MATARAM, RadarBangsa.co.id – RSUD H. Moh. Ruslan menghadirkan sebuah terobosan inovatif bernama SiPINTER, singkatan dari Sistem Peminjaman dan Pengembalian Instrumen Terintegrasi. Sistem ini terintegrasi langsung dengan SIM-RS (Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit) dan diharapkan menjadi solusi tepat dalam pengawasan serta pengelolaan distribusi instrumen steril.
SiPINTER mencakup pengelolaan mulai dari tahap precleaning, cleaning, packing, labelling, hingga proses sterilisasi, penyimpanan, dan pendistribusian. Tujuannya adalah untuk memastikan setiap instrumen medis dikelola secara efektif dan sesuai standar.
Direktur RSUD H. Moh. Ruslan, dr. H. Ni Ketut Eka Nurhayati, Sp.OG., Subsp. F.E.R., M.Kes., M.Sc., menjelaskan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan, khususnya dalam desain, produksi, dan penggunaan alat medis, telah memberikan manfaat besar bagi pasien, baik dalam operasi maupun perawatan.
“Digitalisasi dalam pengelolaan CSSD (Central Sterile Supply Department) sangat penting untuk meningkatkan efisiensi, akurasi, dan keamanan dalam proses sterilisasi instrumen medis. Hal ini berkontribusi pada pencegahan infeksi nosokomial dan peningkatan keselamatan pasien,” ujar dr. Eka, Kamis (3/7/2025).
Lebih lanjut, dr. Eka mengungkapkan bahwa hasil monitoring dan evaluasi selama tiga bulan menunjukkan dampak positif terhadap peningkatan tanggung jawab dan kedisiplinan petugas dalam penggunaan serta perlakuan instrumen medis sesuai prosedur.
“Instrumen medis adalah aset rumah sakit yang mahal. Pengadaannya membutuhkan anggaran besar, sehingga harus kita jaga bersama agar dapat digunakan secara berkelanjutan,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa digitalisasi pengelolaan CSSD bukan sekadar mengikuti tren teknologi, tetapi juga merupakan investasi penting untuk meningkatkan mutu layanan, efisiensi operasional, dan keamanan pasien secara menyeluruh.
Lainnya:
- Tekan Stunting, Bangkalan Genjot Tanam Padi Biofortifikasi Kaya Zat Besi
- May Day 2026: Saat Buruh Masih Rentan, BPJS Ketenagakerjaan Cairkan Santunan Rp744 Juta di Lamongan
- Darurat Lapangan Kerja, Wamenaker Ungkap 155 Juta Pekerja Masih Bertahan di Sektor Informal
Penulis : Aini
Editor : Zainul Arifin








