SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama, M.E.I., mengapresiasi program percepatan revitalisasi fasilitas pendidikan yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Program tersebut dinilai menjadi langkah strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui perbaikan infrastruktur sekolah dan sanitasi di berbagai daerah.
Program ini mencakup pembangunan ratusan fasilitas sanitasi serta revitalisasi sekolah di kawasan transmigrasi yang tersebar di puluhan provinsi. Kebijakan tersebut diharapkan mampu memperbaiki kualitas lingkungan belajar sekaligus memperkuat pemerataan pendidikan di wilayah yang selama ini masih menghadapi keterbatasan sarana.
Senator yang akrab disapa Ning Lia itu menilai pembangunan 454 unit toilet dan sarana air bersih (SAB) serta revitalisasi 478 sekolah di kawasan transmigrasi merupakan langkah awal yang penting. Program tersebut dinilai menjadi fondasi untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih sehat, aman, dan layak bagi siswa.
“Pendidikan yang berkualitas tidak hanya ditentukan oleh kurikulum dan guru, tetapi juga oleh lingkungan belajar yang sehat, aman, dan manusiawi. Sanitasi yang layak dan ruang belajar yang baik adalah fondasi dasar bagi proses pendidikan yang bermartabat,” ujar Ning Lia, Senin (16/3/2026).
Berdasarkan data pemerintah, program pembangunan sanitasi sekolah tersebut telah menjangkau 27 provinsi yang mencakup 122 kabupaten, 231 kecamatan, serta 399 desa. Sementara itu, program revitalisasi sekolah dilaksanakan di 114 kabupaten, 218 kecamatan, dan 406 desa yang tersebar di 129 kawasan transmigrasi.
Menurut Ning Lia, langkah pemerintah tersebut menunjukkan komitmen serius dalam meningkatkan kualitas pendidikan nasional, khususnya di wilayah yang sebelumnya belum mendapatkan akses fasilitas pendidikan yang memadai.
Ia menambahkan, persoalan sanitasi di sekolah selama ini kerap dipandang sebagai hal kecil, padahal memiliki dampak besar terhadap kesehatan siswa, kenyamanan belajar, serta pembentukan budaya hidup bersih di lingkungan sekolah.
“Sekolah yang bersih dan layak akan membentuk karakter siswa sejak dini. Anak-anak akan belajar tentang disiplin, kesehatan, dan penghargaan terhadap lingkungan,” jelasnya.
Namun demikian, Ning Lia menilai revitalisasi sekolah tidak boleh berhenti hanya pada perbaikan fisik bangunan. Ia mendorong agar program tersebut dikembangkan dengan pendekatan yang lebih komprehensif melalui penguatan ekosistem pendidikan di daerah.
“Revitalisasi sekolah seharusnya tidak hanya memperbaiki bangunan, tetapi juga membangun ekosistem pendidikan yang adaptif. Misalnya dengan menghadirkan literasi digital, laboratorium keterampilan, hingga kurikulum yang relevan dengan potensi daerah transmigrasi seperti pertanian, perikanan, atau ekonomi kreatif lokal,” ungkapnya.
Menurut Ning Lia, kawasan transmigrasi memiliki potensi besar sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di daerah. Oleh karena itu, pendidikan di wilayah tersebut harus diarahkan untuk mencetak generasi yang tidak hanya memiliki pendidikan formal, tetapi juga keterampilan praktis yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan daerah.
Ia menilai pendekatan revitalisasi berbasis kawasan dapat memperkuat keterhubungan antara sekolah dengan potensi ekonomi lokal. Dengan demikian, lulusan sekolah tidak hanya siap melanjutkan pendidikan, tetapi juga mampu berkontribusi langsung terhadap pembangunan daerah.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, serta organisasi masyarakat dalam memastikan keberlanjutan program revitalisasi sekolah.
“Sekolah di kawasan transmigrasi harus menjadi pusat pengembangan masyarakat. Dengan adanya kolaborasi lintas sektor, revitalisasi pendidikan dapat berjalan berkelanjutan dan benar-benar berdampak bagi peningkatan kualitas generasi muda,” pungkasnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar