MOJOKERTO, RadarBangsa.co.id — Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyerahkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) kepada sejumlah kelompok tani di Desa Sumbertebu, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, Minggu (4/10/2026).
Bantuan tersebut terdiri dari lima unit pompa air dan dua unit combine harvester besar. Penyaluran dilakukan dalam rangkaian Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur sekaligus untuk memperkuat produktivitas dan efisiensi pertanian.
Khofifah mengatakan penyaluran alsintan akan terus dilakukan ke berbagai daerah penghasil pangan di Jawa Timur. Selain mempercepat budidaya dan panen, alat tersebut diharapkan dapat menekan biaya operasional serta dimanfaatkan bersama oleh kelompok tani.
“Dalam rangka Hari Jadi Pemprov Jatim yang ke 81 kita memang akan keliling menyampaikan bantuan alsintan kepada poktan-poktan dan kita mengawalinya dari Kabupaten Mojokerto,” ujarnya.
Secara keseluruhan, Pemprov Jatim memfasilitasi 341 unit alsintan untuk mendukung swasembada pangan. Bantuan itu terdiri atas 231 unit alsintan prapanen dan 110 unit pascapanen.
Khusus Kabupaten Mojokerto, lima pompa air berukuran 4 inci disalurkan kepada kelompok tani di Kecamatan Kutorejo dan Trowulan. Sementara dua combine harvester besar diberikan kepada Poktan Tani Makmur Desa Sumbertebu, Kecamatan Bangsal, serta Poktan Rukun Tani Desa Ngimbangan, Kecamatan Mojosari.
Menurut Khofifah, penggunaan combine harvester dapat memangkas waktu panen secara signifikan. Jika panen manual membutuhkan sekitar tiga hari untuk satu hektare, penggunaan mesin tersebut pada kondisi lahan seperti di Mojokerto dapat memangkas waktunya menjadi sekitar satu jam per hektare.
“Panen dengan cara manual itu tiga hari satu hektare, kalau pakai combine harvester di tanah yang seperti ini bisa satu jam per hektar,” jelasnya.
Khofifah juga menyoroti manfaat mekanisasi dalam menekan kehilangan hasil panen atau losses. Menurut dia, kehilangan hasil yang mencapai 9–11 persen saat panen manual dapat ditekan menjadi sekitar 1–2 persen dengan combine harvester.
Bantuan pompa air juga diarahkan untuk memperkuat ketersediaan air bagi lahan pertanian, terutama saat petani menghadapi kondisi kemarau.
“Itu sumur-sumur atau pompa-pompa ini menjadi penting untuk terus kita maksimalkan,” tegas Khofifah.
Penguatan sarana pertanian tersebut sejalan dengan capaian produksi padi Jawa Timur. Berdasarkan data BPS yang dirilis 1 Oktober 2026, potensi produksi padi Jatim periode Januari-November 2026 mencapai 10.240.964 ton Gabah Kering Giling (GKG), naik 2,84 persen dibanding periode yang sama pada 2025.
Capaian tersebut menempatkan Jawa Timur sebagai provinsi dengan potensi produksi padi tertinggi di Indonesia. Produksi beras Jatim pada periode yang sama juga mencapai 5.913.339 ton.
Khofifah menekankan peningkatan produksi perlu diikuti penguatan ekosistem pertanian, mulai dari teknologi, ketersediaan air, sarana produksi, mekanisasi, akses pasar hingga kesejahteraan petani.
Bagi petani, bantuan tersebut menjadi solusi atas keterbatasan akses terhadap mesin panen. Karsono (70), penerima bantuan combine harvester dari kelompok tani di Desa Sumbertebu, mengaku selama ini petani kesulitan mendapatkan mesin saat musim panen.
“Combi-nya mau dipakai saat panen padi tahun ini, saya senang sekali dapat bantuan combi, supaya petani sini tidak kesulitan cari comb,” katanya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar