Bupati Sidoarjo Subandi Apresiasi Ruwat Desa Pagerngumbuk, Tradisi Syukur

Minggu, 17 Mei 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SIDOARJO, RadarBangsa.co.id – Suasana sakral dan penuh kekeluargaan menyelimuti Balai Desa Pagerngumbuk, Kecamatan Wonoayu, Minggu (17/5/2026). Warga tumpah ruah mengikuti Ruwat Desa, tradisi turun-temurun yang bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan wujud syukur kepada Allah SWT sekaligus ikhtiar menjaga keselamatan, kemakmuran, dan keharmonisan hidup masyarakat desa.

Tradisi yang telah diwariskan leluhur itu kembali digelar dengan khidmat. Rangkaian acaranya dimulai dari pengajian, ziarah ke makam para pendiri desa, hingga pagelaran wayang kulit semalam suntuk—seni adiluhung Jawa yang sarat pesan moral dan filosofi kehidupan.

Namun, Ruwat Desa Pagerngumbuk memiliki kekhasan tersendiri yang membuatnya berbeda dari desa lain.

Puluhan nasi kuning dan belasan tumpeng raksasa berisi hasil pertanian seperti padi, sayur mayur, dan buah-buahan ditata di atas amben, dipan bambu tradisional yang dahulu menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat pedesaan Jawa. Seluruh hidangan itu ditutup kain jarik batik, lalu dipikul beramai-ramai menuju balai desa.

Pemandangan tersebut menghadirkan nuansa budaya yang kuat. Derap langkah warga yang mengusung amben penuh hasil bumi menjadi simbol gotong royong dan penghormatan kepada alam yang telah memberi kehidupan.

Setibanya di balai desa, puluhan amben berjajar rapi di sisi pendopo. Warga dari berbagai usia berkumpul, menanti doa bersama dan tasyakuran. Kehadiran Bupati Sidoarjo H. Subandi semakin menambah semarak acara. Ia disambut dengan cara unik, diantar tokoh Hanoman dan sosok petani—dua simbol yang merepresentasikan kekuatan, kesetiaan, dan akar kehidupan masyarakat agraris.

Bupati Subandi menyampaikan apresiasi tinggi kepada Pemerintah Desa Pagerngumbuk yang terus konsisten melestarikan tradisi ruwatan desa.

Menurutnya, di tengah derasnya modernisasi, tradisi seperti ini menjadi penanda bahwa masyarakat Sidoarjo tetap berpegang teguh pada akar budaya dan nilai-nilai spiritual.

“Ruwat desa adalah warisan kearifan lokal yang sangat luhur. Di dalamnya ada rasa syukur kepada Allah SWT, doa untuk keselamatan desa, dan harapan agar masyarakat hidup rukun serta sejahtera,” ujar Subandi.

Dengan logat Jawa yang akrab, ia mendoakan agar pemerintahan desa senantiasa diberi kemudahan.

“Tujuane nopo kok desa dislameti, desa diruwati? Biar desane diparingi gampang lan gangsar. Mugi-mugi diparingi slamet sedoyo.(“Tujuannya apa desa diselamati, desa diruwat? Agar apa yang ada di Desanya diberi kemudahan dan lancar. Semogaseluruh warga selalu diberi keselamatan).”

Tak hanya itu, Bupati juga menilai tradisi ini sebagai sarana mempererat persaudaraan. Warga datang dengan sukarela membawa hasil bumi terbaik mereka untuk dinikmati bersama. Dari niat tulus itulah, kata dia, keberkahan akan mengalir.

“Mudah-mudahan niat kita bersyukur kepada Allah diterima. Warga Desa Pagerngumbuk diparingi sehat, keluargane sakinah mawaddah warahmah, anak-anaknya menjadi anak saleh dan salehah. Tandurane subur, produksine meningkat, dan dijauhkan dari segala musibah,” tuturnya.

Ruwat desa sendiri merupakan tradisi yang telah lama hidup di masyarakat Jawa. Kata ruwat bermakna membersihkan atau melepaskan dari hal-hal buruk. Melalui ritual doa, sedekah bumi, dan pertunjukan budaya, masyarakat memohon agar desa terhindar dari bala serta diberi limpahan rezeki.

Di Pagerngumbuk, tradisi ini bukan sekadar menjaga adat, tetapi juga merawat identitas. Di tengah perkembangan zaman, warga tetap memegang teguh pesan leluhur bahwa kesejahteraan lahir dari rasa syukur, kebersamaan, dan penghormatan kepada alam.

Ruwat Desa Pagerngumbuk pun menjadi bukti bahwa tradisi tidak pernah usang. Ia terus hidup, mengakar, dan menjadi perekat sosial yang menyatukan generasi lama dan muda dalam semangat yang sama—bersyukur, berdoa, dan menjaga warisan budaya untuk masa depan.

Penulis : Tom

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Bupati Bangkalan Dorong Kader Kesehatan Perkuat Pendampingan Ibu dan Anak
PAPDESI Kendal Berharap Siltap Kades dan Perangkat Desa Tetap Dipertahankan
PIWK Sidoarjo Dikebut, Subandi Minta Jalan Rusak Segera Ditangani
DPRD Kabupaten Pasuruan Bahas Perubahan Perda Pajak dan Retribusi
Gus Iqdam di Pasuruan: Serukan Ilmu, Akhlak, dan Sedekah
Paripurna, Fraksi Golkar DPRD Ngawi Soroti Defisit RAPBD 2027, Usulkan Stadion Baru Berkapasitas 40.000 Penonton
HKG PKK ke-54, Luthfiana Lukman Hakim Perkuat Peran Keluarga di Bangkalan
Pelatihan Pelinting Rokok di Bangkalan, 30 Warga Burneh Ikuti Pembekalan

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 08:38

Bupati Bangkalan Dorong Kader Kesehatan Perkuat Pendampingan Ibu dan Anak

Kamis, 29 Oktober 2026 - 23:36

PAPDESI Kendal Berharap Siltap Kades dan Perangkat Desa Tetap Dipertahankan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 10:47

PIWK Sidoarjo Dikebut, Subandi Minta Jalan Rusak Segera Ditangani

Kamis, 29 Oktober 2026 - 08:31

DPRD Kabupaten Pasuruan Bahas Perubahan Perda Pajak dan Retribusi

Rabu, 28 Oktober 2026 - 16:22

Gus Iqdam di Pasuruan: Serukan Ilmu, Akhlak, dan Sedekah

Berita Terbaru