Hoaks Obat Makin Masif, Pemprov NTB dan BBPOM Perketat Pengawasan Digital

Kamis, 7 Mei 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

MATARAM, RadarBangsa.co.id – Maraknya peredaran informasi palsu terkait obat, kosmetik, dan pangan di media sosial mendorong Pemerintah Provinsi NTB memperkuat pengawasan publik. Langkah itu diwujudkan melalui kerja sama strategis antara Pemprov NTB dan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Mataram, Rabu (7/5/2026).

Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) di Aula BBPOM Mataram. Kerja sama ini difokuskan pada penguatan layanan publik, edukasi masyarakat, hingga pengawasan produk obat dan makanan di tengah derasnya arus digitalisasi informasi.

Kepala BBPOM Mataram, Yogi Abaso menegaskan, pengawasan tidak hanya menyasar produk ilegal, tetapi juga penyalahgunaan obat-obatan yang masih banyak ditemukan di masyarakat.

“Kerja sama ini diharapkan memperluas jangkauan informasi obat dan makanan. Yang paling penting adalah penanganan penyalahgunaan obat seperti Tramadol, Trihexyphenidyl, dan zat lain yang merugikan masyarakat,” ujarnya.

Menurut Yogi, pengawasan yang lebih kuat dibutuhkan karena penyalahgunaan obat kini tidak hanya terjadi di perkotaan, tetapi juga mulai menyasar kalangan remaja dan masyarakat pedesaan. Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengganggu kesehatan publik dan memicu persoalan sosial baru.

Selain pengawasan, kerja sama ini juga membuka peluang besar bagi pelaku UMKM lokal. Produk yang telah memiliki izin edar resmi dinilai lebih mudah dipasarkan secara luas, termasuk menembus pasar nasional hingga ekspor.

Di sisi lain, Kepala Dinas Kominfotik NTB, Ahsanul Khalik menyoroti ancaman disinformasi digital yang semakin sulit dikendalikan. Menurutnya, hoaks mengenai obat dan pangan sering kali menyebar jauh lebih cepat dibanding klarifikasi resmi pemerintah.

Ia menyebut rendahnya literasi digital masyarakat menjadi tantangan serius yang harus segera diatasi bersama. Apalagi, pola komunikasi pemerintah selama ini dinilai masih terlalu satu arah dan kurang menyentuh kebutuhan publik di era digital.

“Transformasi digital harus berbasis data, dikelola SDM yang bijak, serta didukung budaya kerja yang responsif dan terbuka. Masyarakat sekarang tidak hanya ingin diberitahu, tetapi juga ingin didengar,” tegas Ahsanul.

Melalui sinergi tersebut, Pemprov NTB dan BBPOM Mataram berharap masyarakat semakin terlindungi dari produk berbahaya, sekaligus lebih cerdas memilah informasi kesehatan di media sosial. Langkah ini juga diharapkan mampu memperkuat kepercayaan publik terhadap layanan pemerintah di bidang kesehatan dan pengawasan pangan.

Penulis : Aini

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

17 Kasus Narkoba Terungkap di Lamongan, Brondong Mendominasi
Rumah Lansia di Deket Lamongan Dibobol, HP dan Perhiasan Emas Hilang
Arisan Bodong di Lamongan Rugikan Korban Rp132 Juta, Tersangka Ditangkap di Batam
Berawal dari Penyelidikan Pencurian Ayam, Polisi Lamongan Ungkap Curanmor
Warga Bluluk Lamongan Temukan Granat dan 41 Amunisi di Kebun Jati
Terduga Pelaku Curanmor Tewas usai Tabrak Median JLU Timur Lamongan
58 HP Senilai Rp310 Juta Dicuri, Pelarian Pembobol Konter Sragen Berakhir
Sterilisasi Stadion Surajaya, Polres Lamongan Temukan 14 Orang Konsumsi Miras

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 15:17

17 Kasus Narkoba Terungkap di Lamongan, Brondong Mendominasi

Kamis, 5 November 2026 - 20:34

Rumah Lansia di Deket Lamongan Dibobol, HP dan Perhiasan Emas Hilang

Kamis, 5 November 2026 - 10:30

Arisan Bodong di Lamongan Rugikan Korban Rp132 Juta, Tersangka Ditangkap di Batam

Rabu, 4 November 2026 - 18:59

Berawal dari Penyelidikan Pencurian Ayam, Polisi Lamongan Ungkap Curanmor

Selasa, 3 November 2026 - 20:02

Warga Bluluk Lamongan Temukan Granat dan 41 Amunisi di Kebun Jati

Berita Terbaru