BANGKALAN, RadarBangsa.co.id – Bambu mentah yang selama ini dimanfaatkan untuk kebutuhan sederhana berpotensi menjadi sumber penghasilan baru bagi masyarakat Desa Tanah Merah Laok, Kabupaten Bangkalan. Melalui pelatihan kerajinan anyaman bambu, warga berhasil menghasilkan 47 produk bernilai jual hanya dalam empat hari.
Potensi peningkatan nilai ekonomi tersebut terlihat dari pengolahan bambu mentah yang semula bernilai sekitar Rp30.000 per batang menjadi produk kerajinan seperti rantang dengan harga jual berkisar Rp150.000 hingga Rp200.000.
Capaian itu menjadi salah satu hasil pelatihan yang secara resmi ditutup oleh Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Kabupaten Bangkalan, Kamis (5/11/2026), di Desa Tanah Merah Laok, Kecamatan Tanah Merah.
Sebanyak 20 warga mengikuti seluruh rangkaian pelatihan dengan tingkat kehadiran mencapai 100 persen. Selama kegiatan berlangsung, peserta mendapatkan pendampingan langsung dari dua perajin senior IKM Karti Aji asal Sleman dan Kulon Progo, Yogyakarta.
Materi pelatihan mencakup pengenalan alat dan bahan baku, teknik memotong dan mengirat bambu, pewarnaan, penyusunan pola anyaman, hingga penyelesaian produk kerajinan.
Dari praktik tersebut, peserta menghasilkan 47 produk yang terdiri atas 10 tas hampers, 11 box sokase, 22 pincuk, satu rantang susun, satu rantang, dan dua tempat tumpeng.
Kepala Disperinaker Kabupaten Bangkalan, Jemmi Tria Sukmana, mengatakan pelatihan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah meningkatkan keterampilan masyarakat sekaligus mengembangkan potensi industri kecil dan menengah (IKM).
Ia berharap kemampuan yang diperoleh peserta tidak berhenti setelah pelatihan selesai, tetapi berlanjut menjadi kegiatan ekonomi produktif.
“Pelatihan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi bambu menjadi produk kerajinan yang memiliki nilai tambah. Kami tidak ingin keterampilan yang diperoleh hanya berhenti sebagai hasil pelatihan, tetapi benar-benar dapat dikembangkan menjadi peluang usaha yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ungkap Jemmi.
Peluang tersebut mulai terlihat dari perubahan pemahaman peserta terhadap bahan baku bambu. Salah seorang peserta mengaku sebelumnya hanya mengenal bambu sebagai bahan pagar dan kebutuhan sehari-hari.
Setelah mengikuti pelatihan, ia mulai mampu membuat berbagai produk, mulai dari besek tempat buah, tas parcel, pincuk bambu, rantang, hingga keranjang parcel.
“Awalnya saya hanya melihat bambu sebagai bahan biasa untuk pagar dan keperluan sehari-hari. Sekarang saya sudah bisa membuat besek tempat buah, tas parcel, pincuk bambu, rantang, dan keranjang parcel. Saya jadi sadar bahwa bambu bisa dijadikan barang bernilai. Harapannya, ada pelatihan lanjutan agar kami bisa menghasilkan model yang lebih beragam dan sesuai kebutuhan pasar,” ungkapnya.
Namun, keterampilan produksi saja belum cukup untuk memastikan usaha kerajinan tersebut berkembang. Legalitas usaha, kemampuan menghitung biaya produksi, dan pemasaran menjadi sejumlah aspek yang perlu disiapkan.
Untuk itu, Disperinaker Bangkalan berencana memfasilitasi peserta dalam memperoleh Nomor Induk Berusaha (NIB). Legalitas tersebut menjadi salah satu persyaratan untuk mengakses bantuan permodalan dari perbankan.
Pemerintah daerah juga akan mendorong perluasan akses pemasaran. Bahkan, peluang penjualan mulai terbuka melalui adanya pesanan produk anyaman berupa parsel buah.
Peserta nantinya juga akan mendapatkan informasi dan pendampingan mengenai perhitungan harga pokok produksi (HPP) serta penentuan harga jual. Langkah ini diperlukan agar produk yang dihasilkan memiliki perhitungan biaya dan nilai ekonomi yang layak.
Kepala Bidang Industri Non Agro Disperinaker Bangkalan, Huzaimah, menyampaikan bahwa pihaknya akan mengupayakan pelatihan lanjutan dengan mempertimbangkan ketersediaan anggaran.
“Kami berharap keterampilan yang sudah diperoleh selama empat hari ini terus dipraktikkan dan dikembangkan. Ke depan, kami juga akan mendorong fasilitasi legalitas usaha, perhitungan harga produksi, serta akses pemasaran agar produk yang dihasilkan para peserta benar-benar memiliki peluang untuk berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan,” jelasnya.
Pelatihan yang didanai melalui APBD Kabupaten Bangkalan Tahun Anggaran 2026 dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) tersebut menjadi salah satu upaya penguatan kapasitas IKM berbasis potensi lokal.
Pemerintah Kabupaten Bangkalan berharap keterampilan mengolah bambu dapat berkembang menjadi peluang usaha masyarakat Desa Tanah Merah Laok. Selain meningkatkan nilai jual bahan baku, pengembangan kerajinan tersebut diharapkan membuka kesempatan kerja dan menambah pendapatan keluarga.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar