Gubernur Khofifah Buktikan Jatim Tumbuh Tertinggi di Jawa, Kemiskinan dan Pengangguran Kompak Turun

Kamis, 6 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memaparkan capaian pertumbuhan ekonomi, penurunan kemiskinan, dan pengangguran Semester I 2026 di Surabaya. (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id).

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memaparkan capaian pertumbuhan ekonomi, penurunan kemiskinan, dan pengangguran Semester I 2026 di Surabaya. (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id).

SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Provinsi Jawa Timur mencatatkan kinerja pembangunan yang positif pada Semester I 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,84 persen, menjadi yang tertinggi di Pulau Jawa sekaligus melampaui rata-rata nasional sebesar 5,45 persen. Pada periode yang sama, angka kemiskinan turun menjadi 9,06 persen, sedangkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurun menjadi 3,42 persen, lebih rendah dibandingkan angka nasional sebesar 4,65 persen.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan capaian tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur tidak hanya tinggi secara statistik, tetapi juga memberikan dampak terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Alhamdulillah, di tengah ketidakpastian dan dinamika global, Jawa Timur mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi tertinggi se-Pulau Jawa dan melampaui capaian nasional. Pada saat yang sama, jumlah penduduk miskin dan pengangguran juga menurun. Ini merupakan hasil kerja keras, sinergi, dan kolaborasi seluruh elemen di Jawa Timur,” ujarnya.

Menurut Khofifah, pencapaian tersebut merupakan hasil sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, dunia industri, perguruan tinggi, akademisi, media, dan masyarakat yang terus menjaga stabilitas sekaligus memperkuat aktivitas ekonomi di Jawa Timur.

Data BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada Triwulan II 2026 secara kumulatif (c-to-c) mencapai 5,84 persen. Angka itu menjadi yang tertinggi di Pulau Jawa dan berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional.

Pertumbuhan tersebut ditopang sektor-sektor produktif yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah. Industri pengolahan memberikan kontribusi terbesar sebesar 31,27 persen, diikuti sektor perdagangan 18,49 persen, serta pertanian 10,87 persen.

Dengan struktur ekonomi tersebut, Jawa Timur tetap menjadi kontributor terbesar kedua terhadap perekonomian Pulau Jawa dengan kontribusi 25,40 persen dan penyumbang terbesar kedua terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sebesar 14,34 persen.

“Capaian ini menjadi bukti bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Timur konsisten melakukan akselerasi aktivitas ekonomi masyarakat. Fondasi ekonomi kita ditopang oleh sektor-sektor produktif yang kuat, mulai dari industri, perdagangan, hingga pertanian,” kata Khofifah.

Lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi berasal dari sektor penyediaan akomodasi dan makan minum yang tumbuh 10,76 persen. Peningkatan tersebut didorong naiknya okupansi hotel dan penginapan selama musim liburan, meningkatnya aktivitas pariwisata, serta menguatnya kinerja jasa boga, termasuk melalui perluasan penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi berasal dari konsumsi pemerintah yang meningkat 19,80 persen. Kenaikan itu dipicu realisasi pembayaran gaji ke-13 aparatur sipil negara (ASN), peningkatan belanja barang dan jasa, serta pelaksanaan berbagai program pelayanan publik.

Khofifah menjelaskan keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari tingginya pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan pertumbuhan tersebut menurunkan angka kemiskinan.

Pada Maret 2026, persentase penduduk miskin Jawa Timur turun menjadi 9,06 persen dari sebelumnya 9,30 persen pada September 2025 atau berkurang 0,24 poin persentase. Penurunan tersebut lebih tinggi dibandingkan capaian nasional yang turun 0,18 poin persentase.

Secara absolut, jumlah penduduk miskin berkurang 92.060 jiwa, dari 3.804.290 jiwa menjadi 3.712.230 jiwa. Capaian itu menempatkan Jawa Timur sebagai provinsi dengan kontribusi penurunan jumlah penduduk miskin terbesar kedua secara nasional.

“Capaian ini menunjukkan bahwa berbagai ikhtiar penanggulangan kemiskinan yang dilakukan secara kolaboratif mulai memberikan hasil nyata. Yang terpenting bukan hanya semakin sedikit masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan, tetapi kualitas hidup masyarakat miskin juga terus membaik,” katanya.

Perbaikan tersebut tercermin dari menurunnya Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dari 1,286 menjadi 1,214 serta Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) dari 0,262 menjadi 0,239.

Khofifah menerangkan penurunan kedua indikator tersebut menunjukkan kesenjangan pengeluaran masyarakat miskin terhadap garis kemiskinan semakin kecil, sekaligus menggambarkan ketimpangan di kelompok masyarakat miskin juga terus menurun.

Penurunan angka kemiskinan terjadi di wilayah perkotaan maupun perdesaan. Di kawasan perkotaan, angka kemiskinan turun dari 6,93 persen menjadi 6,66 persen, sedangkan di wilayah perdesaan turun dari 12,55 persen menjadi 12,38 persen.

“Artinya, bukan hanya jumlah penduduk miskin yang menurun, tetapi kondisi kemiskinannya juga tidak semakin dalam dan tidak semakin parah. Ini menunjukkan bahwa intervensi penanggulangan kemiskinan semakin efektif, inklusif, dan tepat sasaran,” jelasnya.

Pada sektor ketenagakerjaan, Jawa Timur juga mencatat perkembangan positif. Tingkat Pengangguran Terbuka turun menjadi 3,42 persen pada Mei 2026 dari 3,55 persen pada Februari 2026 atau jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional sebesar 4,65 persen.

Jumlah pengangguran berkurang sekitar 26.730 orang menjadi 866,32 ribu orang. Jumlah penduduk bekerja meningkat menjadi 24,46 juta orang atau bertambah 205,53 ribu orang, lebih tinggi dibandingkan pertambahan angkatan kerja sebanyak 179,21 ribu orang.

“Penurunan tingkat pengangguran menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi Jawa Timur terus tumbuh dan mampu menciptakan kesempatan kerja yang lebih luas. Yang menggembirakan, pertambahan penduduk bekerja lebih besar dibandingkan pertambahan angkatan kerja sehingga semakin banyak masyarakat yang terserap ke dalam dunia kerja,” ungkapnya.

Optimisme tersebut juga tercermin dari meningkatnya Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) menjadi 75,14 persen atau naik 0,36 poin persentase dibandingkan Februari 2026.

Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan 7,77 juta pekerja atau 31,77 persen dari total penduduk bekerja. Posisi berikutnya ditempati sektor perdagangan sebesar 18,63 persen dan industri pengolahan 14,64 persen.

Kualitas pekerjaan juga menunjukkan tren membaik. Proporsi pekerja formal meningkat menjadi 36,18 persen, sedangkan tingkat setengah pengangguran dan pekerja paruh waktu mengalami penurunan.

Khofifah mengakui masih terdapat tantangan, terutama tingginya tingkat pengangguran lulusan SMK dan pendidikan tinggi. Pemprov Jawa Timur akan memperkuat keterkaitan pendidikan, pelatihan vokasi, dan kebutuhan dunia usaha, dunia industri, serta dunia kerja melalui peningkatan kompetensi, sertifikasi, program magang, dan kemitraan dengan sektor industri.

Strategi percepatan penurunan kemiskinan juga akan diperkuat melalui pemanfaatan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai dasar penyusunan sasaran program agar setiap intervensi pemerintah semakin presisi, tepat sasaran, dan berdampak nyata.

“Kita tidak boleh cepat berpuas diri. Tantangan ke depan masih sangat dinamis. Karena itu, kita harus terus memperkuat sinergi, menjaga kondusivitas, meningkatkan produktivitas, memperluas kesempatan kerja, serta memastikan pertumbuhan ekonomi memberikan manfaat yang semakin adil dan merata,” tegasnya.

Khofifah menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat, pemerintah kabupaten/kota, dunia usaha, dunia industri, perguruan tinggi, akademisi, media, dan seluruh elemen masyarakat yang terus mendukung pembangunan Jawa Timur.

“Terima kasih kepada seluruh pihak yang terus bersinergi dan berkolaborasi menjaga Jawa Timur tetap kondusif. Dengan kebijakan yang semakin berbasis data dan kolaborasi yang kuat, kami optimistis pertumbuhan ekonomi akan terus terjaga, kemiskinan dan pengangguran semakin menurun, serta kesejahteraan masyarakat Jawa Timur semakin meningkat,” pungkasnya.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Valen DA7 Tepis Soal Asmara, Pilih Fokus Karier dan Produktif Berkarya
Dari Warung hingga Bengkel, BAZNAS Kendal Ubah Zakat Jadi Modal Kemandirian
Gus Fawait Rombak Pejabat Pemkab Jember, Target Percepatan RPJMD Jadi Alasan
Harhubnas 2026, Trans Jatim Gratis Sehari di 8 Koridor, Gubernur Khofifah Ajak Warga Beralih ke Transportasi Publik
Bupati Sidoarjo Tegaskan Inovasi Tak Boleh Berhenti di Ajang Kompetisi
Jalan Kedungbanteng-Wonokerto Pasuruan Kembali Diperbaiki, Lantai Kerja Capai 110 Meter
Wabup Pasuruan Tegaskan Karier ASN Berbasis Kompetensi dan Sistem Merit
Sp4n-Lapor! Bangkalan 100 Persen Ditindaklanjuti, Perangkat Daerah Diminta Disiplin Input Pengaduan

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 11:47

Valen DA7 Tepis Soal Asmara, Pilih Fokus Karier dan Produktif Berkarya

Kamis, 17 September 2026 - 11:42

Dari Warung hingga Bengkel, BAZNAS Kendal Ubah Zakat Jadi Modal Kemandirian

Kamis, 17 September 2026 - 09:14

Gus Fawait Rombak Pejabat Pemkab Jember, Target Percepatan RPJMD Jadi Alasan

Kamis, 17 September 2026 - 09:06

Harhubnas 2026, Trans Jatim Gratis Sehari di 8 Koridor, Gubernur Khofifah Ajak Warga Beralih ke Transportasi Publik

Rabu, 16 September 2026 - 20:40

Bupati Sidoarjo Tegaskan Inovasi Tak Boleh Berhenti di Ajang Kompetisi

Berita Terbaru