SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Anggota DPD RI, Lia Istifhama, menyoroti tingginya nilai impor kakao Indonesia yang mencapai Rp18,7 triliun. Sorotan ini mencuat di tengah posisi Indonesia sebagai salah satu produsen kakao terbesar di dunia.
Ia menilai kondisi tersebut sebagai ironi, terlebih setelah Prabowo Subianto turut menegaskan pentingnya evaluasi kebijakan impor komoditas strategis tersebut.
Lia mengapresiasi ketegasan pemerintah dalam menyoroti besarnya angka impor kakao. Namun, ia mempertanyakan arah kebijakan yang dinilai belum selaras dengan potensi produksi nasional yang melimpah.
Berdasarkan data tahun 2022, produksi kakao Indonesia mencapai sekitar 739.483 ton, menempatkan Indonesia di posisi ketiga dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Meski demikian, tingginya impor justru menimbulkan tanda tanya besar terkait tata kelola industri kakao nasional.
Menurut Lia, kondisi ini bisa mengindikasikan adanya kesenjangan antara sektor hulu dan kebutuhan industri hilir. Ia menilai perlu ada kejelasan apakah impor dilakukan karena defisit bahan baku atau tingginya permintaan industri dalam negeri.
“Saya sangat mendukung dan mengapresiasi ketegasan Bapak Prabowo Subianto yang menyoroti impor kakao Rp18,7 triliun. Ini sangat ironis, mengingat Indonesia adalah produsen kakao terbesar ketiga dunia,” ujar Lia.
Ia menambahkan, “Jika kita masuk dalam jajaran produsen terbesar dunia, seharusnya kita mampu menjadi pengekspor. Tapi jika justru mengalami defisit, maka perlu dipertanyakan kebutuhan industri kakao nasional.”
Lia juga menyoroti lemahnya penguatan sektor hulu hingga hilir dalam industri kakao nasional. Menurutnya, tanpa strategi hilirisasi yang kuat, Indonesia berisiko terus bergantung pada impor meski memiliki sumber daya melimpah.
Situasi ini dinilai berdampak pada daya saing industri nasional serta potensi hilangnya nilai tambah dari komoditas kakao. Ia menekankan pentingnya memperkuat rantai pasok agar Indonesia tidak hanya menjadi produsen, tetapi juga pemain utama dalam perdagangan global.
“Ini momentum untuk memperbaiki tata kelola industri kakao kita, agar tidak hanya kuat di produksi, tetapi juga unggul dalam hilirisasi dan ekspor,” pungkas Lia.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar