SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Pemerintah Provinsi Jawa Timur memperluas akses pendidikan dengan meluncurkan lebih dari 143 ribu kuota beasiswa dan keringanan biaya pendidikan bagi pelajar SMA/SMK swasta serta mahasiswa baru perguruan tinggi swasta (PTS). Program yang diluncurkan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jumat (19/6/2026), itu menjadi bagian dari upaya menekan angka anak tidak sekolah sekaligus memperluas kesempatan masyarakat memperoleh pendidikan yang layak.
Sebanyak 81.131 kuota dialokasikan untuk siswa SMA/SMK swasta dalam bentuk beasiswa penuh maupun potongan biaya pendidikan. Sementara 62.000 kuota lainnya disiapkan bagi calon mahasiswa baru di 84 perguruan tinggi swasta yang telah berkomitmen memberikan beasiswa, keringanan biaya kuliah, hingga bantuan biaya hidup.
Program tersebut lahir dari kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan lembaga pendidikan swasta. Sinergi itu diharapkan mampu menjawab keterbatasan daya tampung sekolah negeri yang setiap tahun menjadi persoalan bagi lulusan SMP dan MTs di Jawa Timur.
Berdasarkan data Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, jumlah lulusan SMP/MTs/sederajat pada 2026 mencapai 618.479 siswa. Di sisi lain, daya tampung SMA dan SMK negeri hanya tersedia untuk 244.621 peserta didik atau sekitar 39,55 persen dari total lulusan.
Artinya, sekitar 373.858 lulusan atau 60,45 persen harus melanjutkan pendidikan melalui sekolah swasta maupun jalur pendidikan lainnya. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah daerah memperkuat kemitraan dengan sekolah swasta dan perguruan tinggi swasta agar tidak terjadi kesenjangan akses pendidikan.
“Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik. Di balik setiap penerima beasiswa terdapat harapan orang tua, semangat belajar anak-anak kita, serta peluang lahirnya generasi masa depan Jawa Timur yang lebih unggul dan berdaya saing,” ujar Khofifah.
Ia menilai perluasan akses pendidikan menjadi investasi jangka panjang dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Karena itu, pemerintah berupaya memastikan keterbatasan ekonomi tidak menjadi alasan seorang anak menghentikan pendidikan.
“Ini adalah tantangan kita bersama. Artinya, sekolah negeri baru mampu mengakomodasi sekitar 39,55 persen dari total lulusan. Masih terdapat sekitar 373.858 anak atau 60,45 persen lulusan yang harus melanjutkan pendidikan melalui sekolah swasta maupun jalur pendidikan lainnya. Insya Allah, dengan program ini bisa menutup gap pendidikan kita,” katanya.
Khofifah juga mengungkapkan jumlah sekolah swasta yang ikut berpartisipasi dalam program tersebut mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Pada tahun ajaran 2025/2026 terdapat 1.772 sekolah yang terlibat, terdiri atas 687 SMA swasta dan 1.085 SMK swasta.
Memasuki tahun ajaran 2026/2027, jumlah itu meningkat menjadi 2.106 sekolah, terdiri atas 860 SMA swasta dan 1.246 SMK swasta. Dengan demikian, terdapat penambahan 334 sekolah atau meningkat sekitar 18,84 persen dibanding tahun sebelumnya.
Pada jenjang SMA dan SMK swasta, sebanyak 44.421 siswa menerima beasiswa penuh. Selain itu, terdapat 36.710 siswa yang memperoleh potongan biaya pendidikan berupa pembebasan uang gedung, potongan SPP, maupun bentuk bantuan pendidikan lainnya.
Secara keseluruhan, jumlah penerima manfaat mencapai 81.131 siswa pada 2026 atau bertambah sekitar 8.290 penerima dibandingkan tahun sebelumnya yang berjumlah 72.841 siswa. Sementara di jenjang pendidikan tinggi, 84 perguruan tinggi swasta telah menyediakan sekitar 62.000 kuota beasiswa dan bantuan biaya pendidikan.
Menurut Khofifah, keberhasilan memperluas akses pendidikan turut berkontribusi terhadap prestasi Jawa Timur di tingkat nasional. Selama tujuh tahun berturut-turut, provinsi ini tercatat sebagai daerah dengan jumlah peserta didik terbanyak yang diterima di perguruan tinggi negeri melalui berbagai jalur seleksi nasional.
“Alhamdulillah, usaha kita membuahkan hasil karena selama tujuh tahun berturut-turut Jawa Timur menjadi provinsi dengan jumlah peserta didik terbanyak yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri melalui berbagai jalur seleksi nasional. Capaian tersebut menjadi bukti bahwa ketika akses pendidikan diperluas dan kesempatan belajar dibuka seluas-luasnya, maka semakin banyak anak-anak Jawa Timur mampu meraih prestasi,” ungkapnya.
Ia menegaskan program beasiswa tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah menekan angka anak tidak sekolah (ATS) sekaligus meningkatkan angka partisipasi kasar (APK). Pemerintah juga mengusung prinsip no one left behind agar seluruh anak memiliki kesempatan yang sama memperoleh pendidikan berkualitas.
“Ini adalah bentuk kolaborasi yang terbangun antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan lembaga pendidikan swasta dalam memastikan setiap anak memperoleh kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan yang berkualitas. Melalui program ini, kita ingin memastikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang bagi anak-anak untuk meraih masa depan yang lebih baik,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Gubernur Khofifah juga memberikan penghargaan kepada sekolah swasta yang berkontribusi menyediakan beasiswa terbanyak. Penghargaan tersebut diberikan kepada 10 SMA swasta dan 10 SMK swasta sebagai bentuk apresiasi atas dukungan dalam memperluas akses pendidikan di Jawa Timur.
Khofifah berharap sinergi antara pemerintah dan lembaga pendidikan swasta terus diperkuat agar semakin banyak anak memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan. “Terakhir, saya ingin menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah bersinergi mendukung perluasan akses pendidikan bagi masyarakat Jawa Timur. Karena sesungguhnya tidak boleh ada satu pun anak Jawa Timur yang tertinggal dari pendidikan hanya karena alasan ekonomi. Terima kasih sekali lagi atas sinergitasnya,” pungkasnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar