SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Transformasi digital yang masif dinilai berpotensi menjadi bumerang jika tidak diimbangi dengan budaya literasi yang kuat. Tanpa fondasi membaca dan berpikir kritis, teknologi justru bisa mempercepat penyebaran informasi dangkal hingga menyesatkan.
Peringatan itu disampaikan anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, dalam podcast Hari Kartini di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jawa Timur, Rabu (29/4). Ia menegaskan bahwa kemajuan digital tidak otomatis mencerminkan kualitas sumber daya manusia.
“Teknologi hanya alat. Yang menentukan arah bangsa adalah kualitas pengetahuan manusianya,” ujarnya.
Menurut Lia, Indonesia saat ini berada di momentum penting dengan bonus demografi dan percepatan digitalisasi di berbagai sektor. Namun, tanpa penguatan budaya baca, peluang tersebut berisiko tidak menghasilkan dampak maksimal bagi pembangunan.
Ia menyoroti rendahnya minat baca yang masih menjadi tantangan nasional. Padahal, literasi adalah kunci untuk melahirkan generasi yang kritis, kreatif, dan mampu bersaing di tingkat global.
“Negara besar adalah negara yang mampu mengelola pengetahuan. Itu tidak bisa dilepaskan dari budaya membaca,” tegasnya.
Dari sisi dampak publik, lemahnya literasi di era digital dapat memicu berbagai persoalan, mulai dari penyebaran hoaks, rendahnya kualitas diskursus publik, hingga lemahnya daya saing tenaga kerja. Kondisi ini berpengaruh langsung pada kualitas demokrasi dan pembangunan ekonomi.
Karena itu, Lia menekankan pentingnya peran keluarga, khususnya perempuan, dalam membangun literasi sejak dini. Menurutnya, rumah menjadi benteng utama agar generasi muda tidak hanya cakap teknologi, tetapi juga bijak dalam mengolah informasi.
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jawa Timur, Tiat S. Suwardi, menyebut digitalisasi justru membuka peluang memperluas akses literasi.
“Perpustakaan kini menjadi ruang kreatif dan pusat inovasi. Digitalisasi adalah pintu masuk, tetapi budaya membaca tetap fondasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, integrasi teknologi dengan budaya literasi harus berjalan seimbang agar manfaatnya dirasakan luas oleh masyarakat. Pemerintah pun terus mendorong akses bacaan digital yang lebih inklusif.
Dengan pendekatan tersebut, transformasi digital diharapkan tidak hanya menghasilkan generasi yang melek teknologi, tetapi juga memiliki kedalaman berpikir dan karakter kuat.
“Kalau literasi lemah, digitalisasi tidak akan membawa kemajuan yang utuh,” pungkas Lia.
Lainnya:
- Hardiknas 2026, Bupati Jember Jamin Tunjangan Guru Utuh dan PPPK Tuntas
- Aksi Biru Lamongan Tekan 1.100 Anak Putus Sekolah, Perintis Genjot Akses Pendidikan
- Perintis dan Aksi Biru Lamongan Tekan Anak Putus Sekolah, Ini Dampaknya
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin








