda menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar ajang silaturahmi. Ia menyebut forum ini sebagai wadah peningkatan kapasitas pemuda, termasuk dalam memahami regulasi dan tata kelola organisasi.
Ia mencontohkan Yogyakarta sebagai daerah yang dinilai berhasil dalam penguatan advokasi dan pengelolaan komunitas. “Pemuda harus paham regulasi, termasuk aspek administratif seperti SK, agar bisa berkontribusi dalam pembangunan,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menilai Jawa Timur memiliki sumber daya melimpah yang harus dimanfaatkan secara maksimal oleh generasi muda. Kompetisi sehat, menurutnya, menjadi kunci untuk mendorong peningkatan kualitas diri.
Ketua KPU Jawa Timur, Aang Kunaifi, dalam kesempatan tersebut menyoroti pentingnya peran aktif pemuda dalam demokrasi. Ia mengingatkan bahwa partisipasi politik tidak hanya berhenti pada saat pencoblosan.
“Pemilu tetap berjalan, tetapi kualitasnya sangat ditentukan oleh partisipasi publik. Jangan sampai ada sikap apatis terhadap proses demokrasi,” tegasnya.
Ia menambahkan, masyarakat memiliki ruang luas untuk terlibat, termasuk dalam memberikan masukan terhadap penyelenggara pemilu dan kebijakan yang ada.
Fenomena apatisme politik di kalangan pemuda menjadi perhatian serius menjelang Pemilu 2029. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, keterlibatan generasi muda justru menjadi faktor penentu kualitas demokrasi di masa depan.
Aang juga menekankan bahwa generasi muda harus adaptif dan kritis menghadapi perubahan zaman. Menurutnya, keterbukaan informasi saat ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat pengawasan publik terhadap proses demokrasi.
Di sisi lain, penguatan sektor pendidikan di Jawa Timur dinilai menjadi peluang besar dalam mencetak generasi muda yang lebih siap berkontribusi, baik di bidang sosial maupun politik.
Kegiatan Syawalan ini diharapkan menjadi titik awal lahirnya kolaborasi nyata antar pemuda Jawa Timur. Tidak hanya dalam pembangunan sosial, tetapi juga dalam memperkuat kualitas demokrasi yang lebih partisipatif.
“Penyelenggaraan pemilu tidak akan maksimal tanpa partisipasi aktif masyarakat, terutama generasi muda,” pungkas Aang Kunaifi.
Baca Juga:
- Ratusan Ibu di Bangkalan Raih Gelar SOTH
- Operasi Madago Raya 2022, kedepankan Soft Approach
- Polwan Polres Situbondo Sudah Cantik dan Sopan Juga Peduli Janda Lansia
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin








