BANYUWANGI, RadarBangsa.co.id – Angka kemiskinan Kabupaten Banyuwangi pada 2026 turun menjadi 5,6 persen. Capaian tersebut menjadi yang terendah sejak 2004, sekaligus menandai berkurangnya 8.560 penduduk miskin dibandingkan tahun sebelumnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Banyuwangi, persentase kemiskinan pada 2025 tercatat sebesar 6,13 persen. Dalam setahun, angka tersebut turun 0,53 poin persentase.
Kepala BPS Banyuwangi Abdus Salam menjelaskan, jumlah penduduk miskin pada Maret 2026 mencapai 91.570 orang. Penurunan tersebut tidak hanya terlihat dari jumlah penduduk miskin, tetapi juga dari membaiknya indikator kedalaman dan keparahan kemiskinan.
“Penurunan kemiskinan tidak hanya terlihat dari berkurangnya persentase dan jumlah penduduk miskin, tetapi juga diikuti penurunan Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2). Hal ini menunjukkan perbaikan kondisi kemiskinan, baik dari sisi rata-rata kesenjangan pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan maupun ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin,” jelas Abdus Salam, Selasa (3/11/2026).
Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) mengukur rata-rata kesenjangan pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Sementara Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menggambarkan ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin.
Abdus Salam mengatakan, kedua indikator tersebut menjadi bagian penting dalam memahami kondisi kemiskinan secara lebih mendalam agar kebijakan penanganan dapat dirancang secara tepat.
Ia juga mengingatkan bahwa perkembangan kemiskinan dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari pendapatan masyarakat, kesempatan kerja, aktivitas ekonomi hingga perubahan harga kebutuhan pokok.
“Stabilitas harga pangan menjadi salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan karena pengeluaran untuk kebutuhan makanan memiliki porsi yang besar dalam pembentukan garis kemiskinan. Oleh karena itu, upaya menjaga daya beli masyarakat, khususnya kelompok berpendapatan rendah, menjadi sangat penting,” jelasnya.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyebut penurunan angka kemiskinan tersebut merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, termasuk partisipasi masyarakat dalam menjalankan program pengentasan kemiskinan.
Pemkab Banyuwangi menjalankan empat strategi utama. Pertama, mengurangi beban pengeluaran masyarakat miskin dan rentan melalui bantuan sosial serta pemenuhan kebutuhan dasar.
Salah satunya melalui program Banyuwangi Berbagi yang melibatkan aparatur sipil negara (ASN) dan masyarakat untuk menyalurkan sembako serta bahan pangan berprotein kepada warga miskin desil 1 dan 2 secara by name by address.
Program lainnya adalah Rantang Kasih, berupa pemberian makanan bergizi setiap hari bagi lansia miskin yang hidup sebatang kara.
“Ada juga Rantang Kasih, yakni pemberian makanan bergizi setiap hari bagi lansia miskin yang hidup sebatang kara. Selain itu, bantuan sosial dari pemerintah pusat maupun daerah juga terus disalurkan untuk meringankan beban masyarakat,” kata Ipuk.
Strategi kedua dilakukan melalui pemberdayaan ekonomi dan peningkatan pendapatan masyarakat. Pemkab mengembangkan program UMKM Naik Kelas, Warung Naik Kelas (Wenak), pembebasan retribusi pedagang pasar daerah, serta fasilitasi ongkos kirim gratis bagi pelaku UMKM.
Ketiga, pemerintah daerah berupaya memutus rantai kemiskinan antargenerasi melalui peningkatan akses pendidikan dan pemberian beasiswa kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu.
“Mereka kita dorong mendapatkan akses pendidikan yang lebih luas melalui beasiswa. Ada juga program Banyuwangi Ayo Kursus, berupa pelatihan keterampilan gratis dan bantuan alat usaha bagi alumni SMK maupun peserta pelatihan agar bisa berwirausaha,” jelas Ipuk.
Tren penurunan kemiskinan Banyuwangi dalam lima tahun terakhir tercatat konsisten. Persentasenya turun dari 8,07 persen pada 2021 menjadi 7,51 persen pada 2022, kemudian 7,34 persen pada 2023, 6,54 persen pada 2024, 6,13 persen pada 2025, dan mencapai 5,6 persen pada 2026.
Capaian tersebut menjadi indikator perkembangan kondisi kesejahteraan masyarakat. Namun, menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok, memperluas kesempatan kerja, dan memperkuat pemberdayaan ekonomi tetap menjadi bagian penting dalam mempertahankan tren penurunan kemiskinan.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar