SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Pemerintah Provinsi Jawa Timur mempertegas arah pembangunan transportasi publik modern berbasis rel. Hal ini ditandai dengan pertemuan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Duta Besar Jerman untuk Indonesia H.E. Mr. Ralf Beste di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jumat (9/1). Dalam pertemuan tersebut, Khofifah memastikan proyek strategis Surabaya Regional Railway Line (SRRL) akan memasuki tahap ground breaking pada 2027.
Pertemuan perdana antara Khofifah dan Dubes Jerman ini menjadi momentum penguatan kerja sama lintas sektor, mulai dari infrastruktur transportasi publik, kesehatan, hingga pendidikan vokasi. Ketiga sektor tersebut dinilai krusial untuk menjawab tantangan pertumbuhan kawasan metropolitan Surabaya Raya yang semakin kompleks.
Di sektor infrastruktur, Khofifah menyampaikan apresiasi atas dukungan berkelanjutan Pemerintah Jerman dan Uni Eropa yang selama ini berperan penting dalam percepatan pembangunan Jawa Timur. Dukungan tersebut salah satunya diwujudkan melalui KfW Development Bank dalam pengembangan proyek SRRL Fase 1 yang menghubungkan Gubeng–Wonokromo–Sidoarjo.
Menurut Khofifah, persoalan transportasi publik di kawasan aglomerasi Surabaya tidak bisa lagi ditunda. Mobilitas harian masyarakat yang tinggi menuntut sistem angkutan massal yang andal, terjangkau, dan berkelanjutan. SRRL diproyeksikan menjadi solusi struktural untuk mengurai kemacetan sekaligus meningkatkan produktivitas ekonomi wilayah.
“Transportasi publik di kawasan aglomerasi Surabaya harus mendapatkan solusi nyata. Insya Allah proyek SRRL akan memasuki tahap ground breaking pada 2027,” ujar Khofifah.
Ia optimistis keberadaan SRRL akan memberikan dampak langsung bagi masyarakat, terutama pekerja dan pelajar yang setiap hari beraktivitas di Surabaya Raya. Dengan sistem kereta regional yang terintegrasi, waktu tempuh diharapkan lebih singkat, biaya perjalanan lebih efisien, dan kualitas hidup masyarakat meningkat.
Proyek SRRL sendiri telah masuk dalam Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029. Prosesnya telah berjalan sejak 2020 melalui Blue Book Bappenas periode 2020–2024. Puncaknya, pada 30 Juni 2025 dilakukan penandatanganan loan agreement antara Pemprov Jawa Timur dan KfW Development Bank senilai 297 juta euro.
Secara teknis, SRRL akan mendukung elektrifikasi dan pembangunan jalur ganda sepanjang kurang lebih 22 kilometer jalur kereta api di wilayah Surabaya. Jalur ini ditargetkan mampu mengangkut lebih dari 200 ribu penumpang per hari. Dalam dua tahun pertama operasional, proyek ini diperkirakan memberi manfaat langsung bagi lebih dari 1,3 juta penduduk, sekaligus menekan kemacetan jalan dan biaya logistik perkotaan.
Selain infrastruktur, isu lingkungan dan perubahan iklim juga menjadi perhatian dalam pertemuan tersebut. Khofifah menegaskan komitmen Jawa Timur untuk berkontribusi dalam mitigasi global warming dan climate change, yang dampaknya semakin terasa di berbagai daerah.
Sebagai langkah konkret, kerja sama Jawa Timur dan Jerman turut menyasar penguatan sistem pengelolaan sampah. Salah satu proyek yang tengah berproses adalah pengembangan sistem penanganan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Supit Urang, Kota Malang, yang diarahkan lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Di bidang kesehatan, Khofifah mengapresiasi kontribusi teknologi dan alat kesehatan asal Jerman yang selama ini banyak digunakan di fasilitas kesehatan Jawa Timur. Ia berharap kerja sama tersebut dapat ditingkatkan, tidak hanya pada penyediaan teknologi, tetapi juga melalui program mentoring dokter spesialis dari Jerman.
Dengan keberadaan RSUD Dr. Soetomo Surabaya sebagai rumah sakit umum daerah terbesar di Indonesia, Khofifah menilai kolaborasi internasional akan memperkuat posisi rumah sakit tersebut sebagai international hospital rujukan.
“Jika kerja sama teknologi kesehatan diikuti dengan mentoring dokter spesialis dari Jerman, saya yakin peran RSUD Dr. Soetomo sebagai rumah sakit internasional akan semakin kuat dan kualitas layanan kesehatan di Jawa Timur terus meningkat,” tegasnya.
Sektor pendidikan vokasi juga menjadi agenda penting dalam dialog tersebut. Khofifah menilai sistem pendidikan vokasi Jerman sebagai salah satu yang paling maju di dunia. Ia mendorong adanya program short course bagi guru dan siswa Jawa Timur untuk menyerap perspektif industri dan keterampilan teknis yang relevan dengan kebutuhan global.
Tujuan utama dari inisiatif ini adalah mencetak sumber daya manusia yang kompetitif dan siap kerja. Khofifah menegaskan bahwa dunia kerja saat ini lebih membutuhkan keterampilan konkret dibandingkan sekadar ijazah formal.
“Yang dibutuhkan dunia kerja adalah skill, bukan hanya school. Karena itu, penguatan pendidikan vokasi menjadi sangat strategis,” ujarnya.
Menutup pertemuan, Khofifah menyampaikan optimisme bahwa kolaborasi Jawa Timur dan Jerman akan menghasilkan proyek-proyek strategis yang berdampak langsung bagi masyarakat, sejalan dengan tiga pilar utama pembangunan daerah: infrastruktur, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan keberlanjutan lingkungan.
Senada dengan Gubernur Khofifah, Duta Besar Jerman untuk Indonesia H.E. Mr. Ralf Beste menyatakan komitmen penuh untuk mendukung upaya Jawa Timur dalam menghadirkan transportasi publik yang layak dan modern.
“Kami siap mendukung Jawa Timur dan Surabaya sebagai salah satu wilayah dengan pengaruh besar dan berpotensi menjadi game changer di Indonesia,” ujar Ralf Beste.
Ia juga menegaskan bahwa isu perubahan iklim akan tetap menjadi prioritas utama kerja sama ke depan. Ralf Beste mengaku bangga karena Jawa Timur mempercayakan Pemerintah Jerman sebagai mitra strategis dalam mendorong pembangunan yang berkelanjutan.
“Infrastruktur adalah kunci pembangunan yang berdampak langsung bagi masyarakat. Terima kasih atas kepercayaan ini, semoga kerja sama kita memberi manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan,” katanya.
Sementara itu, Head of Cooperation EU Delegation Jerome Pons menjelaskan bahwa Uni Eropa melalui inisiatif Global Gateway berkomitmen memperkuat konektivitas yang cerdas, bersih, dan aman di sektor digital, energi, dan transportasi, sekaligus meningkatkan sistem kesehatan, pendidikan, dan penelitian.
Menurutnya, strategi Global Gateway mengedepankan pendekatan Team Europe dengan melibatkan Uni Eropa, negara-negara anggotanya, serta lembaga keuangan dan pembangunan. Dalam empat tahun terakhir, Uni Eropa telah memobilisasi lebih dari 300 miliar euro untuk investasi sektor publik dan swasta di berbagai negara mitra, termasuk Indonesia.
“Kami ingin menghadirkan investasi infrastruktur berkualitas dengan standar sosial dan lingkungan tertinggi. Jawa Timur menjadi salah satu mitra strategis kami di Indonesia,” pungkasnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin








