Ancaman Siber Kuantum, Pakar Desak Indonesia Bersiap dari Sekarang

Kamis, 22 Oktober 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Para pembicara dari ITB, BRIN, dan KORIKA dalam diskusi AICX 2026 yang diselenggarakan ITSEC Asia di Bali Beach Convention Center, Sanur, Bali. (Dok. Ho/RadarBangsa.co.id)

Para pembicara dari ITB, BRIN, dan KORIKA dalam diskusi AICX 2026 yang diselenggarakan ITSEC Asia di Bali Beach Convention Center, Sanur, Bali. (Dok. Ho/RadarBangsa.co.id)

BALI, RadarBangsa.co.id — Indonesia perlu mulai menyiapkan sistem keamanan siber untuk menghadapi potensi ancaman komputasi kuantum, meski teknologi tersebut saat ini belum mampu memecahkan enkripsi RSA yang digunakan secara luas. Persiapan dini diperlukan karena data terenkripsi yang dikumpulkan sekarang berpotensi dibuka pada masa mendatang.

Peringatan itu mengemuka dalam AICX 2026 yang digelar ITSEC Asia di Bali Beach Convention Center, Sanur, Bali. Forum tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, dan pelaku industri untuk membahas kesiapan Indonesia menghadapi perkembangan teknologi kuantum serta dampaknya terhadap keamanan digital.

Salah satu risiko yang dibahas adalah harvest now, decrypt later. Dalam skenario ini, pihak yang tidak bertanggung jawab mengumpulkan data terenkripsi sekarang dengan harapan dapat mendekripsinya ketika teknologi yang dibutuhkan sudah tersedia.

Vice President Director/CTO sekaligus Co-Founder ITSEC Asia, Marek Bialoglowy, mengatakan organisasi perlu memetakan sistem kriptografi yang digunakan, mengenali data yang membutuhkan perlindungan jangka panjang, dan merencanakan migrasi menuju metode yang dirancang untuk menghadapi serangan berbasis komputasi kuantum.

“Persiapan menghadapi ancaman kuantum harus dimulai sekarang, bukan menunggu hingga komputer kuantum mampu memecahkan sistem enkripsi yang kita andalkan,” ujar Marek.

Menurut dia, proses migrasi membutuhkan waktu. Karena itu, perlindungan aset digital dan sistem yang menopang pengembangan kecerdasan artifisial (AI) perlu dipertimbangkan sejak tahap perencanaan.

Guru Besar Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Andriyan Bayu Suksmono, juga mengingatkan pentingnya mengantisipasi kemungkinan kemajuan teknologi kuantum yang lebih cepat dari perkiraan.

Ia menyebut sejumlah prediksi memperkirakan terobosan komputasi kuantum terjadi pada 2030–2035, sementara perkiraan lain menempatkannya lebih jauh. Andriyan berpandangan Indonesia perlu mempersiapkan diri dengan mempertimbangkan skenario paling awal, yakni 2030.

Salah satu pendekatan yang dibahas adalah post-quantum cryptography (PQC), yaitu metode kriptografi yang dirancang untuk menghadapi serangan komputer kuantum. Menurut Andriyan, algoritma PQC dapat diterapkan pada perangkat yang digunakan saat ini, termasuk ponsel, komputer, dan server.

Pendekatan lain adalah quantum key distribution (QKD), yang memanfaatkan prinsip kuantum untuk mendukung distribusi kunci komunikasi yang aman. Kedua pendekatan tersebut memiliki cara kerja berbeda dalam menjawab tantangan keamanan digital.

Kepala Pusat Riset Fisika Kuantum Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Mohammad Hamzah Fauzi, menyoroti cepatnya perubahan ekspektasi terhadap perkembangan teknologi kuantum. Ia menilai kemajuan riset perlu didukung kemitraan industri agar hasilnya dapat dimanfaatkan lebih luas.

Sementara itu, Ketua Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial Indonesia (KORIKA), Prof. Dr. Ir. Hammam Riza, menilai teknologi kuantum akan berkaitan dengan infrastruktur kepercayaan bagi AI. Menurutnya, Indonesia perlu mengantisipasi keterkaitan teknologi tersebut dengan perencanaan pengembangan AI.

Selain teknologi, kesiapan menghadapi era kuantum juga membutuhkan investasi riset, pendidikan, dan pengembangan talenta. Penguasaan bidang ini memerlukan kolaborasi lintas disiplin, mulai dari fisika dan rekayasa hingga keamanan informasi dan pengembangan sistem digital.

Melalui AICX 2026, ITSEC Asia mendorong kerja sama antara industri, pemerintah, akademisi, dan komunitas riset untuk memperkuat ketahanan digital Indonesia. Persiapan sejak dini dinilai penting agar kebijakan, sumber daya manusia, dan sistem keamanan dapat berkembang seiring kemajuan teknologi.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

AI Percepat Deteksi Risiko Audit, Sekjen Kemnaker: Auditor Tetap Penentu

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 08:41

Ancaman Siber Kuantum, Pakar Desak Indonesia Bersiap dari Sekarang

Rabu, 30 September 2026 - 14:11

AI Percepat Deteksi Risiko Audit, Sekjen Kemnaker: Auditor Tetap Penentu

Berita Terbaru