SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Ribuan jamaah memadati Masjid Nasional Al Akbar Surabaya pada Ahad (3/5/2026) dalam Tabligh Akbar Milad ke-39 Yayasan Al Muslim Jawa Timur. Momentum hampir empat dekade pengabdian di bidang pendidikan Islam ini menjadi penegasan penting tentang peran lembaga pendidikan dalam membangun generasi muda yang berkarakter dan berdaya saing.
Mengusung tema “Faith in Action, Inspiring Generation”, kegiatan ini bukan sekadar seremoni peringatan hari jadi. Di tengah tantangan sosial, krisis moral, dan perubahan zaman yang cepat, penguatan pendidikan berbasis nilai keislaman dinilai menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat.
Selama 39 tahun, Yayasan Al Muslim Jawa Timur terus menempatkan pendidikan sebagai instrumen strategis untuk membangun kualitas sumber daya manusia. Lembaga ini dinilai memiliki kontribusi nyata dalam mencetak generasi Muslim yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki fondasi akhlak yang kuat.
Ketua Bidang Non-Pendidikan Yayasan Al Muslim Jawa Timur, Ahmad Fadil Awaludin, mengatakan perjalanan panjang lembaga tersebut bukan sesuatu yang mudah, karena diwarnai berbagai tantangan dan dinamika.
“Alhamdulillah, 39 tahun bukan perjalanan yang ringan. Setiap fase membawa ujian dan tantangan, tetapi semua itu justru memperkuat komitmen kami untuk terus melahirkan generasi Muslim yang berkualitas dan berkontribusi bagi masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, pendidikan Islam saat ini memiliki tanggung jawab besar dalam menjawab persoalan publik, mulai dari degradasi moral, tantangan digitalisasi, hingga kebutuhan kepemimpinan masa depan. Karena itu, pendidikan harus mampu melahirkan generasi yang tidak hanya paham agama, tetapi juga aktif memberi solusi di tengah masyarakat.
Acara puncak diisi tausiyah oleh pendakwah nasional Wijayanto yang menyoroti pentingnya iman yang diwujudkan dalam tindakan nyata.
Dalam ceramahnya, Wijayanto menegaskan bahwa generasi inspiratif lahir dari proses perubahan yang konsisten. Ia menyebut ada lima gerakan Qur’ani yang menjadi fondasi pembentukan karakter, yakni perubahan, kebangkitan, penyucian diri, penataan hidup, dan membangun harapan baru.
“Hijrah sejati bukan hanya berpindah tempat, tetapi perubahan dalam cara berpikir, keyakinan, dan perilaku. Itulah yang akan membentuk generasi yang kuat dan membawa manfaat luas,” tegasnya.
Pesan tersebut dinilai relevan dengan kondisi masyarakat saat ini, terutama bagi kalangan muda yang menghadapi tantangan besar di era digital. Pendidikan berbasis nilai dinilai menjadi benteng utama dalam menjaga arah kehidupan generasi penerus bangsa.
Selain tausiyah, kegiatan ini juga menjadi ruang konsolidasi antara lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat dalam memperkuat ekosistem pendidikan Islam. Hal ini penting karena pembentukan karakter anak tidak hanya bergantung pada sekolah, tetapi juga dukungan lingkungan sekitar.
Ketua Pelaksana Milad ke-39 Yayasan Al Muslim, Nufus Farichah, menyebut momentum milad menjadi pengingat bahwa lembaga pendidikan harus terus bergerak menjawab kebutuhan zaman.
“Milad ini menjadi titik refleksi sekaligus penguatan komitmen untuk terus hadir memberi manfaat, membangun karakter, dan menginspirasi masyarakat luas,” katanya.
Tabligh Akbar Milad ke-39 ini menegaskan bahwa pendidikan Islam tidak hanya bicara ruang kelas, tetapi juga membangun fondasi sosial yang berdampak langsung pada masyarakat. Di tengah perubahan sosial yang semakin kompleks, penguatan nilai, karakter, dan kepemimpinan generasi muda menjadi kebutuhan nyata untuk masa depan bangsa.
“Jangan tunda kebaikan. Kerjakan apa yang kamu tulis, dan tulislah apa yang akan kamu kerjakan,” pungkas Wijayanto.
Lainnya:
- Bupati Asahan Gandeng Aisyiyah, Siapkan Langkah Nyata Perkuat Pendidikan dan Ketahanan Sosial Warga
- Hardiknas 2026, Bupati Jember Jamin Tunjangan Guru Utuh dan PPPK Tuntas
- Aksi Biru Lamongan Tekan 1.100 Anak Putus Sekolah, Perintis Genjot Akses Pendidikan
Penulis : Rino
Editor : Zainul Arifin








