SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan data statistik yang akurat, mutakhir, dan kredibel merupakan fondasi utama dalam merumuskan kebijakan pembangunan yang tepat sasaran. Menurutnya, keberadaan Badan Pusat Statistik (BPS) memiliki peran strategis dalam menghadirkan data yang menjadi rujukan berbagai sektor pembangunan nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan Khofifah saat menghadiri Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Evaluasi dan Monitoring Pelaksanaan Lapangan Sensus Ekonomi 2026 di Surabaya, Selasa (28/7) malam. Rakornas yang berlangsung sejak 25 Juli 2026 itu menjadi forum nasional untuk mengevaluasi pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 sekaligus memperkuat sinergi seluruh jajaran BPS di Indonesia.
Di hadapan Kepala BPS RI Amalia Adininggar Widyasanti beserta Kepala BPS provinsi dan kabupaten/kota se-Indonesia, Khofifah menegaskan hampir seluruh kebijakan strategis pemerintah bertumpu pada data statistik yang dihasilkan BPS.
> “Kepada seluruh insan BPS, hari ini tidak ada rapat strategis tanpa pimpinan BPS. BPS ini institusi mainstream, rapat pertanian itu BPS, pembangunan, perumahan infrastruktur, energi hingga kemiskinan butuh BPS. Luar biasa,” ujarnya.
Ia mengatakan, posisi strategis tersebut harus menjadi motivasi bagi seluruh insan BPS untuk terus menjaga kualitas data yang dihasilkan. Sebab, setiap angka statistik yang disusun akan menjadi dasar penyusunan berbagai kebijakan pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah.
“Jadi sebetulnya positioning ini harus menguatkan semangat panjenengan semua insan BPS. Bahwa hari ini negeri ini untuk merancang bangun berbagai program mereka membutuhkan BPS. Ini suara hati yang asli bahwa panjenengan semua saat ini very very important person,” ungkapnya.
Khofifah mengaku memiliki kedekatan panjang dengan data statistik BPS sejak awal berkiprah sebagai anggota DPR RI pada 1992. Ia menuturkan, publikasi BPS telah menjadi salah satu referensi utama dalam menjalankan tugas legislasi, bahkan ketika teknologi digital belum berkembang seperti saat ini.
“Saya punya hutang budi sangat banyak pada BPS. Sejak tahun 1992, saya anggota DPR RI, saya menjadi klien BPS. Hari itu belum ada laptop dan internet, saya minta izin fotokopi data-data dari berbagai buku BPS yang tebal-tebal itu,” katanya.
Menurutnya, data yang akurat dan selalu diperbarui menjadi kompas dalam menyusun perencanaan pembangunan yang berkualitas. Karena itu, keberhasilan pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 memiliki arti penting dalam menghadirkan gambaran perekonomian Indonesia secara utuh.
“Maka betapa pentingnya perencanaan pembangunan dengan akses data yang update. Kompasnya adalah data-data update dari BPS. Oleh karena itu saya sampaikan terima kasih kepada seluruh insan BPS,” ucapnya.
Khofifah juga menyampaikan apresiasi kepada Kepala BPS Provinsi Jawa Timur Herum Fajarwati beserta seluruh jajaran yang terus bekerja menghadirkan data berkualitas di tengah kompleksitas wilayah Jawa Timur.
Ia menjelaskan, Jawa Timur memiliki tantangan tersendiri karena merupakan provinsi dengan jumlah daerah administratif terbanyak di Indonesia, yakni 38 kabupaten dan kota. Karakteristik ekonomi yang sangat beragam turut menjadi tantangan dalam pelaksanaan pendataan ekonomi.
“Saya bisa melihat Ibu Kepala BPS Jatim Herum Fajarwati, bebannya tidak mudah di Jawa Timur. Karena banyak sekali titik usaha tertentu memang tidak tinggal di Surabaya. Saya memahami kesulitan Ibu, tapi saya rasa yang sulit bukan berarti tidak bisa,” jelasnya.
Khofifah menambahkan, aktivitas ekonomi perusahaan besar di Jawa Timur tidak selalu tercatat secara langsung di wilayah tempat produksi berlangsung. Hal itu disebabkan sejumlah perusahaan memiliki kantor pusat atau holding yang berada di Jakarta sehingga membutuhkan ketelitian dalam proses pendataan.
“Jawa Timur ini 38 kabupaten/kota terbanyak. Teritori administratif terbanyak di Indonesia itu di Jatim. Kalau penduduk terbesar di Jabar, kalau ekonomi tertinggi secara skala ekonomi ada di DKI, tapi saya ingin sampaikan lebih mudah kalau DKI karena yang besar itu banyak holding,” terangnya.
Pada kesempatan tersebut, Khofifah juga mengapresiasi BPS RI yang memilih Surabaya sebagai lokasi penyelenggaraan Rakornas Evaluasi dan Monitoring Pelaksanaan Lapangan Sensus Ekonomi 2026. Ia menyebut Surabaya dan Jawa Timur memiliki nilai historis yang kuat dalam membangun semangat kebangsaan Indonesia.
> “Terima kasih bahwa Kepala BPS berkenan menyelenggarakan Rakornas di Surabaya, Kota Pahlawan. Saya rasa beliau ingin memompa semangat itu secara intrinsik. Minum air Surabaya sama dengan minum air dengan kekuatan semangat heroik para pahlawan bangsa dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa,” ujarnya.
Khofifah menambahkan, Jawa Timur juga menjadi bumi lahirnya pemikiran Bhinneka Tunggal Ika yang terus mengajarkan pentingnya harmoni, moderasi, dan toleransi di tengah keberagaman bangsa Indonesia.
Pada forum yang sama, Kepala BPS RI Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026. Menurutnya, kolaborasi pemerintah daerah dengan BPS menjadi faktor penting dalam menghasilkan data statistik yang berkualitas sebagai dasar pembangunan nasional.
“Kehadiran Ibu merupakan kehormatan dan penyemangat bagi kami untuk terus berkolaborasi dengan Pemerintah Daerah dalam menyukseskan Sensus Ekonomi tahun 2026. Jatim ini penyumbang ekonomi terbesar setelah Jakarta, maka mari kita upayakan supaya Sensus Ekonomi bisa memberikan manfaat luar biasa bagi Jawa Timur,” katanya.
Amalia mengungkapkan, hingga saat ini capaian Indeks Kualitas Sensus (IKS) Jawa Timur mencapai 55,81 persen dan menempatkan Jawa Timur pada peringkat kesembilan secara nasional.
Ia menegaskan evaluasi pelaksanaan Sensus Ekonomi terus dilakukan mulai tingkat pusat hingga daerah guna memastikan kualitas data yang dihasilkan benar-benar akurat dan dapat dimanfaatkan sebagai pijakan pembangunan nasional.
“Kita telah melakukan evaluasi pelaksanaan Sensus Ekonomi mulai tingkat pusat hingga daerah. Terima kasih atas kerja keras kepada staf BPS hingga petugas lapangan. Betapa luar biasanya memastikan pendataan ini bisa menghadirkan data yang akurat,” imbuhnya.
Menurut Amalia, manfaat Sensus Ekonomi 2026 tidak hanya menghadirkan gambaran struktur perekonomian Indonesia, tetapi juga menghasilkan peta ekonomi nasional yang menjadi panduan pembangunan ekonomi di berbagai daerah.
“Manfaatnya banyak, selain mendapatkan gambaran struktur perekonomian Indonesia, kita juga menghadirkan peta ekonomi Indonesia dan Jawa Timur. Ini jadi panduan pembangunan ekonomi Jatim dan seluruh Indonesia,” pungkasnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar