GRESIK, RadarBangsa.co.id – Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Dr. Lia Istifhama, menegaskan pentingnya kepemimpinan digital yang berakar pada karakter diri dalam menghadapi bonus demografi dan percepatan perubahan sosial. Pesan tersebut disampaikan dalam orasi ilmiah pada Wisuda ke-23 Institut Agama Islam Daruttaqwa (INSIDA) Gresik yang diikuti 171 wisudawan, Selasa (16/12), di Gedung Wahana Ekspresi Poesponegoro.
Di hadapan wisudawan, sivitas akademika, dan keluarga besar INSIDA, Lia Istifhama—yang akrab disapa Ning Lia—mengajak lulusan perguruan tinggi untuk mengambil peran strategis sebagai agen perubahan. Menurutnya, tantangan generasi muda tidak hanya terletak pada kemampuan akademik, tetapi juga pada kapasitas memimpin diri sendiri di tengah derasnya arus digitalisasi.
Ia mengapresiasi arah pendidikan INSIDA yang menekankan pembangunan “peta jalan juang” bagi mahasiswa. Ning Lia menyebut para wisudawan sebagai syubbanul muslimin, generasi yang akan memegang estafet kepemimpinan di masa depan.
“Jangan pernah ragu untuk bermimpi. Setiap kepemimpinan selalu dimulai dari mimpi. Mimpi tentang bagaimana kita hadir sebagai benevolent society, memberi manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat,” ujar Lia Istifhama.
Dalam orasinya, Ning Lia mengulas perubahan struktur sosial dari Gemeinschaft yang berbasis ikatan kekeluargaan, menuju Gesellschaft yang bertumpu pada jejaring sosial, hingga kini memasuki era digital society. Perubahan ini, kata dia, menuntut sarjana untuk bersikap inventif, adaptif, dan mampu membaca dinamika global tanpa kehilangan nilai kemanusiaan.
Ia kemudian memaparkan lima prinsip pembentuk karakter “Self” yang dinilai krusial di era digital. Pertama, media sosial bukanlah “akuarium hidup” yang memamerkan segala sisi kehidupan. Kedua, empati harus tetap dibangun meski interaksi banyak berlangsung secara virtual. Ketiga, pentingnya meluangkan waktu berkualitas bersama orang-orang terdekat. Keempat, fokus pada aktivitas bermakna dan tidak terjebak toxic positivity. Kelima, kecakapan membaca situasi secara cerdas.
“Jangan terjebak pada toxic positivity, ingin selalu tampak sempurna. Di balik ketidaksempurnaan justru ada kelebihan. Fokuslah pada potensi yang kalian miliki,” tegasnya.
Menutup orasi, Ning Lia mengaitkan kepemimpinan dengan lima kebutuhan dasar manusia dalam teori Maslow, mulai dari aktualisasi diri hingga pemenuhan kebutuhan dasar. Ia mendorong lulusan INSIDA untuk mengenali passion, menghargai proses akademik, serta menebarkan manfaat sosial dengan keyakinan spiritual yang kuat.
Sementara itu, Rektor INSIDA Dr. H. A. Syifa’ul Qulub berharap para wisudawan memiliki daya juang berkelanjutan di tengah globalisasi. “Jangan pernah lelah berproses dan teruslah berkembang agar mampu menjadi agen perubahan di masyarakat,” ujarnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin








