Harga Bahan Baku AMDK Melonjak, Industri Terancam Kolaps

Senin, 6 April 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Umum AMDATARA, Karyanto Wibowo , Senin (6/4/2026). (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

Ketua Umum AMDATARA, Karyanto Wibowo , Senin (6/4/2026). (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

JAKARTA, RadarBangsa.co.id – Gejolak global yang dipicu konflik geopolitik berdampak langsung pada industri air minum dalam kemasan (AMDK) di Indonesia. Kenaikan tajam harga bahan baku kemasan, terutama plastik berbasis minyak bumi, kini menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan usaha dan stabilitas harga produk di pasar.

Situasi ini disoroti oleh Asosiasi Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (AMDATARA) pada Senin, 6 April 2026 di Jakarta. Mereka memperingatkan potensi gangguan pasokan air minum aman jika tekanan biaya produksi terus meningkat.

Ketua Umum AMDATARA, Karyanto Wibowo, mengungkapkan bahwa lonjakan harga bahan baku tidak terlepas dari konflik global yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran sejak akhir Februari 2026. Dampaknya, harga minyak mentah dunia melonjak signifikan dari sekitar 67 dolar AS per barel menjadi 98 dolar AS pada pertengahan Maret.

Kenaikan ini turut diikuti lonjakan harga gas alam di kawasan Asia dan Eropa yang meningkat lebih dari 60 persen dalam periode yang sama. Kondisi tersebut secara langsung memicu kenaikan biaya produksi plastik, yang menjadi komponen utama kemasan produk AMDK.

“Lebih dari 99 persen plastik global berasal dari bahan bakar fosil. Jadi ketika harga energi naik, biaya bahan baku kemasan ikut terdorong,” ujar Karyanto dalam keterangan resminya.

Berdasarkan laporan anggota AMDATARA di berbagai daerah, kenaikan harga bahan baku kemasan bahkan telah mencapai hingga 100 persen dalam waktu singkat. Kenaikan tersebut diperkirakan berdampak pada harga kemasan jadi sebesar 25 hingga 50 persen, tergantung skala produksi dan jenis material yang digunakan.

Karyanto menegaskan, tekanan ini bukan sekadar fluktuasi biasa, melainkan telah menjadi masalah struktural yang menggerus daya tahan industri.

“Ini bukan kondisi normal. Kenaikan hingga dua kali lipat jelas memukul industri, terutama pelaku usaha kecil dan menengah yang memiliki keterbatasan stok dan likuiditas,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa jika kondisi ini terus berlanjut, harga jual produk AMDK di pasar berpotensi meningkat. Dampaknya tidak hanya dirasakan industri, tetapi juga masyarakat luas yang bergantung pada akses air minum aman.

Industri AMDK sendiri merupakan salah satu sektor strategis dalam perekonomian nasional. Saat ini terdapat 707 pabrik dengan kapasitas produksi mencapai 47 miliar liter per tahun dan menyerap sekitar 46.000 tenaga kerja langsung.

Selain itu, sektor ini juga menopang jutaan pekerja di rantai distribusi serta berkontribusi besar dalam subsektor makanan dan minuman. Lebih penting lagi, AMDK memiliki peran vital dalam menjaga kesehatan publik melalui penyediaan air minum yang higienis dan aman.

Namun, tekanan biaya produksi berpotensi memicu kenaikan harga produk di tingkat konsumen. Jika tidak diantisipasi, kondisi ini bisa mempersempit akses masyarakat terhadap air minum berkualitas, terutama di wilayah dengan keterbatasan sumber air bersih.

Untuk meredam dampak tersebut, AMDATARA meminta pemerintah segera mengambil langkah konkret sebagai penyangga industri. Usulan yang diajukan antara lain penurunan sementara PPN kemasan dari 11 persen menjadi 8 persen, relaksasi Bea Masuk Anti Dumping (BMAD), serta insentif pajak bagi pelaku UMKM di sektor AMDK.

“Insentif ini bukan bentuk keistimewaan, tetapi upaya menjaga keberlangsungan industri, melindungi tenaga kerja, dan memastikan pasokan air minum tetap terjangkau bagi masyarakat,” pungkas Karyanto.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

PBP Blawi Lamongan Kembali Terima 30 Kg Beras, BULOG Tegaskan Bantuan Harus Utuh
Gus Fawait Siapkan Layanan Kesehatan Baru, Tambang di Jember Didorong Berizin
18.030 Orang Padati CFD Sidoarjo, Fasum Rusak Rp36,6 Juta dan Pungutan Pedagang Disorot
HUT ke-22 DPD RI, Ning Lia Tekankan Pentingnya Mengawal Aspirasi Daerah ke Tingkat Nasional
Pasar Kepulungan Terbakar, Pemkab Pasuruan Siapkan Dana BTT untuk Bangun Lapak Semi Permanen
Hari Kesaktian Pancasila, Bupati Pasuruan Rusdi Tekankan Pentingnya Literasi Sejarah
Hari Kesaktian Pancasila di Sidoarjo, Wabup Mimik Pimpin Upacara di Alun-Alun
Pangdam IV Diponegoro Kobarkan Semangat Kesaktian Pancasila

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 06:58

PBP Blawi Lamongan Kembali Terima 30 Kg Beras, BULOG Tegaskan Bantuan Harus Utuh

Jumat, 2 Oktober 2026 - 06:47

Gus Fawait Siapkan Layanan Kesehatan Baru, Tambang di Jember Didorong Berizin

Jumat, 2 Oktober 2026 - 00:12

18.030 Orang Padati CFD Sidoarjo, Fasum Rusak Rp36,6 Juta dan Pungutan Pedagang Disorot

Kamis, 1 Oktober 2026 - 23:43

HUT ke-22 DPD RI, Ning Lia Tekankan Pentingnya Mengawal Aspirasi Daerah ke Tingkat Nasional

Kamis, 1 Oktober 2026 - 19:14

Hari Kesaktian Pancasila, Bupati Pasuruan Rusdi Tekankan Pentingnya Literasi Sejarah

Berita Terbaru