LAMONGAN, RadarBangsa.co.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah tidak hanya memberi manfaat langsung bagi ribuan siswa sekolah dasar di Kabupaten Lamongan. Di sisi lain, program ini juga menghadirkan peluang kerja baru bagi ibu rumah tangga, sekaligus menggerakkan roda ekonomi desa.
Di Kecamatan Tikung, sejumlah relawan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bakalanpule tampak sibuk mempersiapkan paket makanan bergizi pada Kamis (28/8/2025) dini hari. Proses pemasakan dilakukan secara higienis dengan memperhatikan standar gizi yang ditetapkan, sebelum kemudian didistribusikan ke sekolah-sekolah.
Imroatul Faizah (30), warga Dusun Pule yang kini menjadi relawan MBG di SPPG Bakalanpule, mengaku bersyukur bisa terlibat langsung dalam program tersebut. Ia menyebut MBG tidak hanya bermanfaat bagi anak-anak, tetapi juga memberikan penghasilan tambahan bagi keluarganya.
“Alhamdulillah, sekarang saya punya pekerjaan tetap. Sebelumnya saya tidak punya penghasilan. Anak saya di sekolah dapat makan bergizi gratis, sementara saya ikut memasak di sini. Terima kasih Pak Presiden, semoga program MBG bisa berlanjut terus,” ungkap Imro.
Pengalaman serupa dirasakan Fani Abdullah Fiqih, relawan dapur MBG asal Dusun Tikung. Bagi Fani, keterlibatannya dalam program ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan juga bentuk kontribusi untuk lingkungan.
“Saya senang sekali bisa bekerja dan menyajikan paket makan bergizi gratis untuk siswa-siswi di sekolah tempat saya dulu belajar. Selain itu, saya juga bisa membantu perekonomian keluarga, termasuk membantu orang tua saya,” tutur Fani.
Program MBG merupakan salah satu inisiatif pemerintah pusat dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak usia sekolah. Dengan menyediakan makanan bergizi di sekolah, diharapkan tumbuh kembang anak dapat lebih optimal sekaligus menekan angka stunting yang masih menjadi tantangan di sejumlah daerah.
Di Lamongan, program ini mendapat sambutan positif dari masyarakat. Kehadirannya tidak hanya mengurangi beban biaya keluarga dalam pemenuhan gizi anak, tetapi juga membuka lapangan kerja baru bagi para ibu rumah tangga di desa. Model pemberdayaan berbasis komunitas ini terbukti mampu menghadirkan manfaat ganda, baik di bidang kesehatan maupun ekonomi lokal.
“Program ini menunjukkan bahwa pemenuhan gizi anak bisa berjalan seiring dengan pemberdayaan masyarakat. Anak-anak mendapat asupan sehat, sementara ibu-ibu bisa produktif dan berpenghasilan,” ujar salah satu pengelola SPPG Bakalanpule.
Dengan antusiasme masyarakat yang tinggi, program MBG di Lamongan diperkirakan akan terus berkembang. Harapannya, manfaat gizi seimbang yang diterima anak-anak sekolah juga sejalan dengan peningkatan kesejahteraan keluarga di desa-desa.








