BANYUWANGI, RadarBangsa.co.id – Penurunan angka pengangguran dan anak tidak sekolah menjadi dua capaian yang diandalkan Kabupaten Banyuwangi dalam penilaian Innovative Government Award (IGA) 2026. Melalui inovasi Goker Wangi dan Rindu Bulan, pemerintah daerah menunjukkan hasil program di sektor ketenagakerjaan dan pendidikan.
Banyuwangi kembali masuk nominasi penghargaan inovasi pemerintahan yang diselenggarakan pemerintah pusat tersebut. Tahun ini, sebanyak 250 inovasi diajukan dalam ajang yang memberikan apresiasi kepada daerah dengan terobosan dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik.
Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono memaparkan langsung inovasi unggulan daerah di hadapan tim penilai secara daring, Rabu (4/11/2026).
Dalam pemaparannya, Mujiono menegaskan bahwa inovasi harus berorientasi pada manfaat nyata bagi masyarakat, bukan sekadar menghadirkan program baru atau memanfaatkan teknologi.
“Karena itu, inovasi menjadi kunci untuk meningkatkan efektivitas pembangunan, dan yang penting harus berdampak pada masyarakat,” ujar Mujiono.
Salah satu inovasi yang dipaparkan adalah Goker Wangi atau Golek Kerjo Banyuwangi. Layanan terintegrasi di bidang ketenagakerjaan ini turut berkontribusi terhadap penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Banyuwangi dari 5,42 persen pada 2021 menjadi 3,94 persen pada 2025.
Goker Wangi tidak hanya menyediakan informasi lowongan pekerjaan secara daring. Platform ini juga dilengkapi berbagai layanan pendukung pencari kerja, mulai dari bimbingan jabatan, pasar kerja inklusif bagi penyandang disabilitas, pelacakan status lamaran, hingga penilaian mandiri kemampuan pencari kerja.
Masyarakat juga dapat memanfaatkan layanan tersebut untuk mendaftar pekerjaan, memperoleh konsultasi dan pendampingan karier, serta mengakses informasi pelatihan dari lembaga pemerintah maupun swasta.
Pemanfaatan layanan ini tercatat mencapai 5.418 orang sepanjang 2025.
“Pada tahun 2025 ada 5.418 orang yang mengakses Goker Wangi yang terintegrasi di aplikasi Smart Kampung,” jelas Mujiono.
Selain ketenagakerjaan, Banyuwangi mengandalkan inovasi Rindu Bulan di sektor pendidikan. Program ini dirancang untuk mendukung penuntasan wajib belajar 12 tahun sekaligus mencegah anak usia sekolah putus pendidikan.
Pelaksanaannya mengedepankan kolaborasi dengan pemerintah desa sebagai garda terdepan dalam mengidentifikasi dan menangani anak tidak sekolah.
Ada tiga tahapan utama dalam program tersebut, yakni pendataan berkala anak tidak sekolah (ATS), mengembalikan anak ke bangku sekolah, serta memberikan pendampingan psikososial.
Hasilnya, jumlah anak tidak sekolah di Banyuwangi turun dari 4.186 anak pada 2023 menjadi 1.356 anak pada 2025.
Perkembangan lainnya terlihat dari peningkatan jumlah desa yang berhasil menuntaskan wajib belajar 12 tahun. Dalam kurun waktu dua tahun, jumlahnya bertambah dari tiga desa menjadi 74 desa.
“Capaian lainnya, jumlah desa yang berhasil menuntaskan wajib belajar 12 tahun meningkat pesat, dari semula hanya tiga desa menjadi 74 desa dalam kurun waktu dua tahun,” ungkap Mujiono.
Penilaian IGA 2026 sendiri melibatkan 30 anggota tim penilai dari 26 instansi. Unsur penilai berasal dari kementerian dan lembaga pemerintah, kalangan akademisi, media nasional, hingga organisasi nonpemerintah atau NGO.
Sejumlah institusi yang terlibat di antaranya Kementerian Dalam Negeri, Kemenko Bidang Polkam, Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, serta Kementerian PANRB. Dari kalangan perguruan tinggi terdapat Universitas Indonesia, Universitas Hasanuddin, dan Universitas Sriwijaya.
Banyuwangi memiliki rekam jejak panjang dalam ajang tersebut. Kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini tercatat meraih predikat Kabupaten Terinovatif selama delapan tahun berturut-turut sejak 2018.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar