Dari Warisan Keluarga, Ida Irawati Kini Punya 2.050 Pohon Kopi di Pasuruan

Rabu, 4 November 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ida Irawati menunjukkan produk kopi organik Idda Kopi di kediamannya di Dusun Gunungsari, Desa Tutur, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, Selasa (3/11/2026). (Dok. RadarBangsa.co.id)

Ida Irawati menunjukkan produk kopi organik Idda Kopi di kediamannya di Dusun Gunungsari, Desa Tutur, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, Selasa (3/11/2026). (Dok. RadarBangsa.co.id)

PASURUAN, RadarBangsa.co.id – Berawal dari kebun kopi warisan keluarga, Ida Irawati berhasil mengembangkan usaha kopi organik di Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Kini, perempuan berusia 53 tahun itu mengelola 2.050 pohon kopi di lahan seluas 34 hektare dengan produksi mencapai 100 kilogram per hari.

Usaha yang dirintis sejak 2015 tersebut berkembang menjadi CV Kopi Cita Rasa Persada pada 2017. Melalui brand Idda Kopi, Ida bersama suaminya, Winarso, memasarkan kopi arabika dan robusta organik ke sejumlah daerah di Indonesia.

Saat ditemui di kediamannya di Dusun Gunungsari, Desa Tutur, Selasa (3/11/2026), Ida menceritakan bagaimana usaha kopi yang awalnya bertumpu pada lahan peninggalan orang tuanya kini berkembang menjadi sumber penghidupan sekaligus usaha produktif.

“Sekarang kurang lebih ada 2.050 pohon kopi di kebun saya. Beberapa di antaranya saya beli dari penghasilan memproduksi kopi premium. Sebagian yang lain adalah celengan waktu dulu,” ungkap Ida.

Dari kebun tersebut, Ida mengembangkan kopi organik yang dipasarkan dalam bentuk bubuk dan roasted bean. Produksinya kini mencapai sekitar 100 kilogram per hari untuk memenuhi pesanan pelanggan dari berbagai wilayah.

Pemasaran Idda Kopi telah menjangkau Sidoarjo, Surabaya, Tulungagung, Mojokerto, Bandung, Temanggung, Banten hingga Kalimantan. Di Kalimantan, produknya bahkan telah dikirim ke Pontianak dan Sampit.

“Kalau di Kalimantan ada Pontianak dan Sampit, alhamdulillah sangat bersyukur dengan pencapaian saat ini,” katanya.

Ida menilai kualitas kopi yang dihasilkan tidak terlepas dari kondisi perkebunan di Kecamatan Tutur. Kopi miliknya ditanam pada ketinggian sekitar 985 meter di atas permukaan laut (mdpl), yang menurutnya turut membentuk karakter rasa dan aroma.

“Yang jelas ini kopi organik, jadi tanpa menggunakan bahan kimia. Rasanya juga mantap dan aromanya kuat, antara sweet, spicy and caramelly,” ungkapnya.

Kedekatan Ida dengan tanaman kopi telah berlangsung sejak kecil. Sebagai warga asli Kecamatan Tutur, ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang juga mengembangkan perkebunan kopi. Lahan milik orang tuanya yang diwariskan kepadanya menjadi titik awal perjalanan usaha tersebut.

Dari sekitar 100 pohon kopi yang masih produktif di lahan warisan, Ida kemudian memperluas perkebunan secara bertahap. Sebagian penghasilannya dari usaha kopi digunakan untuk membeli pohon dan mengembangkan kebun hingga mencapai ribuan tanaman.

Perkembangan usaha itu juga membuka peluang pemasaran yang lebih luas. Ida mengaku pernah mengikuti misi dagang di Pontianak, Kalimantan Barat, dan mengirim produknya ke wilayah tersebut sebanyak dua kali.

“Pokoknya saya sangat bersyukur karena pesanan terus bertambah dan sangat banyak. Bahkan kami diikutkan misi dagang di Pontianak, Kalimantan Barat, dua kali sudah pernah saya kirim,” terangnya.

Kabupaten Pasuruan sendiri memiliki potensi perkebunan kopi arabika dan robusta rakyat yang tersebar di sejumlah kecamatan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), komoditas kopi berada di delapan kecamatan utama, dengan Kecamatan Tutur termasuk salah satu wilayah penghasil terbesar.

Perjalanan Idda Kopi menjadi bagian dari perkembangan usaha kopi rakyat di Kecamatan Tutur. Dari kebun warisan keluarga, Ida membangun usaha pengolahan kopi organik yang kini mampu menjangkau konsumen di berbagai daerah.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Harga Cabai di Bangil dan Pandaan Berbeda, Polres Pasuruan Pantau Stok Pangan
Bangkalan Dorong Anyaman Bambu Jadi Usaha Produktif, 20 Warga Dilatih
Jelang Nataru, Pasar Murah di Paciran Tawarkan Sembako Terjangkau
Sembilan Buyer Filipina Datang ke Banyuwangi, Kopi Specialty Lokal Dibidik untuk Pasar Ekspor
Khofifah Raih Wilwatikta Awards 2026, Soroti Sinergi 38 Kabupaten dan Kota
Sidoarjo Raih Penghargaan Investasi, Subandi Benahi Regulasi dan Tata Ruang
Khofifah Buka Jalan Ekspor 25 UKM Jatim ke Jepang, Potensi Transaksi Rp1,13 Triliun
Modun Ngisor, Cara Senator Cantik Anggota DPD RI Lia Istifhama Dengarkan Aspirasi Pedagang UMKM

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 08:25

Dari Warisan Keluarga, Ida Irawati Kini Punya 2.050 Pohon Kopi di Pasuruan

Selasa, 3 November 2026 - 18:08

Harga Cabai di Bangil dan Pandaan Berbeda, Polres Pasuruan Pantau Stok Pangan

Selasa, 3 November 2026 - 07:00

Bangkalan Dorong Anyaman Bambu Jadi Usaha Produktif, 20 Warga Dilatih

Senin, 2 November 2026 - 12:44

Jelang Nataru, Pasar Murah di Paciran Tawarkan Sembako Terjangkau

Senin, 2 November 2026 - 06:42

Sembilan Buyer Filipina Datang ke Banyuwangi, Kopi Specialty Lokal Dibidik untuk Pasar Ekspor

Berita Terbaru