SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital, upaya mendekatkan generasi muda dengan budaya lokal menjadi tantangan yang semakin penting. Edu Kampus School 2026 di Jatim Expo Surabaya menghadirkan ruang bagi pelajar dan mahasiswa untuk mengenal kembali warisan budaya bangsa melalui cara yang lebih interaktif dan edukatif.
Salah satu yang paling menyita perhatian pengunjung adalah stan desa wisata binaan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPANRB). Di lokasi ini, pengunjung tidak hanya melihat produk budaya daerah, tetapi juga memahami nilai sejarah dan filosofi yang melekat di dalamnya.
Sejak hari pertama penyelenggaraan Edu Kampus School 2026, stan desa wisata binaan KemenPANRB menjadi salah satu area yang ramai dipadati pengunjung. Antusiasme pelajar dan mahasiswa terlihat saat mereka mengamati beragam produk unggulan daerah yang ditampilkan dengan konsep edukatif.
Berbeda dari pameran biasa, stan tersebut tidak hanya menampilkan hasil karya budaya, tetapi juga memberikan ruang bagi pengunjung untuk memahami proses pembuatannya serta nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dari berbagai produk yang dipamerkan, batik dan wayang muncul sebagai daya tarik utama. Dua warisan budaya Indonesia itu berhasil menarik perhatian kalangan muda yang ingin mengenal lebih dekat kekayaan budaya Nusantara.
Pengunjung diajak memahami proses pembuatan batik, mulai dari menggambar motif hingga teknik pewarnaan yang menjadi ciri khas masing-masing daerah. Melalui pengalaman tersebut, para pelajar memperoleh gambaran bahwa setiap motif batik memiliki makna dan identitas yang berbeda.
Sementara itu, koleksi wayang yang dipamerkan menghadirkan beragam kisah dan nilai kehidupan yang telah diwariskan selama bertahun-tahun. Wayang tidak hanya dipahami sebagai karya seni, tetapi juga media pembelajaran yang sarat pesan tentang kepemimpinan, kebijaksanaan, dan karakter.
Kehadiran batik dan wayang di tengah pameran pendidikan tersebut menjadi pengingat bahwa budaya tidak sekadar menjadi peninggalan masa lalu. Warisan leluhur itu tetap relevan dan memiliki peran penting dalam membentuk identitas generasi masa kini.
Partisipasi desa wisata dalam Edu Kampus School 2026 dinilai menjadi langkah strategis untuk mempertemukan generasi muda dengan budaya lokal melalui pendekatan yang lebih dekat. Banyak pelajar yang selama ini mengenal budaya hanya melalui buku pelajaran atau media digital, kini dapat melihatnya secara langsung.
Pameran tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa budaya memiliki nilai yang lebih luas, tidak hanya sebagai identitas daerah, tetapi juga sebagai aset yang menyimpan sejarah, filosofi, serta potensi ekonomi bagi masyarakat.
Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, mengapresiasi kehadiran desa wisata binaan KemenPANRB yang turut menghadirkan ruang edukasi budaya bagi kalangan pelajar dan mahasiswa.
“Melalui kegiatan seperti ini, pelajar dan mahasiswa tidak hanya memperoleh informasi pendidikan, tetapi juga memahami kekayaan budaya yang dimiliki daerahnya. Batik dan wayang harus menjadi kebanggaan generasi muda Indonesia,” ujar Lia Istifhama.
Menurut Lia, pengenalan budaya sejak usia muda memiliki peran penting dalam menumbuhkan rasa memiliki terhadap warisan bangsa. Kesadaran tersebut diperlukan agar generasi muda tidak sekadar mengenal budaya, tetapi juga terdorong untuk menjaga dan melestarikannya.
Ia menilai pemahaman terhadap budaya lokal dapat memperkuat karakter sekaligus identitas kebangsaan di tengah perubahan zaman yang berlangsung sangat cepat.
“Kita ingin generasi muda tidak hanya mengenal budaya daerahnya, tetapi juga bangga untuk memperkenalkannya kepada dunia. Karena budaya adalah identitas yang membedakan kita sebagai bangsa,” katanya.
Lia juga menegaskan bahwa upaya pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial atau peringatan tertentu. Menurutnya, budaya harus hadir dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui lingkungan pendidikan yang dekat dengan generasi muda.
Dengan konsep yang menggabungkan pendidikan dan budaya, Edu Kampus School 2026 menjadi ruang pembelajaran yang memberikan pengalaman berbeda bagi para pelajar. Mereka tidak hanya memperoleh informasi mengenai dunia pendidikan dan masa depan karier, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk memahami kekayaan budaya Indonesia secara lebih mendalam.
Melalui kegiatan seperti ini, batik dan wayang tidak hanya dipertahankan keberadaannya sebagai warisan budaya, tetapi juga terus diperkenalkan kepada generasi penerus yang akan menentukan masa depan bangsa.
“Karena budaya adalah identitas yang membedakan kita sebagai bangsa,” pungkasnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar