Buntut Kongres Ambulu Memanas, Wakil Ketua Askab PSSI Jember Dipolisikan atas Dugaan Bullying Atlet Muda

Rabu, 6 Mei 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Wali murid atlet muda didampingi GM FKPPI Jember saat melapor ke Polres Jember, Senin (5/5/2026). (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

Wali murid atlet muda didampingi GM FKPPI Jember saat melapor ke Polres Jember, Senin (5/5/2026). (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

JEMBER, RadarBangsa.co.id – Polemik internal sepak bola di Kabupaten Jember kini melebar ke ranah hukum. Seorang pejabat teras Askab PSSI Jember dilaporkan ke Polres Jember atas dugaan tindakan perundungan dan diskriminasi terhadap atlet usia dini, kasus yang memantik perhatian publik karena menyangkut perlindungan anak dalam dunia olahraga.

Laporan itu diajukan Nila Widiastutik, wali murid salah satu pemain Sekolah Sepak Bola (SSB), pada Senin (5/5/2026). Terlapor adalah AS yang menjabat sebagai Wakil Ketua Askab PSSI Jember.

Kasus ini turut dikawal pengurus GM FKPPI Jember dan Malahayati FKPPI Jember sebagai bentuk pengawasan terhadap proses hukum dan perlindungan hak anak.

Menurut Nila, persoalan ini diduga berakar dari dinamika pasca Kongres Askab PSSI Jember yang digelar di Ambulu pada 10 Desember 2025. Dampaknya, kata dia, merembet pada proses pembinaan atlet muda di lapangan.

Ia mengaku anaknya dilarang tampil dalam turnamen resmi tanpa alasan yang jelas. Keputusan itu, menurutnya, bukan hanya merugikan secara teknis, tetapi juga memukul mental sang anak di hadapan rekan-rekannya.

“Semua ini bermula setelah Kongres Ambulu. Anak saya tiba-tiba tidak diperbolehkan bermain tanpa penjelasan objektif. Jabatan pengurus itu untuk membina, bukan menghambat masa depan anak,” ujar Nila usai membuat laporan.

Pihak keluarga menempuh dua jalur sekaligus, yakni laporan pidana ke Polres Jember terkait dugaan intimidasi dan penyalahgunaan kewenangan, serta pengaduan ke UPT Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Jember untuk penanganan dampak psikologis korban.

Koordinator GM FKPPI Jember, Endang Herawati, menegaskan konflik organisasi tidak boleh berdampak pada hak anak untuk berkembang di dunia olahraga.

“Anak-anak tidak boleh menjadi korban konflik internal orang dewasa. Ini harus menjadi evaluasi serius bagi sistem pembinaan sepak bola di Jember,” tegas Endang.

Kasus ini dinilai menjadi alarm penting bagi dunia olahraga daerah, terutama terkait perlindungan atlet usia dini agar pembinaan tetap berjalan profesional, sehat, dan bebas intervensi kepentingan nonteknis.

“Kami akan kawal proses ini sampai tuntas, agar ada kepastian hukum dan perlindungan bagi anak-anak,” pungkas Endang.

Penulis : Herry

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

17 Kasus Narkoba Terungkap di Lamongan, Brondong Mendominasi
Rumah Lansia di Deket Lamongan Dibobol, HP dan Perhiasan Emas Hilang
Arisan Bodong di Lamongan Rugikan Korban Rp132 Juta, Tersangka Ditangkap di Batam
Berawal dari Penyelidikan Pencurian Ayam, Polisi Lamongan Ungkap Curanmor
Warga Bluluk Lamongan Temukan Granat dan 41 Amunisi di Kebun Jati
Terduga Pelaku Curanmor Tewas usai Tabrak Median JLU Timur Lamongan
58 HP Senilai Rp310 Juta Dicuri, Pelarian Pembobol Konter Sragen Berakhir
Sterilisasi Stadion Surajaya, Polres Lamongan Temukan 14 Orang Konsumsi Miras

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 15:17

17 Kasus Narkoba Terungkap di Lamongan, Brondong Mendominasi

Kamis, 5 November 2026 - 20:34

Rumah Lansia di Deket Lamongan Dibobol, HP dan Perhiasan Emas Hilang

Kamis, 5 November 2026 - 10:30

Arisan Bodong di Lamongan Rugikan Korban Rp132 Juta, Tersangka Ditangkap di Batam

Rabu, 4 November 2026 - 18:59

Berawal dari Penyelidikan Pencurian Ayam, Polisi Lamongan Ungkap Curanmor

Selasa, 3 November 2026 - 20:02

Warga Bluluk Lamongan Temukan Granat dan 41 Amunisi di Kebun Jati

Berita Terbaru