Pemotongan TKD Ancam Pendidikan Inklusi, Senator DPD RI asal Jawa Timur Lia Istifhama Minta Revisi

- Redaksi

Jumat, 21 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lia Istifhama saat meninjau layanan pendidikan inklusi di SDN 13 Gresik. (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

Lia Istifhama saat meninjau layanan pendidikan inklusi di SDN 13 Gresik. (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Pemotongan Dana Transfer ke Daerah (TKD) oleh pemerintah pusat memantik kekhawatiran baru terkait keberlanjutan layanan publik di tingkat daerah. Senator DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama, mendesak pemerintah untuk meninjau ulang kebijakan tersebut karena dinilai berdampak langsung pada pendidikan inklusi dan jaminan kesehatan bagi kelompok rentan. Hal ini ia sampaikan saat meninjau proses pembelajaran di UPT SDN 13 Gresik, Rabu (19/11/2025).

Dalam kunjungan itu, Lia melihat sejumlah anak yang sebelumnya menjadi peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) kini tidak lagi memperoleh jaminan BPJS. Ia menilai kondisi tersebut merupakan konsekuensi nyata dari pemotongan TKD Gresik yang mencapai Rp571 miliar. “Pemangkasan ini berpotensi mengganggu kualitas layanan publik, terutama pendidikan inklusi dan perlindungan kesehatan bagi warga miskin,” ujarnya.

Lia menerangkan bahwa pemotongan TKD bukan hanya menekan stabilitas fiskal daerah, tetapi juga menghadang layanan non-infrastruktur seperti pendidikan inklusi yang membutuhkan dukungan tenaga pendamping dan fasilitas memadai. Di SDN 13 Gresik, sekolah rujukan inklusi tersebut hanya mampu menerima lima siswa berkebutuhan khusus dari total 28 hingga 40 pendaftar tiap tahun. “Pembatasan ini terjadi karena keterbatasan anggaran dan minimnya guru pendamping khusus,” tegasnya.

Ia juga menolak anggapan bahwa dana mengendap di rekening daerah dapat menjadi alasan pemotongan TKD. “Tidak bisa semua daerah dipukul rata. Kepala daerah perlu cadangan untuk kondisi darurat,” kata Lia, yang juga dikenal sebagai senator terpopuler Jawa Timur versi ARCI.

Sementara itu, Kepala SDN 13 Gresik, Sri Endriana, menjelaskan bahwa sejak 2013–2015 sekolah tidak lagi menerima BOS Pendamping ABK sebesar Rp115.000 per siswa. “Kami diwajibkan menerima inklusi, tetapi tidak ada anggaran pendukung, sementara kebutuhan ABK sangat kompleks,” katanya.

Lia mendesak Presiden Prabowo Subianto membuka ruang dialog dengan pemerintah daerah dan mengevaluasi ulang indikator pemotongan. “Jangan sampai pendidikan inklusi dan kesehatan masyarakat menjadi korban kebijakan fiskal yang tidak mencerminkan kondisi lapangan,” tutupnya.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Mesin Birokrasi Kalbar Disetel Ulang, 26 Pejabat Dilantik
Lamongan Genjot Kampanye Antikorupsi Lewat Edukasi dan Aktivitas Publik
Banyuwangi Resmikan Universitas Doktor Soekardjo
Turba PWNU Jatim di Malang Raya Tegaskan Peran NU bagi Harmoni Daerah
Pemerintah Pacu Digitalisasi Bansos, Malang Minta Akses Publik Diperkuat
Musda Dekopinda Madiun Tegaskan Penguatan Koperasi dan UMKM Lokal
Gen Z Diajak Menyelami Budaya Kedu di Festival Komukino 2025
Khofifah Tegaskan Tanggul Gedangan Trenggalek Selesai, 240 Ha Sawah Aman

Berita Terkait

Jumat, 5 Desember 2025 - 11:37 WIB

Lamongan Genjot Kampanye Antikorupsi Lewat Edukasi dan Aktivitas Publik

Jumat, 5 Desember 2025 - 11:13 WIB

Banyuwangi Resmikan Universitas Doktor Soekardjo

Jumat, 5 Desember 2025 - 10:59 WIB

Turba PWNU Jatim di Malang Raya Tegaskan Peran NU bagi Harmoni Daerah

Jumat, 5 Desember 2025 - 10:53 WIB

Pemerintah Pacu Digitalisasi Bansos, Malang Minta Akses Publik Diperkuat

Jumat, 5 Desember 2025 - 10:37 WIB

Musda Dekopinda Madiun Tegaskan Penguatan Koperasi dan UMKM Lokal

Berita Terbaru

Budaya

Budaya Kedu Mengemuka di Komukino Fest 2025 di Semarang

Jumat, 5 Des 2025 - 18:44 WIB