Ponpes Canga’an Bangil Pasuruan, Jejak Pesantren Tertua Enam Abad yang Jadi Pusat Dakwah Ulama Nusantara

Kamis, 19 Februari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kompleks Pondok Pesantren Canga’an di Bangil, Kabupaten Pasuruan, Kamis (19/2/2026). (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

Kompleks Pondok Pesantren Canga’an di Bangil, Kabupaten Pasuruan, Kamis (19/2/2026). (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

PASURUAN, RadarBangsa.co.id – Bangil sebagai ibu kota Kabupaten Pasuruan menyimpan jejak panjang peradaban Islam di Jawa Timur. Salah satu penandanya adalah Pondok Pesantren Canga’an, lembaga pendidikan Islam yang berdiri sejak sekitar 1427 Masehi dan diyakini sebagai salah satu pesantren tertua di Jawa Timur, bahkan di Indonesia.

Keberadaan Ponpes Canga’an bukan sekadar institusi pendidikan, melainkan episentrum dakwah yang melahirkan dan menempa banyak ulama besar Nusantara. Selama lebih dari enam abad, pesantren ini menjadi saksi perkembangan syiar Islam di kawasan tapal kuda hingga Madura.

Pengasuh Ponpes Canga’an, KH Achmad Ridlo’i Cholili, menuturkan bahwa cikal bakal pesantren tidak lepas dari sosok karismatik KH Abdul Qodir yang dikenal sebagai Mbah Lowo Ijo. Dari garis keturunan inilah estafet dakwah dan pendidikan Islam terus berlanjut lintas generasi.

Nama “Canga’an” sendiri, lanjutnya, diberikan oleh KH Sayyidin—putra Mbah Lowo Ijo—atas perintah gurunya.

“Dulu ayah saya diminta gurunya untuk memberi nama Pondok Canga’an ini. Ayah saya, Kiai Sayyidin, yang menamakan,” ujarnya di sela aktivitas pesantren, Kamis (19/2/2026).

Sebagai penerus kedelapan, Ridlo’i menyebut banyak ulama besar pernah menimba ilmu di pesantren tersebut. Di antaranya Syaikhona Kholil Bangkalan, KH Hasyim Asy’ari, hingga KH Chasbullah.

Jejak historis itu masih terawat hingga kini. Salah satunya berupa kamar santri yang pernah ditempati para ulama tersebut dan dijadikan tempat tabarukan oleh para peziarah.

“Banyak yang datang untuk tabarukan. Kami rawat agar masyarakat tahu sejarah para ulama yang pernah mondok di sini,” jelasnya.

Tak hanya kamar santri, peninggalan lain adalah sumur yang konon digali oleh Syaikhona Kholil saat Bangil mengalami kemarau panjang. Hingga kini, air sumur tersebut masih dimanfaatkan santri dan warga sekitar.

“Ada kisah beliau diutus menggali sumur agar airnya bisa dinikmati santri dan masyarakat,” terangnya.

Cerita karomah juga melekat pada kentongan pesantren. Konon, saat dibunyikan oleh Syaikhona Kholil, suaranya diyakini terdengar hingga Bangkalan, Madura.

Selain itu, terdapat pohon sawo bercabang tiga dari akar yang menjadi simbol tauhid: sifat wajib, jaiz, dan muhal bagi Allah. Simbol-simbol tersebut memperkuat identitas pesantren sebagai penjaga tradisi keilmuan klasik.

Sistem ribath atau asrama berbasis daerah asal santri juga masih dipertahankan, seperti Ribath Bangkalan, Sumenep, Kudus, hingga Bonang. Tradisi ini menunjukkan kuatnya jaringan dakwah pesantren lintas wilayah sejak masa lampau.

“Banyak peninggalan bersejarah yang masih kami simpan sampai sekarang,” pungkas Ridlo’i.

Salah satu kebanggaan utama pesantren adalah keteguhan menjaga sanad Ilmu Tauhid. Pengajaran masih menggunakan kitab warisan tulisan tangan bermakna Jawa Pegon, memastikan kemurnian ajaran tetap terjaga.

Seiring perkembangan zaman, pesantren juga bertransformasi. Jika awalnya hanya menerima santri laki-laki, kini pendidikan putri telah dibuka.

Ketua Yayasan Roudlotul Aqo’idi Canga’an Bangil, Muhammad Ali Bukhaiti, menjelaskan Pondok Pesantren Putri Roudlotul Aqo’idi didirikan pada 1978.

Nama tersebut mengandung filosofi mendalam: tempat yang indah, sejuk, dan nyaman untuk memperkuat aqidah Islam Ahlussunah wal Jamaah.

“Harapannya para santriwati belajar di lingkungan yang nyaman untuk memperkuat aqidah,” ujarnya.

Perkembangan berikutnya, pendidikan formal turut dihadirkan, mulai jenjang SMP hingga SMA dan SMK.

“Awalnya fokus ngaji Al-Qur’an bagi anak perempuan sekitar pondok, lalu berkembang menjadi madrasah hingga sekolah formal,” tutupnya.

Keberadaan Ponpes Canga’an hari ini bukan hanya warisan sejarah, tetapi juga benteng keilmuan Islam yang terus hidup di tengah modernitas.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Dari Kampus ke Kampus, Anggota DPD RI Asal Jawa Timur Lia Istifhama Ajak Mahasiswa Belajar Pengabdian
Biro Adpim Jatim Raih Penghargaan, Literasi Digital Santri Jadi Perhatian
Polres Lamongan Gelar Apel Satgas Polisi Jogo Sekolah
SMPN 1 Bangsalsari Jember Kembangkan Gulat, Siapkan Atlet Pelajar ke Popda Jatim
Festival Film Santriwati Warnai Penutupan HSN 2026 di Lamongan
Program SIKAP Jatim Raih Penghargaan Nasional, 1.548 Sekolah Jadi Penggerak Ketahanan Pangan
TKA SMKN 8 Malang Diikuti 391 Murid, Khofifah Turun Langsung
Kapolres Lamongan Ajak Pelajar SMPN 1 Jauhi Narkoba Lewat POLIDIK

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 18:41

Dari Kampus ke Kampus, Anggota DPD RI Asal Jawa Timur Lia Istifhama Ajak Mahasiswa Belajar Pengabdian

Jumat, 30 Oktober 2026 - 10:14

Biro Adpim Jatim Raih Penghargaan, Literasi Digital Santri Jadi Perhatian

Kamis, 29 Oktober 2026 - 11:08

Polres Lamongan Gelar Apel Satgas Polisi Jogo Sekolah

Kamis, 29 Oktober 2026 - 08:22

SMPN 1 Bangsalsari Jember Kembangkan Gulat, Siapkan Atlet Pelajar ke Popda Jatim

Rabu, 28 Oktober 2026 - 16:54

Festival Film Santriwati Warnai Penutupan HSN 2026 di Lamongan

Berita Terbaru